Bora mendengus, melewati Dino yang tengah bersandar di punggung sofa dengan beberapa kotak paket dalam pelukannya. Bukan hanya satu, tapi 5 kotak paket beraneka macam ukuran. Gadis itu enggan mengotori kamar sehingga ia menaruh kotak itu di atas meja hingga menghalangi TV yang menyala. Dino ingin protes, tapi ia malah fokus dengan kotak-kotak itu.
"Kau beli apa lagi!?"
"Bukan urusanmu." Jawab Bora ketus, ia masih terbawa emosi atas kejadian kemarin. Padahal sebenarnya ia ingin sekali berbaikan dengan Dino. Gengsinya sedang tidak ingin dilukai saat ini.
Dino mendengus. Meski kesal ia tetap beringsut duduk di samping Bora, menatap kotak paket itu dengan penasaran. "Sejak pandemi kau jadi suka belanja." Katanya heran.
"Self-reward."
"Self-reward." Dino mencemooh, mengikuti gaya bicara Bora yang dibalas dengan pukulan pelan oleh Bora pada bahunya.
"Berbelanja pengganti hiburan, Dino. Biasanya, kan, aku menghabiskan uang dengan traveling. Kali ini karena tidak bisa traveling, ya, dengan belanja." Bora menjelaskan setelah tertawa melihat wajah Dino menirunya. Pria itu akhirnya bisa membuat suasana lebih cair.
"Asalkan memang kau butuh barang-barang yang kau beli itu." Kata Dino tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak mencubit pipi Bora sanking gemasnya dengan perempuan itu.
Dan Bora terkekeh. "Tidak janji."
"Tuh, kan..."
"Tuh, kan..." Bora balas menggoda Dino dengan menirunya hingga pria itu merangkulnya erat seakan-akan ingin mencekik lehernya. Keduanya pun tertawa, saling meledek.
"Sesekali, Dino."
"Sesekali setiap bulan sama saja bohong. Lama-lama apartemen ini penuh dengan barang yang kau beli."
"Kalau berguna, ya, tidak apa-apa."
Dino mendecakkan lidah sambil menunjuk beberapa barang di sekitar mereka. "Pigura, pot kosong, lukisan... lampu LED yang tidak dinyalakan... hemm apalagi, ya?"
"Estetika." Bora menurunkan tangan Dino, berkilah atas tuduhan pria itu pada barang-barang yang ia beli selama pandemi merajalela. Sebenarnya ia juga heran mengapa mudah terhasut kecantikan pigura, pot dan lukisan yang dibelinya beberapa waktu lalu itu padahal ia tidak benar-benar butuh. Tapi, ya, lumayan untuk mendekorasi ruang tengahnya sekarang.
"Sesekali tidak apa-apa." Kata Dino sambil menatap Bora di sampingnya. "Kau harus ingat menabung juga, Bora."
"Aku tetap menabung, kok. Aman."
"Yakin?"
Bora menganggukkan kepala. "Saat menerima gaji, aku langsung membaginya untuk tabungan. Langsung ku transfer ke bank khusus tabunganku. Makanya kau tidak perlu khawatir."
"Sebenarnya aku lebih khawatir kalau kegiatanmu ini tidak berhenti. Malah aku takut kau jadi tidak segan menghabiskan banyak uang untuk membeli sesuatu yang diselubungi oleh sebutan self-reward."
"Kalau pun aku membeli sesuatu dengan harga yang mahal, itu pasti sudah ku perhitungkan, Dino. Kau tahu aku bagaimana, kan?"
Mendengar pertanyaan retoris itu membuat Dino menghela napas panjang. Ia tahu, Bora akan selalu mendebatnya. Gadis itu keras kepala. Dino pun tidak bisa berkilah kalau Bora penuh perhitungan, tapi tetap saja kelakuan seseorang akan terus berubah menyesuaikan kebiasaan dan lingkungan yang dihadapinya. Pria itu takut kebiasaan belanja Bora akan terus berlanjut bahkan hingga pandemi usai.
"Barang-barang ini juga membuatku bahagia selama pandemi. Meski suka di rumah, aku juga jenuh, Dino. Menerima paket seperti menerima kado yang selama ini ku tunggu-tunggu."
"Kado, ya, tunggu ulang tahun."
"Ulang tahunku masih lama." Ujar Bora keki. Kedua tangannya mulai bergerak membuka paket menggunakan cutter, melihat isi paketnya dan mencocokkan isi paket dengan apa yang ia beli dari e-commerce.
"Nanti esensi kado saat kau berulang tahun tidak lagi sama, dong."
"Memangnya kado hanya diberi saat berulang tahun? Ada banyak jenis kado, loh. Dan paket-paket ini tetap punya esensi yang berbeda dengan kado ulang tahunku kelak."
Dino mengatupkan mulut. Ia tidak ingin memulai harinya bersama Bora dengan berdebat. Apalagi isi paket Bora lebih jauh menarik untuk dilihat daripada diksusi mereka yang entah akan berakhir baik atau buruk.
"Kau beli bucket hat!? Mau ke mana!?" Seru Dino begitu melihat bucket hat berwarna ungu teronggok dalam kotak paket kecil yang dibuka Bora.
"Ya... nggak harus ke mana-mana untuk membeli bucket hat, kan?" Tanya Bora retoris menahan kesal. Bahkan gadis itu sudah menggerling pada Dino untuk berhenti berkomentar macam-macam tentang kebahagiaannya selama pandemi tersebut.
"Tap--"
"Dino." Bora mendesah. Kedua matanya menatap Dino dengan serius sedangkan cutter ia letakkan di samping paket besar yang ingin dibukanya. "Bisa, nggak, kau apresiasi aku? Jujur, aku pun tidak suka dengan prilaku boros. Tapi keadaan membuatku begini. Apalagi tekanan dari atasanku tidak pernah habis. Ini salah satu hal yang membuatku bahagia sekarang."
Setelah mengungkapkan hal itu, Bora kembali fokus membuka paketnya, membiarkan Dino berpikir sendirian di sampingnya.
Kedua manusia itu tidak salah memang. Dino benar karena tidak ingin melihat Bora menyesal di lain hari dan Bora pun benar karena itu haknya untuk berbahagia. Baik Dino dan Bora pun sadar soal alasan masing-masing.
"Oke. Yang penting kau masih bisa mengontrolnya." Kata Dino kemudian sambil mengacak puncak kepala Bora dengan gemas. Pria itu tersenyum kecil, berusaha memahami meski ia masih ingin protes.
"Ya... aku juga nggak masalah kau menegurku. Tapi jangan berlebihan." Balas Bora membiarkan tangan Dino di atas kepalanya. Ada rasa senang yang membuncah di dadanya, apalagi dengan sikap Dino yang membuat hatinya luluh diam-diam.
"Lukisan? Lagi?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kedua mata Dino terbelalak saat melihat isi kotak paket yang dibuka oleh Bora. Ia tidak percaya kalau Bora membeli lukisan untuk kedua kalinya selama masa pandemi--apalagi kali ini ukurannya cukup besar.
"Hehe... lucu, kan? Aku mau menaruhnya di kamarku." Kata Bora sambil memegang pigura yang memajang lukisan abstrak warna-warni menggunakan kedua tangannya itu.
Dino sudah menggelengkan kepala. Ia heran, tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya. "Wow Bora... kau luar biasa... hebat."
"Memang. Aku artistik, kan?"
Refleks Dino menggelengkan kepala. Pria itu juga menutup mulut menggunakan tangan, seperti ekspresi tidak percaya.