[S2] Chapter 50 (The End)

7.7K 206 46
                                        

[Play - "You & I" by One Direction]
---

"My wife is my weakness..."
᚜ LEONE ᚛

⚜⚜⚜

4 AM

Langit malam membentang gelap di atas laut Tyrrhenian, hanya diterangi oleh kilauan bintang yang terasa terlalu jauh untuk memberi kedamaian. Leone memandang sebuah pulau dengan penerangan yang tidak begitu banyak. Dalam hatinya merapal doa dan harapan agar Alexa tetap bertahan dan tidak terluka. Leone tidak akan pernah membiarkan Alexa sendirian berada di situasi hidup dan mati. Atau ia akan membenci dirinya sendiri seumur hidup.

"Aku yakin Alexa akan baik-baik saja." Ucap Dante dengan penuh keyakinan, berusaha menghibur. Ia tidak senang melihat sang kakak terdiam selama hampir setengah jam perjalanan. "Jade sudah mengirim koordinatnya padaku juga, beberapa orangku di pulau itu sudah aku kirimkan untuk memantau."

Tidak ada jawaban. Dante kembali diam dan Marcello merangkul pundaknya dengan senyuman. "Semua akan baik-baik saja, kita akan membawa kakak iparmu dengan selamat dan menjaganya selalu. Kita akan berlibur setelah semuanya kembali. Kau suka?"

"Setelah aku membunuh Bratva, aku akan pergi ke Hawai." Dante melipat kedua tangan dengan percaya diri. Ia teringat jika sudah memesan tiket untuk berlibur bersama teman-temannya ke Hawai selama satu minggu. Tentu saja ia tidak boleh mati, masih banyak tempat didunia ini yang ingin ia kunjungi.

"Oh begitu, baiklah. Kau selalu pergi berlibur mendadak dan membuat ayahmu marah." Ucap Marcello. "Anak buahmu selalu menjadi sasaran empuk ayahmu. Sebaiknya jangan terlalu sering bermain. Kau harus mengemban tanggungjawab seperti kakakmu."

Dante memandang sinis saudaranya yang tertawa seperti ini adalah hari-hari biasa. "Aku akan melakukannya, tapi nanti," jawab Dante sembari menepis tangan Marcello dari bahunya.

Angin yang dingin menyapu kabin, namun tidak ada yang terasa lebih dingin daripada keheningan yang menyelimuti kedua orang itu. Pilot menatap layar perangkatnya, memastikan mereka tetap berada di jalur yang benar.

"Pulau Giglio..." gumam Leone tanpa membuka mata. "Apa yang kau ketahui tentang tempat itu?"

Marcello dan Dante saling memandang. Kali ini Marcello menjawab pertanyaan dengan serius. "Hanya pulau kecil di Tuscany, cukup terpencil tetapi tidak sulit dijangkau. Aku yakin Carter memilih tempat itu karena lokasinya yang strategis untuk melarikan diri, namun cukup terbuka untuk memantau siapa pun yang mencoba mendekat. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu sebelum kita datang, jadi aku sudah bersiap setiap kemungkinan."

Dante menimpali. "Aku tidak memiliki gambaran apapun saat ini, aku tidak bisa menebak apakah ini jebakan atau bukan. Aku harap Alexa baik-baik saja."

"Istriku itu sangat cerdas, Bratva tidak akan bisa menandinginya," kata Leone.

Dante menarik napas dalam-dalam. "Kita harus mendarat di sisi utara pulau. Di sana ada area yang lebih tersembunyi, dekat dengan hutan pinus. Dari situ, kita bisa bergerak diam-diam ke bangunan utama. Menurut laporan Jade, Carter telah mengamankan vila tua yang berada di puncak bukit."

Leone mengangguk pelan, otaknya bekerja cepat untuk menyusun rencana. Ia kemudian beralih ke Marcello. "Apakah orang-orangmu sudah mengirim kabar?"

Marcello terdiam sejenak sebelum menjawab. "Mereka mengatakan penjagaannya begitu ketat, tetapi tidak ada tanda-tanda perkelahian sama sekali. Sangat tenang. Hanya ada perputaran penjaga setiap 15 menit. Jadi aku hanya mengirim Rui untuk menyelinap ke vila itu. Aku yakin Alexa ada di sana, kita harus segera mencari. Jika Carter sedang melakukan negosiasi, dia tidak akan membahayakan Alexa-setidaknya untuk saat ini."

The DevilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang