Perasaan yang Ditampik

2.6K 138 4
                                        

Prang!

Melinda dan Cakra terlonjak seketika saat mendengar suara benda pecah dari arah ruang tamu.

Seketika atmosfer berubah tegang. Ada rasa cemas dan gelisah di hati mereka. Walau bagaimana pun entah itu Cakra atau Melinda keduanya sama-sama belum siap bila Danita tahu terlalu dini. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut Cakra barusan bisa dibilang sangat kejam. Melinda yang hanya mendengar saja bisa merasakan sakitnya.

"Mas ...." Dengan wajah panik Melinda menarik tangan Cakra.

"Tenang, Mel. Aku bisa memastikan kalau Danita masih ada di atas. Dia nggak mungkin ada di sini, soalnya Arka lagi rewel." Sebisa mungkin Cakra berusaha terlihat biasa untuk menenangkan Melinda walaupun dalam hati Cakra ketakutan itu ada. Mengingat Danita sedang dalam keadaan hamil saat ini. Meskipun dia memiliki keinginan kuat untuk menceraikan istrinya, tapi rasa empati yang tinggi masih tertinggal di jauh di dasar hatinya. "Tunggu di sini, biar aku periksa," pintanya kemudian.

Melinda mengangguk antusias, saat Cakra mulai berjalan pelan keluar dari kamar. Dada perempuan itu sudah berdegup kencang dengan pikiran yang tak keruan. Tangannya bahwa terasa dingin padahal dia sedang dalam keadaan demam.

Tidak, Melinda benar-benar tak bisa membiarkan Danita tahu kebenarannya sebelum dia memperbaiki apa yang sedang terjadi. Semua belum terlambat. Masih ada kesempatan untuk mereka memperbaiki hubungan.

Suara derap langkah dua orang membuat jantung Melinda nyaris melompat dari rongganya. Cengkeraman kuat di selimut sudah menjelaskan seberapa paniknya perempuan itu sekarang.

"Sorry, Mel. Gue nggak sengaja denger."

Kelegaan luar biasa Melinda rasakan saat melihat Dinilah yang ada di hadapannya sekarang, dengan jejak tangis yang kentara di pipi cubby-nya.

"Gue buru-buru balik karena dikasih tahu Bang Dave kalau lu sakit."

Melinda tersenyum kecil. Dia mengulurkan tangan sebagai isyarat agar Dini menghampirinya.

"Nggak apa-apa, Din. Thanks udah dateng tepat waktu."

***

"Siapa, ya? Muka kakak iparnya si Mel kek nggak asing. Pernah liat di mana, ya?"

Sepanjang jalan menuju unitnya David terus bergumam sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal.

"Terus hubungan mereka apa? Untuk ukuran ipar doang, kok kayak berlebihan aja gitu perhatiannya. Mana ngeliatin gue sinis banget, udah gitu maen usir-usir aja lagi. Dipikir gue ayam?"

Kali ini dia menggerutu sembari sesekali mengacak rambut. "Dahlah, bodo amat. Kenapa juga pusing-pusing gue pikirin. Eh, tapi, kan gue suka sama si Meli walaupun dia bukan tipe gue." David menghentikan langkahnya. "Argh! Tujuan gue dateng ke sono pan buat ngaku. Gagal, deh rencana gue buat nembak si Meli gara-gara tuh cewek sakit, mana si mata empat tiba-tiba dateng lagi."

David sebenarnya masih tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Sejak pertama kali bertemu dengan Melinda dia memang sudah menaruh hati padanya. Secara naluri Melinda memang mempunyai segala hal yang disukai lelaki, mulai dari wajah cantik, tubuh proporsional, serta kulit putih yang bening. Hanya sikap dinginnya seringkali membuat David meragu, tapi di satu sisi juga penasaran tentang segala hal yang ada dalam diri perempuan berusia dua puluh lima tahun itu.

Tentang masa lalunya, tentang alasan mengapa dia menutup diri, tapi di satu sisi malah menyediakan wadah untuk orang-orang yang nyaris frustrasi. Ini aneh juga menarik bagi David. Secara tidak langsung yang lelaki itu sukai dari Melinda adalah sikap misteriusnya.

Terlepas dari itu semua David juga mempunyai gejala demensia, akibat trauma masa lalu. Ingatan jaga panjangnya nyaris hilang dan hanya menyisakan puzzle-puzzle membingungkan yang membuatnya terkadang tiba-tiba mengingat seseorang, tapi lupa kapan dan di mana tepatnya.

Room Service Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang