Happy Reading
*******************************************
Arabelle's POV
Hari ini adalah salah satu hari yang tidak begitu kusuka di sekolah. Jam pelajaran kosong selalu menjadi waktu yang penuh kebisingan di kelas. Sementara anak-anak kelas saling bercanda dan tertawa di sana, aku memilih untuk mengasingkan diri di perpustakaan sekolah yang sepi dan tenang.
Sebenarnya aku di sini bukan hanya untuk mencari ketenangan saja. Melihat kedekatan Noura dan teman-teman barunya yang asyik bercanda ria entah mengapa sedikit menggangguku. Ditambah tidak ada satupun anak yang mau berbicara kepadaku ataupun menganggap keberadaanku ada membuatku semakin sesak dengan perasaan kesepian.
Udara dingin menemaniku seperti pelukan lembut yang menenangkan. Hujan deras di luar membuat air yang membentur kaca jendela menambah kesan damai untuk tempat ini. Aku bisa merasakan suasana tenang ini, jauh dari hiruk-pikuk kelas yang selalu membuatku merasa tertekan.
Saat ini aku memilih sebuah kursi di sudut dekat jendela, tempat di mana aku bisa melihat tetesan air yang menari di kaca. Sinar matahari yang merembes masuk melalui tirai hujan menjadi salah satu penerang untuk menuntunku masuk menyelami kata-kata yang tertulis di atas buku yang kubaca.
Semakin aku membacanya, semakin aku merasakan dunia di sekelilingku memudar, menyuguhkan ketenangan dan kegembiraan yang tidak bisa kutemukan di dunia nyata.
Waktu berjalan lebih cepat tanpa kusadari, hingga tiba-tiba sebuah tangan anak laki-laki menarik paksa buku di tanganku dari atas, membuatku sontak mendongak dan berbalik untuk melihatnya.
"Lagi-lagi aku kesulitan mencarimu karena benda sialan ini," ujar Farrel seraya bergumam dengan nada kesal.
"Kenapa kau ada di sini, kau tidak membolos kelas, kan ?" Aku menatap Farrel yang kini berdiri dengan tangan bersandar di meja.
Raut wajah Farrel berubah sinis, seakan tidak terima dengan perkataanku. "Ini sudah jam istirahat, Nona sok pintar," jawabnya sembari melemparkan pandangan ke meja di sebrangku. "Seharusnya kau juga mengatakan itu kepada orang di depanmu itu."
Aku mengikuti arah pandangnya dan menemukan Liam yang sedang tersenyum lembut menatapku. "Sejak kapan kau di sini ?" tanyaku dengan suara nyaris tercekat.
"Cukup lama untuk tahu kau tenggelam dalam buku itu," balasnya bertopang dagu dan melihatku dengan lebih dalam ?
Aku merasa wajahku menghangat, tak menyangka dia telah memperhatikanku selama ini. Tunggu, apa yang baru saja aku pikirkan. "F*ck," ujarku dengan spontan menampar wajahku sendiri, membuat kedua lelaki itu terkejut.
Farrel memutar matanya dengan dramatis, sementara Liam menahan tawa, jelas terhibur dengan reaksiku yang—aku akui—terlalu berlebihan. "Well, itu cara yang cukup unik untuk membuat suasana jadi lebih canggung," kata Farrel, melipat kedua tangannya di dada.
Liam hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. "Aku rasa, kau butuh istirahat dari buku itu. Mau ke kantin? Aku bisa menemanimu," tawarnya.
Belum sempat aku menjawab, Farrel langsung menyela, "Dia sudah berjanji mentraktirku makan siang. Dan kami tidak mengundang petugas osis." Nada suaranya terdengar setengah main-main, tapi aku tahu dia serius.
Aku menatap Farrel dengan alis terangkat. "Sejak kapan aku berjanji mentraktir ?" tanyaku.
Farrel menyeringai, "Sejak kau meminta bantuanku semalam, Nona pelupa," ucap Farrel hanya bisa membuatku menghela nafas berat. Tangannya tiba-tiba menarik lenganku, memaksaku untuk berdiri. "Ayo, sebelum kantin penuh dengan anak-."
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystery / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
