1

1.1K 74 6
                                        

Dinding berwarna cream berpadu dengan cokelat muda menjadi pemandangannya setiap hari sejak pandemi dimulai. Angin berembus dari balkon apartemennya, sesekali menerbangkan horden yang tidak ia buka untuk menutupi sinar mentari yang bersinar cukup terik di musim panas ini. Yoon Bora. Nama perempuan yang masih mengenakan piyama musim panas itu berbaring di sofa ruang tamunya, menatap plafon sambil memikirkan masa depan yang kini tidak bisa ia bayangkan secara sempurna.

"Kenapa lagi?"

Suara itu membuat Bora mengalihkan tatapan dari plafon ke arah dapur, melihat si empunya suara yang tengah duduk di depan meja makan. Pria itu memangku wajah di sana, di samping sikunya ada gelas berisi air mineral yang tersisa setengah.

"Bosan." Jawab Bora sambil mengerucutkan bibir. "Apa kau tidak merasa bosan dengan kehidupan yang seperti ini?"

"Emm... sedikit?"

Bora merasa sangsi sehingga ia tidak melanjutkan obrolan dengan pria itu. Ia anteng berbaring di sana, menatap plafon dan menikmati angin yang sepoi-sepoi.

"Pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya pria itu dengan suara langkah mendekat. Telinga Bora berjengit, ia membalikkan kepala, menatap pria itu yang kini berdiri di ujung sofa sambil bersidekap.

"Sudah. Kau tahu sendiri, kan? Aku paling tidak suka menunda pekerjaan?"

"Hmm... Tahu." Kata Pria itu tampak sedikit kesal. "Terus? Tidak ada kerjaan lain yang mau kau kerjakan?"

Bora diam sesaat. Ia masih berbaring, sama sekali tidak punya niat untuk menggerakkan badan dan membiarkan pria itu duduk di atas sofa. Lalu matanya yang sempat menatap ke arah lain langsung bergerak ke arah pria itu kembali. "Aku mau liburan."

"Kau sudah berlibur."

Napas Bora terhela. "Ini liburan maksudmu? Kau bercanda, Dino?"

Pria bernama Dino itu mendengus. "Canda."

"Geser!" Titah Dino kemudian, mengipas-ngipaskan telapak tangan, menyuruh Bora untuk menggeser badan--yang tentu saja lebih ke suruhan untuk membuat Bora duduk di sofa agar keduanya muat duduk di sana.

"Kau sendiri? Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Bora sambil menyandarkan tubuh di punggung sofa.

"Bersantai. Kapan lagi aku dapat waktu kosong seperti ini?" Dino bertanya retoris, ia menyeringai--kebiasaannya yang kadang membuat Bora kesal. Wajahnya jadi tampak menyebalkan tapi juga tampan dalam satu kesempatan.

"Huh! Aku kesal. Sampai kapan kita harus hidup seperti ini Dino?"

"Sabar." Kata Dino menenangkan. Ia ikut bersandar di punggung sofa, menatap Bora dengan dua matanya yang sipit nan menawan. "Sabar sedikit saja."

"Sudah setahun lebih, Dino."

"Aku tahu. Memangnya aku tidak menghitungnya?" Tanya Dino retoris membuat Bora memutar kedua bola matanya kesal.

"Kau menyebalkan."

Dino mengerutkan dahi. Ia tampak tidak setuju dengan perkataan Bora yang tiba-tiba dan tidak berdasar. Menyebalkan dari mana? Bahkan daritadi ia berusaha menenangkan Bora yang uring-uringan di ruang tengah.

"Aku? Menyebalkan??"

Bora tidak merespon, membiarkan Dino bertanya retoris sambil menunjuk dirinya sendiri. Pria itu kelihatan kesal sampai rahangnya mengeras.

"Yaa! Yoon Bora!"

"Hm?"

Kedua mata Dino yang sipit makin tak terlihat karena pria itu menatapnya tajam. Ego Dino cukup tinggi dan ia tidak suka disalahkan pada hal yang bukan salahnya. Sedangkan Bora balas menatapnya santai. Ia tahu, Dino bukan tipe manusia yang gampang marah meski cukup sensitif.

"Kau lapar, tidak?" Tanya Bora mengindahkan ekspresi marah pria itu.

"Lapar." Jawab Dino sambil menganggukkan kepala. "Mau makan apa?"

"Aku masak atau pesan delivery?"

"Masak."

Bora tersenyum kecil. "Kau suka masakanku, kan?"

Seakan lupa dengan rasa kesalnya tadi, Dino tersenyum lebar, ia menganggukkan kepala dengan penuh semangat. "Suka! Suka banget!"

"Mau makan apa?" Tanya Bora sambil berjalan ke dapur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mau makan apa?" Tanya Bora sambil berjalan ke dapur. Ia jadi sedikit bersemangat padahal tadinya ia uring-uringan di atas sofa.

"Apapun yang kau mau." Kata Dino mengekor di belakangnya, berniat menonton aksi Bora memasak di dapur. Pria itu suka sekali melihat Bora memasak, terkadang ia juga membantu meski bantuannya tidak diperlukan Bora.

"Kalau aku cuma masak Ramyeon, gimana?"

Dino menganga, ia ingin protes tapi ujung-ujungnya hanya mengangguk. "Oke. Ramyeon nggak apa-apa."

Bora tertawa karenanya. Ia menggelengkan-gelengkan kepala, meraih tempat nasi dari rice cooker dan menumpahkan beras ke dalamnya. Dengan telaten, Bora mencuci beras lalu memasukkan beras yang sudah dicampur dengan air ke dalam rice cooker. Tidak berhenti di situ, Bora juga mengambil tatakan, kemudian berjalan ke kulkas untuk mengambil beberapa jenis sayuran.

"Apa saja, kan?"

"Asalkan enak." Kata Dino dengan tawanya yang menggemaskan. Bora menahan diri untuk tidak tersenyum, tapi gagal.

"Memangnya ada masakanku yang tidak enak?" Tanya Bora setengah bercanda.

Dino berpura-pura sedang berpikir, membuat Bora menggerling tajam kepadanya. Tapi dengan cepat Dino menggelengkan kepala. "Tidak ada. Semuanya enak, kok."

"Iya. Kau sudah bilang berkali-kali."

"Cih... selalu meminta validasi."

"Memang." Aku Bora cekikikan.

Kini Bora memfokuskan pikirannya pada sayur-sayuran di atas talenan. Ia akan memotong sawi putih, daun bawang, bawang bombai serta tahu. Ia juga mengambil daging dari kulkas--mendiamkannya sesaat sebelum memotongnya menjadi lebih kecil untuk dijadikan protein penting dalam Kimchi Jigae-nya.

"Kau harus beli cumi lain kali. Aku suka Cumi Asam Pedas." Kata Dino, anteng berdiri di samping Bora memperhatikan gadis itu mempersiapkan bahan-bahan untuk dimasak.

"Cumi itu salah satu bahan yang susah diolah. Kalau misalnya aku gagal bikin yang enak, gimana?"

Dino berdehem. "Ya, coba lagi sampai bisa."

"Memangnya kau mau menunggu sampai aku bisa?" Tanya Bora sempat menghentikan pergerakan tangannya memotong sawi.

Pria di sampingnya itu diam cukup lama. Bora memang tidak mengharapkan jawaban yang enak untuk didengar jadi aksi diam Dino adalah respon yang baik baginya.

"Nanti dicoba dulu saja, ya." Kata Dino mencoba menenangkan tapi Bora sendiri mengindahkannya. Ia meminta Dino sedikit minggir karena ia ingin mengambil pot untuk merebus air di lemari pantri.

"Kau sendiri... sejak pandemi, kepengen makan apa, Bora?" Tanya Dino kemudian, menghapus keheningan yang sempat tercipta diantaranya dengan Bora.

"Banyak."

"Apa?"

"Samgyeopsal. Makan Samgyeopsal di restoran bersamamu."

Symptom [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang