Halo, readers. Senang bertemu dengan kalian di cerita ini. Author ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua para readers, yang vote, dan yang komen. Author minta maaf, jika cerita yang author tulis kali ini masih banyak kekurangan sehingga hasilnya masih kurang memuaskan. Author juga minta maaf, jika cerita ini mungkin menyinggung beberapa orang, membuat tidak nyaman, alur yang membosankan, atau jalan cerita kurang mudah untuk dipahami. Author akan mempertimbangkan untuk merevisi kembali cerita ini ke depannya.
Cerita ini merupakan ide original milik author dengan mengangkat beberapa isu sosial yang cukup umum terjadi. Mulai dari bullying, depresi, trauma, hingga suicide. Walau begitu, apa pun yang terjadi di dalam cerita ini bukanlah hal yang pantas untuk ditiru. Ditambah lagi, hal ini juga bukan merupakan hal yang pantas untuk dijadikan bahan bercandaan.
Mengingat isu-isu semacam ini cukup sering terjadi, author berharap agar para readers menjadi lebih aware terhadap masalah ini. Apalagi, di kondisi seperti ini, hal-hal semacam ini bisa terjadi di mana saja, bisa melalui sosial media, verbal, atau fisik.
Bullying bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan, karena dapat menimbulkan efek trauma dan depresi kepada para korban. Suicide juga bukan hal yang bagus untuk dilakukan, mengingat hal ini tidak akan menyelesaikan masalah, tapi malah menimbulkan masalah baru. Suicide yang dilakukan satu orang dapat menimbulkan copycat suicide atau peniruan suicide yang dilakukan oleh orang-orang terdekat korban.
Karena itu, apa pun yang terjadi, para readers diharapkan menjadi lebih aware mengenai isu seperti ini. Kita bisa melaporkan kejadian bullying (terutama melalui sosial media) yang dirasa sudah cukup melewati batas dengan melaporkan ke pihak berwenang. Namun, kita tidak boleh takut kepada orang yang membully kita. Selain itu, kita bisa menjadi pendengar dan memberi dukungan kepada orang-orang yang memiliki trauma atau depresi. Terkadang, mereka hanya ingin didengarkan dan dimengerti. Hal yang sama juga berlaku kepada orang-orang yang memiliki tendensi untuk melakukan suicide, karena pemikiran seperti ini umumnya dikarenakan perasaan stress dan depresi yang dialami oleh korban. Cara lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan menghubungi layanan konsultasi, seperti psikolog.
Author menulis pesan ini, tanpa ada maksud untuk menggurui siapa pun. Tulisan ini ditulis untuk mencegah adanya hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi, karena "terinspirasi". Mencegah lebih baik, daripada mengobati.
Bagi para readers yang membaca part ini, author berharap agar kalian tetap baik-baik saja di situasi seperti ini. Kalian harus tetap semangat dan menjaga kesehatan! Kalian hebat, bisa bertahan hingga detik ini di dunia yang kondisinya semakin buruk ini. :)
Tetap semangat untuk para pelajar dan orang-orang yang sudah bekerja, baik secara offline atau online. Jaga kesehatan, terapkan proses, ikut vaksinasi, dan tetap bahagia. Terima kasih telah membaca tulisan ini dan mendukung projek author. God bless y'all! See ya!
-Author-
KAMU SEDANG MEMBACA
ORPHEUS [Tsukiyama]
FanficYamaguchi Tadashi mungkin memang dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki pengecut. Takdir mempertemukannya dengan Tsukishima Kei di waktu yang tepat. Walau ia memiliki Tsukishima Kei di sisinya, tidak semua dalam kehidupannya selalu berjalan denga...
![ORPHEUS [Tsukiyama]](https://img.wattpad.com/cover/274363071-64-k215846.jpg)