Sebenarnya, Dhafira masih tak menyangka jika di usianya yang baru saja menginjak 21 tahun ini, statusnya telah berubah menjadi istri dari laki-laki yang belum ia kenal, atas perjodohan yang dilakukan oleh sang ayah. Laki-laki itu bernama Akdas Yazid...
Ada yang masih bangun nggak, nih? Tadinya nggak akan update malem ini karena target vote belum 1k hehe tapi eh ternyata 🥰
Maapin belum sempet balesin komen dan malah update lagi, ya. Hari ini full sok sibuk🤭🙏
Makasih 1k votesnya. Bab ini lagi yaaa😘😘😘 komentarnya seperti biasa❤️❤️❤️
Btw aku publish hidden chapter Adeeva dan Arga di Karyakarsa. Berbayar 5k untuk 3 bab ya. Silakan mampir yang berkenan🙏
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebelum baca, jangan lupa follow aku di sini Agustus29 Instagram : Agustus29_ (aku suka kasih spoiler UM di sini) KBM APP : Agustus29 Karyakarsa : Agustus29 Tiktok : Agustus29_ Dreame / Innovel : Agustus29
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tugasnya masih banyak yang belum selesai?" tanya Akdas pada istrinya yang tampak anteng dengan laptop di depannya.
Dhafira menoleh, lalu mengangguk pelan. Walau matanya sudah terasa sangat lelah, tetapi mau bagaimana lagi? Dia tidak boleh bermalas-malasan jika ingin semua ini cepat selesai.
Akdas yang sedari tadi duduk memperhatikannya pun mengangguk. Usai makan malam yang direcoki Devdas, mereka pun memutuskan untuk pindah ke kamar dan menonton di dalam. Sehingga mau tak mau Devdas pun undur diri. Dhafira yang baru menyadari tentang tugas kuliahnya pun bergegas mengerjakannya. Satu jam telah berlalu, tetapi rupanya pekerjaan Dhafira belum juga selesai.
"Saya ke bawah dulu sebentar, nggak apa-apa, kan?" ujar Akdas.
Dhafira kembali mengangguk, hingga kemudian Akdas pun keluar.
Perempuan itu mengurut pelipisnya seraya membuka buku catatannya, sebelum kemudian melarikan jemarinya di atas keyboard. Ponselnya yang berdenting beberapa kali pun perempuan itu abaikan. Isinya pasti curhatan Alya dan Salwa di grup mereka bertiga.
Bisa Dhafira duga, jika keduanya tengah mengeluh soal tugas kuliah mereka seperti yang sudah-sudah. Diselingi gosipan Salwa atau Alya, yang kemudian akan merambat ke mana-mana. Hingga tengah malam, mereka akan kembali mengeluh tentang tugasnya yang belum dikerjakan. Dan Dhafira hanya akan menjadi penyimak curhatan keduanya di pagi hari.