Eleutheromania
Ell-thera-mania || eleuthero-ma-nia
(n.) A great desire for or obsession with freedom
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tsukishima terbangun di pagi harinya dan ia tidak bermimpi buruk sama sekali, bahkan ia merasa tidurnya jauh lebih lama dari biasanya. Kepalanya juga terasa ringan. Seperti ada sesuatu yang damai dan menenangkan yang membuatnya tidurnya menjadi nyenyak kali ini. Ia menyingkirkan selimut yang berada di atas tubuhnya dan bertanya-tanya mengenai datangnya selimut itu. Ia tidak ingat pernah mengambil selimut itu sebelumnya, tapi tidak terlalu memusingkannya. Mungkin, ia lupa sudah mengambilnya.
Ia melirik ke arah kamar Yamaguchi dan melihat pintu itu masih tertutup rapat. Yamaguchi bahkan tidak keluar sama sekali dari kamarnya. Ia menyentuh gagang pintu itu, tapi tidak berani membukanya. Ia tidak bisa masuk ke dalam sana, jika Yamaguchi tidak mengizinkannya. Ia akhirnya melepaskan genggamannya. Tsukishima tidak ingin mengganggu Yamaguchi dan akan memberikan waktu kepadanya untuk menenangkan diri.
Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke dapur. Tangannya dengan telaten membuat sarapan untuk Yamaguchi. Tsukishima menggoreng beberapa kentang dan membuat beberapa onigiri, tidak lupa dengan segelas air putih dan susu kotak. Tsukishima membawa nampan berisi makanan tersebut ke depan pintu kamar Yamaguchi.
"Yamaguchi, aku membuat sarapan," panggil Tsukishima sembari mengetuk perlahan pintunya. "Jangan lupa dimakan makanannya." Ia terdiam sebentar, sebelum akhirnya berbisik dengan suara lirih, "Aku merindukanmu."
Tsukishima mengambil tasnya di ruang tamu, lalu sedikit melirik ke arah dalam rumah. "Aku pergi dulu, Yamaguchi," bisiknya. "Aku akan datang lagi nanti, Yamaguchi."
Tsukishima pulang ke rumahnya untuk mengganti pakaiannya. Ia tidak sarapan banyak, hanya memakan sebuah roti dan meminum susu kotak. Ia menghela napas panjang. Yamaguchi pasti tidak masuk ke sekolah hari ini. Sudah memasuki hari ke-3, dan Tsukishima masih tidak memiliki satu kesempatan pun untuk berbicara dengan sahabatnya itu.
Ia menjalani rutinitas hariannya yang semakin membosankan setiap harinya, tanpa kehadiran Yamaguchi. Ia juga jauh lebih sedikit berbicara akhir-akhir ini, tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Bahkan, ketika ia melihat kebodohan rekan-rekan timnya, ia tidak merasa ingin menertawai mereka. Ia tidak pernah bisa tertawa, tanpa kehadiran Yamaguchi di sisinya.
"Kei! Kei! Tunggu aku!"
Satu lagi hal yang akhir-akhir selalu merusak suasana hatinya. Gadis itu, Aoi Tachibana, terus-terusan mengganggunya hampir setiap hari. Selalu saja mencoba mencegahnya untuk berdamai dengan Yamaguchi. Serius, ia benar-benar menyesal telah memilih untuk menjalin hubungan dengan gadis ini. Sekarang ia ingin berhenti berhubungan dengan gadis itu.
"Apa?" Tsukishima bertanya kepada gadis yang mengejarnya di depan ruang klub itu dengan dingin. Matanya menatap tidak suka ke arahnya, sangat terganggu dengan kehadirannya.
"Kau tidak menjawab panggilanku tadi malam." Gadis itu memiringkan kepalanya dan bertanya, "Apa kau pergi ke rumah dia lagi?"
Tsukishima membuang muka. "Itu bukan urusanmu."
Gadis itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Sikap kekasihnya semakin hari menjadi dingin terhadapnya, semenjak tidak ada Yamaguchi. Sebenarnya, Aoi hanya khawatir terhadap kekasihnya.
Gadis itu hendak berbicara lagi, tapi Tsukishima sudah terlebih dahulu berbicara lagi, "Kita putus saja."
Aoi terkejut, tidak menyangka ucapan seperti itu akan keluar dari mulut Tsukishima. "Kei, apa maksudmu!?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ORPHEUS [Tsukiyama]
FanfictionYamaguchi Tadashi mungkin memang dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki pengecut. Takdir mempertemukannya dengan Tsukishima Kei di waktu yang tepat. Walau ia memiliki Tsukishima Kei di sisinya, tidak semua dalam kehidupannya selalu berjalan denga...
![ORPHEUS [Tsukiyama]](https://img.wattpad.com/cover/274363071-64-k215846.jpg)