16. Farel si Penyihir

330 65 16
                                        

Note: Setiap dialog yang menggunakan bahasa daerah akan langsung aku kasih translate di bawahnya.

Banyak terdapat kata-kata kasar.

-

Chandra menepuk pelan pundak Gladys. Perempuan itu tampak melamun sedari tadi, membiarkan televisinya hanya ditonton oleh Chandra seorang.

"Apasih?!" respon Gladys terkejut atas tepukan Chandra.

"Ngelamunnnn kenapaaaa???"

"Lagi mikir. Jangan diganggu."

"Mikiri apa gerang?"

("Mikirin apasih?")

Gladys memutar bola matanya. "Dibilang jangan ganggu."

Chandra memutuskan untuk mengabaikan temannya yang tampak tertekan entah karena apa. Lelaki itu beranjak menuju kulkas rumah Gladys.

"Teh Botol abis, ya?" Belum sampai satu menit, Chandra sudah kembali bersuara.

"DIBILANGIN JANGAN GANGGU."

"Kan betakun ja."

("Kan nanya doang.")

"Kalo gak ada berarti gak ada lah!"

Chandra kembali mengabaikan Gladys. Ia berjalan menuju dapur, mengambil gelas lalu air putih dari dispenser.

"Sudah stres, tambah stres gara-gara cowok," ucap Chandra seraya kembali duduk di samping Gladys. Mata lelaki itu fokus pada televisi yang sedang menayangkan Spongebob.

Gladys melirik kesal Chandra. Merasa perempuan di sebelahnya sedang memperhatikannya, Chandra menoleh.

"Lain manderkan ikam, tapi mun tesinggung ya maap."

("Bukan ngomongin kamu, tapi kalo kesinggung ya maap.")

Gladys menarik napas sebanyak-banyaknya, ditatapnya Chandra yang ia rasa semakin hari semakin memancing emosinya. Dihitungnya satu sampai tiga di dalam hati dan pada hitungan ketiga ia lempar kencang bantal leher yang sedari tadi ada di pangkuannya ke wajah Chandra.

"Njir kekerasan, woy!"

"Kamu bukannya nenangin malah ikut-ikutan bikin emosi, tau, gak?!"

"Bunda jam berapa pulang?"

Gladys melongo ketika mendengar pertanyaan itu. Bukannya merespon perkataan Gladys, lelaki itu malah mempertanyakan hal lain. Emosi Gladys rasanya semakin meluap-luap, wajah perempuan itu memerah karena menahan amarah.

Tidak ada suara dari Gladys membuat Chandra menoleh ke arah perempuan itu. "Astaghfirullah. Minum, anjir. Muka kamu merah banget."

Chandra dengan cepat beranjak mengambilkan Gladys segelas air.

"DIBANDING PENGEN MINUM AKU LEBIH PENGEN NYIRAM KAMU."

"Allahuakbarrrrr. Ini kita berduaan aja di rumah. Jangan teriak-teriak gitu dong, nanti dikira tetangga apaaaaaan."

"BIARIN. BIAR KAMU DIPUKULIN SEKALIAN."

Chandra tiba-tiba tertawa kencang. Masih dengan wajah penuh amarah, Gladys mengernyit.

"Kenapa ketawa, bego???"

"Keinget dulu pas SMP aku pernah hampir digebuk guru bimbel gara-gara gak bawa buku catatan, soalnya masih di tempat fotokopi buat ngeganti buku catatan kamu yang masuk got gara-gara aku. Trus kamu marah balik ke guru itu sampe mau ngebalik meja." Chandra masih saja tertawa di sela-sela ceritanya.

Clouds and SunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang