6: Surreptitious

775 111 8
                                        

Surreptitious

sur·​rep·​ti·​tious | sər-əp-ˈti-shəs

(adj.) done secretly, without anyone seeing or knowing

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa jam kemudian...

Tsukishima mengetuk pintu rumah Yamaguchi dengan gusar. Sudah hampir 30 menit ia berdiri di depan rumah sahabatnya dan selama itulah laki-laki itu tidak kunjung membukakan pintu untuknya.

Tidak biasanya seperti ini.

Ia mulai merasa cemas dengan keadaan sahabatnya. Mau tak mau, ia harus menggunakan kunci cadangan yang diberikan oleh ibu Yamaguchi untuk memasuki rumah.

Ia pikir, Yamaguchi belum tiba di rumahnya atau mungkin ia sedang bermain ke rumah Hitoka Yachi. Sepertinya, ia salah. Kedua sepatu Yamaguchi terletak di depan pintu dengan berantakan, menandakan kehadiran sangat pemilik rumah.

"Yamaguchi, kau ada di dalam?"

Tsukishima baru saja mengantar seorang teman perempuan pulang dan membuat sahabatnya harus pulang sendirian. Jelas, ia mengkhawatirkannya. Ia mungkin tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini, jika ia tidak memastikan bahwa Yamaguchi Tadashi baik-baik saja.

Ia mengetuk pintu kamar Yamaguchi, setelah yakin bahwa semua ruangan lainnya kosong. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk pintu lagi, memanggil-manggil laki-laki itu lagi.

"Yamaguchi? Kau ada di dalam kamar, ya?"

Tepat setelah itu, pintu di hadapannya terbuka. Matanya langsung menangkap sosok laki-laki manis yang berwajah pucat dan terlihat sangat kelelahan. Yamaguchi tidak menatap ke arah matanya dan hanya diam mematung. Namun, Tsukishima cukup jeli untuk menemukan beberapa bekas luka baru di wajah laki-laki itu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Tsukishima perlahan dan berhati-hati.

Yamaguchi tetap menutup mulutnya, tapi ia terlihat seperti sedang menahan tangisnya. Tsukishima tidak perlu jawaban apa pun. Ia paham hanya dengan melihat kondisi sahabatnya itu. Semuanya terlihat jelas dari beberapa luka baru yang di tubuh kurusnya. Maka, ia langsung menarik laki-laki itu masuk ke dalam pelukannya.

"Maaf..." bisik Tsukishima di telinga laki-laki itu, merasa bersalah telah membuat Yamaguchi pulang sendirian. "Maafkan aku." Ia melepaskan pelukannya dan mata Yamaguchi yang menatapnya kosong dan ia berujar pelan, "Aku akan mengobati lukamu."

Yamaguchi tidak banyak bereaksi. Ia melepaskan dirinya dari Tsukishima, lalu masuk ke dalam kamarnya. Duduk di atas tempat tidurnya di dalam kamarnya yang gelap. Tsukishima mengambil kotak P3K, kemudian menyusul sahabatnya itu. Ia duduk di dekat Yamaguchi.

"Apa Miyazaki yang melakukannya?" Pertanyaan bodoh. Tsukishima sudah tahu jawabannya, kenapa ia bertanya lagi?

"Aku tidak mau membicarakannya," jawab Yamaguchi dengan datar dan lesu.

"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu atau semacamnya." Tsukishima mengacak pelan rambut Yamaguchi, tapi menyalurkan kasih sayangnya di sana. "Maaf juga, aku seharusnya menemanimu."

Yamaguchi menggelengkan kepalanya. Tsukishima selesai mengobati luka-lukanya dan ia berniat untuk memasak makanan untuk Yamaguchi, tapi mengurungkan niatnya begitu melihat Yamaguchi yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya.

"Kau mau tidur?" tanya Tsukishima pelan. "Tidak mau makan dulu?"

"Tidak mau. Aku tidak lapar," sahut Yamaguchi.

Tsukishima menghela napas panjang. Walau sahabatnya itu tidak mau makan, tapi ia ingin memasak. Setidaknya, Yamaguchi bisa memakannya nanti, ketika ia ingin. Lagipula, sahabatnya itu harus banyak makan. Tsukishima tidak begitu menyukai pemandangan sahabatnya yang semakin kurus setiap harinya.

ORPHEUS [Tsukiyama]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang