[S2] Chapter 45

8K 311 47
                                        

"The loudest one in the room is the weakest one in the room."
ALEXA

⚜⚜⚜

Alexa berdiri di tepi rooftop, angin malam berbisik di telinga, membingkai rambut panjang yang tergerai sempurna. Ia memandang ke bawah, jalanan perkotaan yang gemerlap dan hening, seolah-olah merasakan beratnya keputusan yang harus diambil. Tanpa banyak bicara, ia mematikan telepon dan menyelipkannya ke dalam saku jaket. Hatinya mulai sedikit berdebar, namun tekadnya yang membara mengalahkan segala keraguannya.

Sosok misterius muncul dari kegelapan, wajahnya yang teduh tercermin di bawah cahaya rembulan. Mata mereka bertemu, dan kata-kata yang tak terucapkan menyelimuti udara sekitarnya sejenak.

"Alexa," ucap sosok itu dengan suara lembut, "kau tahu bahwa tidak ada jalan kembali setelah ini."

Alexa hanya tersenyum tenang. "Aku telah bersiap untuk segala kemungkinan. Perang tidak akan berakhir, tetapi setidaknya kita bisa menghindari itu untuk saat ini."

Sosok itu mengangguk mengerti. Ia tidak memberikan argumen apapun. "Kau mengorbankan dirimu sekarang untuk dirimu dimasa depan. Aku tidak pernah menemui wanita sepertimu, kau sangat tegar."

Mereka menatap langit di mana malam dan pagi saling bertemu. Sosok itu melanjutkan, "Pengkhianatan bisa menjadi perumpamaan bagi pengorbanan." Ia tersenyum sesaat. "Bukankah menarik? Ketika matahari merunduk, ia memberikan cahayanya untuk membiarkan malam berkuasa. Begitu pula dengan manusia, ketika mereka mengorbankan sesuatu, mereka memberikan cahaya pada kebenaran yang tersembunyi."

Alexa menarik nafas dalam-dalam, mencoba mencerna kata-kata itu. "Aku melakukan ini untuk melindungi orang-orang yang aku sayang. Meski aku merasa telah mengkhianati kepercayaan mereka dengan bekerja sama denganmu, tapi aku yakin ini adalah keputusan yang tepat. Ini adalah bukti kesetianku pada Leone."

"Pada Leone?" Sosok misterius itu berdecak dan tersenyum pahit. "Kesetiaan adalah tentang kemampuan untuk bangkit kembali setelah jatuh. Dalam pengorbananmu ini, kau menunjukkan kesetiaan pada dirimu sendiri. Kau memilih untuk mengikuti kata hatimu, meskipun itu berarti meninggalkan yang lain."

Mata Alexa berubah gelap, ia tidak senang dengan apa yang ia dengar. "Aku tidak meninggalkan siapapun. Aku melindungi mereka," ucapnya dengan penuh penekanan.

"Alexa, kau mungkin melanggar janji pada mereka, namun kau juga membuat janji pada dirimu sendiri untuk hidup sesuai dengan keyakinanmu." Ia tersenyum, "aku suka itu."

Alexa kembali menatap bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, dengan beberapa lampu menyala di banyak jendela yang terlihat. "Aku harus melakukannya," ucapnya pelan. "Aku tidak melanggar janji pada siapapun, aku hanya menepatinya dengan cara yang tidak mereka pikirkan."

Sosok misterius itu mengangkat tangannya dan mencengkeram bahu Alexa, lalu menyentuh pipinya dengan lembut. "Lindungi bayimu dan kembalilah dengan selamat. Aku akan selalu ada dibelakangmu. Apapun yang terjadi kau harus tetap hidup, aku ingin melihat keponakanku mewarisi tahta."

Alexa terdiam, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam relung hatinya. Matanya memandang ke langit yang seakan memberikan petunjuk yang tersembunyi di balik gemerlap malam berbintang. Lantas ia menyadari jika keputusannya adalah yang terbaik bagi semua orang. Ia mengangguk yakin pada lawan bicaranya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya.

⚜⚜⚜

Alexa berjalan sendirian di lorong-lorong gelap yang dipenuhi oleh bayangan bangunan pencakar langit. Angin malam membawa aroma asap dan kelembutan embun, menciptakan atmosfer yang mencekam. Di ujung lorong, ia melihat sosok tinggi dan berwibawa yang berdiri di depan sebuah pintu besi.

The DevilTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang