[FOLLOW SEBELUM BACA KARENA SEBAGIAN CERITA DI PRIVATE]
RECOBRA CHRONICLES BOOK 1
•••
Perjanjian sumpah darah dari masa lalu menyatukan Alexa dan Leone dalam sebuah ikatan pernikahan. Tidak ada jalan lain bagi Alexa selain kematian jika ia ingin kel...
"Hewears the smell of blood and death like a perfume." ᚜ ALEXA ᚛
⚜⚜⚜
Leone duduk sembari membaca baris demi baris dengan mata berbinar. Akan tetapi setelah sampai pada kalimat terakhir, binar mata itu perlahan menghilang. Ia segera mengambil pemantik dari saku kanan celananya dan mulai menyalakan api untuk membakar kertas yang ia genggam. Ia tak berkedip kala kobaran api membakar habis surat yang ditulis Alexa dengan penuh cinta.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seseorang mengetuk pintu saat surat di tangan Leone telah berubah menjadi abu dan mengotori lantai kayu di bawah sepatunya. Frances masuk bersama dua pria berbadan tegap yang menyeret seorang wanita dengan penuh luka dibagian lengan dan kakinya. Wanita itu benar-benar seperti ditimpa kemalangan besar.
"Karina Sergeeva."
Leone berjalan dan mendekati wanita dengan gaun pernikahan sederhana yang berlumuran darah itu. Dengan kedua tangan di saku, sorot mata Leone mengisyaratkan kematian untuk orang yang ada di hadapannya saat ini. "Berani sekali kau mengadakan pernikahan tanpa mengundangku," ucapnya.
Rintihan rasa sakit terdengar jelas saat Leone berhadapan dengan Karina. Karina menatap pria tinggi dengan jas hitam itu dengan penuh kebencian, ia tampak ingin menusukkan pisau ke kedua mata Leone. Sayangnya ia hanyalah seorang wanita tak berdaya saat ini. Pengampunan Leone menjadi satu-satunya jalan agar ia bisa keluar dari ruangan itu hidup-hidup.
"Aku tidak mengundang seorang keparat!"
Deru napas karina menunjukkan jika ia benar-benar kelelahan dan bergelut dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia melirik Frances yang menahan tawa saat melihatnya tersiksa. "Gila," gumam Karina lirih.
"Kalau begitu seharusnya calon suamimu juga tidak hadir, dia benar-benar seorang keparat."
Karina terdiam karena kepalanya mulai terasa berat. Frances mengajukan pertanyaan lain, namun ia tidak bisa mendengar pertanyaan pria itu dengan jelas. Pandangannya mulai memudar dan ia hanya bisa memandang gaun putih impiannya rusak dan terdapat banyak bercak merah.
Leone menarik dagu Karina karena wanita itu terus menghindari tatapannya. "Kau benar-benar tidak punya etika, Nona Sergeeva. Mengalihkan pandangan saat temanmu berbicara adalah hal yang sangat tidak sopan."
Wanita yang masih berdiri dengan bantuan dua anak buah Frances itu mulai kehilangan kesabarannya, tetapi kesadarannya kembali utuh. Sudut bibir merah merona naik saat kedua mata bertatapan dengan pria yang paling ia hindari selama hidupnya.
"Teman?" Ia berdecak heran dan meludahi sepatu Leone dengan keberanian yang tersisa. "Apakah ada teman yang membunuh keluarga temannya?"