14.Cemburu

22 7 0
                                        

"eh Ver, Lo udah denger new topic belum?"tanya Glen pada Vero yang hendak memetik senar gitar nya
"New topic apaan ?"tanya Vero cuek dan masih terfokus pada gitar nya
Reza dan Glen saling menatap satu sama lain, keduanya merasa sedikit cemas untuk memberitahukan pada sahabatnya tentang apa yang terjadi.

"Kenapa?"
"Syeril sama Rangga jadian"ucap Glen berhati-hati
Vero terdiam, hatinya begitu sesak mendengar apa yang baru saja dilontarkan sahabatnya,
Penantian yang selama ini, mulai terasa sia-sia.
"Ver!" Reza memegang pundak Vero yang masih terkejut, wajahnya sangat datar dan sulit untuk diartikan
"Lo mau kemana?"lanjut nya yang melihat Vero tiba-tiba pergi meninggalkan Reza dan Glen tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Langkah nya terhenti menatap lurus koridor sekolah, melihat Rangga dan Syeril yang kini tengah berjalan, bergandengan tangan.
Terlihat biasa saja, namun mampu menusuk perasaan yang teramat dalam.

Detik selanjutnya, Rangga tampak mendekat kearah Syeril dan,,,,,,,sudah lah Vero tidak mampu lagi melihat semua ini, hatinya benar-benar rapuh.

******

Syeril melangkahkan kakinya, "assalamualaikum"ucapnya seraya mengetuk pintu
"Waalaikumsallam"jawab seseorang yang membukakan pintu
"Tante"sapa Syeril pada Dewi
"Ehhh Syeril, masuk nak"
"Vero nya ada?"tanya Syeril setelah duduk diruang tamu.
"Nah itu, Tante khawatir banget, ini udah malam dan Vero belum pulang dari sekolah juga"
Syeril terdiam, tangan nya meremas erat tali tas yang ia bawa.
Drtttt ponsel Dewi bergetar
"Halo ma"ucap seseorang diserang telfon
Dewi menghela nafasnya seraya tersenyum menatap Syeril,
"Astaga Vero kamu bikin Mama khawatir aja nak, pulang sekolah gak langsung kerumah, ditelfon juga gak aktif"
"Maaf ma, hp Vero mati lupa buat Cass"
"Yaudah kamu pulang yah, ada Syeril nih "
Disisi lain, Vero tampak terkejut menatap kearah Glen dan Reza
"Ngapain dia, suruh pulang aja mah, nanti di cariin sama pacar barunya"ucap nya judes seraya memutuskan telfon nya.

"Lohh, kok dimatiin"
"Kalian lagi berantem yah?"tanya Dewi menebak
Syeril hanya diam tak menjawab
"Nih, non Syeril, bibi udah buat jus alpukat kesukaan non".
Wanita paruh baya itu  baru saja ingin menaru gelas yang berisikan jus alpukat keatas meja, dan tidak sengaja menumpahkannya pada baju Syeril
"Astagfirullah non,maaf bibi gak sengaja"ucapnya khawatir, melihat baju Syeril yang kini benar-benar kotor karja tumpahan jus Alpukat.

Syeril tersenyum  "gak papa Bi"
"Yaampun nak, kamu naik kekamar tante aja dulu buat bersihin baju kamu".
"Ayo nak"lanjut nya.
"Ini kamu pake baju Tante yah, hemm muat gak yah"
"Muat lah, ukuran kita kan sama, Tante badannya masih kaya anak gadis"goda Syeril
"Kamu bisa aja, yaudah Tante keluar bentar yah, kamu ganti baju aja dulu" Syeril hanya mengangguk dan tersenyum.

"Mahh,maafin Vero yah udah buat mama khawaaa"ucapannya terhenti saat melihat Syeril yang baru saja hendak melepaskan baju nya.
Gadis itu langsung menurunkan kembali bajunya menatap tajam kearah Vero yang tampak terkejut.
"Sorry"ucap nya cuek, dan langsung menutup pintu.

"Mahh"panggil Vero seraya menuruni anak tangga
"Kenapa?"jawab Dewi dari arah dapur
"Mama ngapain?"
"Mama lagi nyuci piring"
"Lah bibi mana?"
"Bibi lagi kewarung bentar"
"Eh diatas ada Syeril, udah ketemu?" Tanya nya pada Vero, dan hanya dibalas gelengan saja, tanda bahwa ia belum bertemu Syeril
_boong tuh padahal kan udah ketemu_.

Tok,tok,tok
Syeril merapikan bajunya dan membuka pintu,
"Tante"
"Udah selesai kan?, Tolong panggilin Vero yah, kita makan malam bareng"
Syeril hanya mengangguk paham.
Wanita itu mengetuk pelan pintu kamar Vero
"Ver, dipanggil Tante Dewi makan bareng"
Tak ada respon sama sekali, Syeril memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci,
"Ver Lo dikamar mandi?, Tante Dewi ngajakin makan malam bareng"
"Iya nanti gw nyusul"jawab Vero dari dalam kamar mandi.
Syeril melangkahkan kakinya, tanpa sadar ia menabrak meja belajar Vero dan menjatuhkan buku catatan miliknya.
"Duh, astaga"gumamnya seraya mengambil buku yang tergeletak dilantai.
Syeril Cannebera Zekeisha nama yang tertera di sampul buku milik Vero,
Ia tampak penasaran dengan isinya, lalu membuka halam pertama nya, yang ternyata berisikan Puisi yang Vero tulis untuk Syeril dari saat ia berada di Australia hingga saat dia sudah diIndonesia, semua tentang Syeril telah ia tuliskan didalam satu buku penuh.

To Syeril :
Penantian

"Hembusan angin yang datang, perlahan menyadarkan ku dari lamunan yang terus menghantui dalam pagi hari yang menyapa dengan sendu.
Sebuah penantian yang terus membuatku menunggu dengan kerinduan yang terus menggebu-gebu,
rasa lelah akan suatu penantian,akan pembuktian  untuk perasaan yang kini hadir.
Andai semesta bertanya, untuk fajar yang kian hadir dan untuk senja yang perlahan hilang, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku merindukan mu,dengan sejuta harapan yang selalu kusimpan dalam penantian yang membuatku terdiam dalam kehaluan"

Syeril tersenyum, dan membuka lembaran selanjutnya.

Senja :

"Saat itu aku menunggu kedatangan mu,dengan beribu harapan yang ingin kulepaskan dengan kepergian mu.
Kau tiba ketika piringan matahari perlahan hilang dari cakrawala,dan saat senja mulai menghilang dengan cahaya baru yang perlahan terlihat, disaat itu lah aku akan melepaskan seluruh harapan ku pada semesta".

Syeril sampai pada halaman terakhir dari keseluruhan catatan Vero yang telah ia baca

"Aku mencoba bertahan menguatkan hati untuk bisa melangkah jauh melupakan mu, meninggalkan kenangan yang seharusnya telah terlupakan.

Membuat harapan dan berlari menjauhi masa-masa kelam
Ketika sebuah mimpi telah tercipta namu hilang dengan sekejap mata.

Hati ini bagai berteriak, menangis sedih untuk perasaan yang sangat sulit digambarkan".

"Dia yang selalu hadir akan menghilang saat waktunya telah tiba, dia yang datang membawa hati kini menghilang meninggal kan luka"

"Hangatnya perapian malam mengingatkan ku akan dirimu, terimakasih karna pernah singgah dihati ini,aku tidak akan menyalahkan takdir yang telah memberikan perpisahan pada dua perasaan.
Bersama mu, aku bisa tersenyum dari kesederhanaan yang ada,dan saat ini aku hanya bisa merasakan luka dalam hati yang terus menyebut nama mu dalam doa"

Air mata Syeril mulai menetes, ia merasa bersalah telah menyakiti perasaan Vero, padahal apa yang ia lakukan, semata-mata hanya untuk membantu Vero, karna dia sangat kesal dengan sikap Rangga pada Vero yang sebelum nya telah diceritakan oleh kedua sahabat nya.

FIRST LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang