Happy reading
*******************************************
Langit malam yang gelap menyelimuti kota, Aretha merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar. Ponselnya bergetar lagi, membuatnya mendesah panjang.
Notifikasi yang terus berdatangan mengganggu pikirannya sejak ia berpisah dengan Arabelle. Ia meraih ponsel di atas kabinet dengan malas, membuka layar dan saat melihat nama pengirim pesan itu, alisnya mengernyit: Farrel.
"Ugh, anak sialan ini mengganggu saja," gumamnya setelah membaca isi pesan yang singkat itu tapi cukup membuat darahnya berdesir.
Aretha mendengus kesal, melempar ponselnya ke samping, dia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya yang mulai terpecah oleh ingatan pertemuan mereka.
* * *
Aretha's POV
Hari itu, di saat jam istirahat kedua, aku sedang berjalan cepat menuju gerbang belakang sekolah setelah istirahat makan siang bersama Risa dan Enza.
Sekolah ini benar-benar sangat ketat, hanya karena ingin pergi mencari makan siang di luar sekolah saja, aku sampai harus mengendap-endap—seperti tahanan yang ingin kabur dari penjara—untuk bisa melewati gerbang sekolah. Untungnya gerbang bagian belakang tidak dijaga terlalu ketat, sehingga bisa membuatku sedikit lebih leluasa keluar-masuk.
Aku melangkah dengan hati-hati, saat mulai dekat dengan gerbang belakang sekolah, memastikan tidak ada guru atau petugas OSIS yang berkeliaran. Langkahku tertahan begitu telingaku tak sengaja mendengar suara familier yang samar dari di sudut gang yang akan aku lewati.
Aku menajamkan pendengaran, dan melangkah lebih dekat ke arah asal suara itu, rasa ingin tahu mengalahkan insting untuk segera kembali ke kelas saat itu. Mataku menangkap sosok Farrel berdiri dengan sikap santai, dikelilingi oleh dua temannya. Di depannya, ada beberapa anak SMP seumuran Risa dan Enza yang terlihat mencurigakan menyerahkan sesuatu yang tampak seperti amplop cokelat.
Jantungku berdebar cepat. Transaksi ilegal ? pikirku. Ini seperti adegan yang sering kulihat di film-film kriminal. Tapi di sekolah? Benar-benar gila.
Namun, sebelum aku sempat melangkah mundur dan pergi, punggungku tertahan oleh tubuh besar yang menghalangi jalan di belakangku. "Wow, siapa yang kita temukan di sini ?" ujar pria asing itu mencondongkan tubuhnya padaku. "Apa kau sedang mencari sesuatu, Nona kecil ?"
Seketika tubuhku membeku kaku, tak tahu harus menjawabnya bagaimana ataupun berbuat apa. Dengan langkah berat, aku mengambil jarak mundur dari pria asing itu.
"Sayang, sudah kubilang untuk menunggu, kan ? kau ini tidak sabaran sekali." Farrel tiba-tiba menarik tanganku menjauh dari pria asing itu, dan melingkarkan lengannya di bahuku.
"Dia pacarmu, Raffael ?" tanya Pria asing itu dengan mengerutkan keningnya curiga.
"Hmm, iya. Jadi menyingkirlah darinya," jawab Farrel dengan suara rendah dan penuh ancaman, matanya melirik tajam ke arah pria tersebut.
"Haha... tenang, kawan. Aku tidak akan mengambilnya darimu," ujar pria itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Tapi jika kau tidak keberatan, bagaimana kalau kita mengajaknya bergabung bersama-."
"Kau terlalu ikut campur untuk seorang anak baru, ya." Aku melihat Farrel membentuk seringai menyeramkan di sudut bibirnya saat dia memotong perkataan pria itu. "Biar aku urus dia, kalian bereskan saja sisanya."
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajaknya bermain bersama." Pria asing itu bersenandung seakan mendengus kecewa, sebelum meninggalkan kami dan bergabung dengan dua teman Farrel lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystery / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
