Cukup lama keheningan panjang memenuhi ruangan. Keterkejutan luar biasa yang ditunjukkan wajah lelaki tampan dengan almamater kedokteran itu tak urung merenda kala David sengaja menyulut emosinya makin berkobar.
"Saat ini Danita sedang dirawat akibat pendarahan pada kehamilan keduanya. Liat, Bang. Perempuan itu aja berhasil move on. Masa lo gini-gini aja. Penyesalan nggak akan mengubah apa pun. Kalau lo terus sembunyi kayak pengecut, selamanya dia bakal mengingat lo sebagai lelaki nggak bertanggung jawab dan paling br*ngsek di duni--"
"Diam, David!" Candra mulai habis kesabaran.
Dibentak seperti itu David bukannya mundur dia malah semakin tertantang.
"Belum lagi kalau Bang Cakra tahu yang sebenarnya. Hubungan kalian yang udah buruk pasti bakal makin buru--"
"Keluar! Keluar lo sialan!"
David akhirnya menyerah. Dia tersenyum kecil sebelum berlalu dari pandangan Candra.
Suara pintu yang dibanding keras terdengar. Candra merobohkan diri di atas kursi kebesarannya. Rasa ingin teriak tapi sadar dia sedang ada di mana sekarang.
Kepalanya serasa akan pecah. Ingatan-ingatan yang mati-matian berusaha dilupakan setelah tiga tahun berlalu tiba-tiba kembali muncul ke permukaan. Tangis putus asa perempuan itu, tamparannya, bahkan kata-kata terakhir bernada ancaman dan balas dendam yang terlontar dan sempat dia anggap sebagai emosi sesaat ... rupanya benar-benar dilakukan perempuan itu. Perempuan yang selama dua tahun dia anggap lemah, lugu, dan berhati lembut. Danita Anandita, mantan kekasihnya.
Candra meremas rambutnya. Mata tajam yang masih awas itu tanpa sengaja menangkap sebuah catatan medis milik Melisa Anandia alias Melinda. Perempuan yang selama ini dia kenal sebagai pemilik jasa Room Service yang sudah dua kali ditidurinya.
Tertera di sana usia kehamilan enam pekan.
"Sial ... kebetulan mengerikan macam apa ini? Jadi, wanita room service itu adiknya Danita?"
***
David kembali ke taman dengan sebotol minuman bersoda di tangan. Sesekali dia tertawa tanpa alasan menertawakan takdir yang begitu mudah mempermainkan kehidupan seseorang.
Kakak yang selama ini dia jadikan panutan ternyata tak lebih dari seorang lelaki bajingan seperti pendahulunya. Sementara dia yang selama ini tak pernah macam-macam selalu saja menjadi bahan perbandingan.
Memang tak mudah menjalani hidup sebagai anak dari wanita kedua ayahnya. Sejak kecil David sudah mendapatkan banyak kecaman meskipun dia terlahir dalam hubungan yang sah. Bukan hanya dari orang luar, bahkan ayahnya saja terkadang membencinya karena David tidak tumbuh seperti yang diharapkan beliau. Apalagi dia menjadi salah satu alasan perpisahan Indra--ayahnya dari istri pertamanya yang tak lain ibu kandung Cakra dan Candra. Hingga kejadian dua puluh lima tahun lalu itu menjadi salah satu peristiwa paling traumatis dalam hidupnya yang menyebabkan David mengidap gejala demensia.
Lelaki itu memicingkan mata saat melihat sosok gadis bertubuh tambun tengah duduk di bangku taman yang semula ditempatinya.
"Oi, Ndut! Ngapain duduk sendirian malem-malem? Terus siapa yang nungguin si Meli di dalem?" tanyanya sembari mendaratkan bokong di samping Dini.
"Dia baru aja istirahat, Bang. Btw lu juga ngapain kelayapan malem-malem? Mana minum soda kek minum amer lagi." Dini meringis melihat tubuh David yang sempoyongan macam orang mabuk.
"Gue bukan mabok soda, Ndut. Tapi mabok kenyataan. Kadang takdir itu lucu, ya?"
Dini terdiam. Walaupun ucapan David kadang memang sering ngelantur. Namun, untuk pernyataan yang barusan Dini menyetujuinya. Takdir memang terkadang lucu, mengejutkan, mempermainkan, bahkan menghancurkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Room Service
FanficMelinda menyediakan jasa pelayanan kamar khusus di sebuah unit apartemen elite di pusat kota. Banyak rahasia yang sudah dia simpan dari para pelanggannya. Mulai dari hal kecil seperti menjelekkan sesama penghuni apartemen, maupun yang datang terang...
