Happy reading guys ^_^
**********************************
Langit mulai berwarna jingga kemerahan ketika Aretha akhirnya tiba di titik kumpul. Suasana basecamp yang seharusnya riuh dengan canda dan cerita perjalanan, justru dipenuhi oleh gemuruh suara yang tegang. Para siswa berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil, wajah-wajah mereka tercoreng keringat dan debu, sementara beberapa guru berlarian dengan walkie-talkie di tangan, suara mereka berdesakan mencoba berkoordinasi.
Aretha berdiri di pinggir keramaian, sedikit bingung. Napasnya masih terengah dari perjalanan turun bukit. Sebelum dia sempat mencari teman kelompoknya, telinganya menangkap potongan percakapan dari pengeras suara guru.
"...kami ulangi, untuk Arya kelompok 7, Tristan kelompok 3, dan Aretha kelompok 3, segera laporkan diri! I repeat..."
Namanya. Mereka memanggil namanya.
"Hei, Aretha! Kau sudah kembali!"
Seorang anggota kelompoknya, Rendra, mendekat dengan langkah cepat. Wajahnya lega. Dia melambai pada guru penanggung jawab di kejauhan. "Pak! Aretha dari kelompok 3 sudah balik!"
Guru itu mengangguk singkat sambil terus berbicara ke walkie-talkienya, lalu kembali memusatkan perhatian pada peta yang dibentangkan di atas meja darurat.
"Ada apa, Dra? Kenapa semuanya panik seperti ini?" tanya Aretha, rasa tidak enak mulai menggelayuti dadanya.
"Permainan dihentikan mendadak," jelas Rendra, menurunkan ransel dari punggungnya. "Ada laporan cuaca buruk akan datang lebih cepat. Tapi yang bikin para guru kalang kabut..." Dia menurunkan suaranya, "Masih banyak anak yang belum kembali, termasuk beberapa dari kelompok kita."
Jantung Aretha berdebar kencang. "Siapa?"
"Arabelle," jawab Ketua Kelompok mereka, Dimas, yang tiba-tiba muncul di samping mereka. "Dan Tristan. Aku lihat mereka berdua naik ke bukit lewat jalur timur." Matanya menatap Aretha penuh tanya. "Ngomong-ngomong, Aretha, kau tadi juga lewat jalur bukit timur, kan? Apa kau tidak melihat salah satu dari mereka?"
Dia menarik napas dalam-dalam, memaksakan suaranya terdatar mungkin. "Aku tidak tahu," ujarnya, menghindari tatapan Rendra. "Kami... sempat bertemu sebentar di dekat cekungan batu. Tapi kemudian kami berpisah. Aku tidak melihatnya setelah itu, atau Tristan."
Dimas memandangnya skeptis sejenak sebelum akhirnya menghela napas dan kembali bergabung dengan kerumunan guru. Aretha tetap di tempatnya, tangan di saku celananya mengepal erat. Dia berdiri di tepi kerumunan yang semakin gelisah, membelakangi hutan yang kini tampak lebih gelap dan lebih sunyi daripada sebelumnya.
* * *
Langit mulai memudar dari jingga menjadi ungu kelam, dan angin yang semula sepoi-sepoi mulai berubah menjadi desisan yang lebih tajam, menerpa dahan-dahan pohon hingga berderak. Di dalam jantung hutan yang semakin pekat, bayangan-bayangan memanjang, menyatu menjadi kolam kegelapan yang seolah hidup.
Arabelle berdiri kaku, jari telunjuknya masih menempel di bibirnya yang tipis, matanya menatap tajam ke arah Tristan. Sorot matanya bukan lagi sekadar permintaan untuk diam, melainkan sebuah peringatan yang dalam, seolah membisikkan, "Kita tidak sendirian."
Tristan mengangguk pelan. Nafasnya yang terengah mulai berusaha diaturnya. Dia tidak bertanya lagi. Instingnya mengatakan untuk mempercayai Arabelle. Matanya yang jernih kini menyapu sekeliling dengan waspada, mencoba menangkap apa yang telah dirasakan oleh gadis di depannya.
Suara gemerisik itu kembali terdengar, kali ini lebih samar, berasal dari arah yang berbeda. Bukan dari langkah kaki, melainkan seperti gesekan kain kasar pada kulit pohon.
Arabelle memutar tubuhnya perlahan, hampir-hampir tidak bersuara. Dadanya naik turun dengan ritme yang terkendali, namun ketegangan di pundaknya yang membeku berbicara lebih lantang. Dia melangkah, meninggalkan Tristan sejenak, mendekati sebuah semak pakis yang lebat. Tangannya, dengan luka di balik perban, terangkat setinggi dada, seolah bersiap untuk... sesuatu.
Hanya ada desau angin yang kian menjadi kencang, meratap di sela-sela kanopi hutan.
Lalu, dari balik semak itu, seekor burung berwarna coklat kelam tiba-tiba terbang melesat, kicauannya pendek dan terputus sebelum menghilang di balik daun-daun.
Arabelle menghela nafas, bahunya yang tegang sedikit melunak. "Hanya burung."
Angin yang tadinya mendesis kini meraung dengan suara yang lebih dalam, memutar-mutar daun-daun kering di tanah. Arabelle menurunkan tangannya, bahunya yang tegang sedikit melunak. Dia memutar tubuhnya untuk menghadap Tristan, Sebuah helaan napas, campuran kelegaan dan kelelahan, hampir terlepas dari mulutnya.
"Sepertinya aku terlalu—"
Dari balik rimbunan pakis yang baru saja diganggu burung, sebuah gerakan mengoyak kesunyian. Sesosok tubuh menerjang keluar, gerakannya yang lebih mirip hewan daripada manusia—cepat, kacau, dan membabi buta.
Seorang pria paruh baya dengan baju lusuh dan compang-camping, kulitnya pucat seperti lilin, mata cekung dan sayu bagai orang yang tidak tidur berhari-hari, tapi di dalamnya membara kegilaan yang membuat darah berhenti mengalir. Suara yang keluar dari kerongkongannya bukan lagi bahasa, melainkan raungan serak dan parau, rangkaian suku kata tak bermakna yang penuh dengan nafsu membabi-buta.
Pria itu menyergap Arabelle dari samping, tangannya yang keriput dan kotor mencakar-cakar liar ke arahnya, berniat merekam, mencabik-cabik Arabelle yang terdiam sejenak karena kaget.
"Ra!" teriak Tristan, suaranya parau karena panik.
Naluri Arabelle berbicara lebih cepat daripada pikirannya. Tangannya yang terbungkus perban itu menangkis, lalu menekan kuat-kuat di leher pria itu, mendorong wajah itu menjauh. Air liur kotor menetes dari sudut bibir pria itu dan mengenai pipi Arabelle, membuatnya meringis jijik. Otot-otot lengan Arabelle bergetar menahan tenaga gila pria itu yang terus meronta, raungannya semakin menjadi.
Tristan membeku hanya untuk satu detik, matanya membelalak melihat adegan horor di depannya. Kemudian, naluri untuk melindungi mengalahkan rasa paniknya. Matanya menyapu tanah, menemukan sebatang tongkat kayu kuat yang tergeletak di antara daun kering. Tanpa pikir panjang, ia mengambilnya, mengayunkan dengan segenap tenaga ke bagian belakang kepala pria itu.
Dukk!
Suara benturan yang tumpul dan padat menggema dalam kesunyian hutan yang semakin mencekam.
Raungan pria itu terputus seketika. Tubuhnya menggelepar lemas, lalu ambruk ke tanah seperti boneka kain, tak bergerak lagi.
Arabelle mendorong tubuh tak sadarkan diri itu dari atasnya dengan gerakan kasar, wajahnya masih dipenuhi rasa jijik dan kengerian yang belum reda. Dia berdiri dengan sedikit terhuyung, menyeka pipinya yang masih basah dengan punggung tangan, wajahnya berkerangut campur jijik dan getir. Tristan segera berada di sampingnya, tongkat kayu masih tergenggam erat, matanya menatap pria tak bergerak itu dengan campuran rasa ngeri dan tidak percaya.
"Apakah... apakah aku membunuhnya?" bisik Tristan, suaranya serak.
Arabelle menjawab tanpa menatapnya, matanya masih tertancap pada pria yang pingsan itu. "Tidak. Dia masih bernapas." Dia menarik napas dalam-dalam, memaksakan diri untuk tenang. "Sebenarnya apa yang salah dengannya?"
Tristan menggeleng, wajahnya pucat. "Entahlah. Dia seperti... orang yang kerasukan."
Arabelle menatap wajah pria yang pingsan itu lebih saksama. Kerutnya di dahi, kulit yang tidak wajar pucat, ada aroma disinfektan yang samar, seperti aroma rumah sakit. Di pergelangan tangannya yang kurus, terlihat jejak memar kehijauan, bekas suntikan yang berulang. Dan mata yang meski terpejam, seolah masih memancarkan kekosongan yang mengerikan.
"Kita tidak bisa tinggal di sini," ucap Arabelle akhirnya, suaranya sudah lebih terkendali, meski nadanya masih datar dan tegang. "Dia mungkin tidak sendirian."
Angin menderu, membawa serta butiran hujan pertama yang dingin dan tajam. Hutan, yang tadinya hanya berbisik, kini seakan tertawa riang menyambut badai yang akan datang, dan bahaya yang tersembunyi di dalam kegelapannya.
To be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystery / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
