Chapter 10 : Are we a good family ? [01]

47 29 1
                                        

Happy Reading

*****************************************

Aku menghela napas panjang saat langkah kakiku akhirnya berhenti di peron Stasiun Ratnaloka. Langit semakin gelap, menambah kesan tenang dan dingin di stasiun yang mulai lengang.

Aku mengambil langkah lebih jauh, mendekati bangku kosong di dekat peron untuk menumpahkan rasa penat yang membebani sekujur tubuhku. "Ah, bagaimana aku harus menghubungi paman Ezra sekarang..." Gumamku mendesah kesal karena ponselku yang masih belum kutemukan, hilang entah di mana.

Cukup lama aku memperhatikan sekitar, berharap dapat menemukan solusi yang bisa menghubungi paman Ezra tanpa harus berbicara dengan orang asing. Dan akhirnya aku menemukan sebuah telepon umum di sudut pandanganku.

Aku pun beranjak dari tempatku memutuskan untuk mencoba telepon umum yang terletak di ujung peron itu, berharap bisa menghubungi Paman Ezra dari sana. Namun, ketika aku mendekati kotak telepon itu, sebuah suara menghentikanku.

"Maaf, Mbak, teleponnya sudah rusak. Sudah lama tidak dipakai," Aku terkejut dan menatapnya. Dia terlihat santai dengan jaket hitam dan rambut acak, wajahnya tampak ramah meski sedikit lelah.

Aku tertegun sejenak. "Oh... begitu ya," ucapku pelan sembari tersenyum, mencoba menyembunyikan kekecewaan yang mulai mengalir.

Aku dapat melihat senyum tipis di bibirnya sesaat dia akan mendekatiku. "Kamu bisa pakai ponselku kalau mau. Tidak masalah."

Aku awalnya ragu sejenak, namun akhirnya menerima tawarannya dengan tersenyum lembut dan berkata, "Terima kasih."

Jari-jariku dengan cepat menekan nomor Paman Ezra yang untungnya sudah kuhafal, dan setelah beberapa dering, terdengar suara berat yang familiar. "Hallo, tumben sekali kau menelponku dulu-."

"Paman, ini aku, Arabelle," kataku memotong kalimatnya karena terlalu frustrasi.

"Oh, Nona muda..." Nada suaranya berubah menjadi lebih kaku seperti biasanya. Namun Aku masih bisa merasakan nada kecewa yang terselip di sana, mungkin karena ia salah mengira panggilan ini berasal dari seseorang yang ditunggunya. "Kenapa anda menghubungi dengan nomor asing ?"

Aku langsung menjelaskan situasiku, tentang ponselku yang hilang entah di mana saat di sekolah. Paman Ezra mendengarkanku dengan sabar, dan menyarankan agar aku membeli ponsel baru saja. Tapi aku menolak. "Banyak hal penting di sana, aku tidak bisa kehilangannya begitu saja, paman."

Paman Ezra terdiam sejenak. "Baiklah, saya mengerti. Anda tunggu di sana, saya akan segera datang."

Lelaki itu tersenyum hangat ketika aku mengembalikan ponselnya. "Jika kau tidak keberatan, ingin menunggu jemputanmu di kafe dekat sini bersama ?"

Aku bersenandung sejenak seakan sedang mempertimbangkan tawarannya yang sedikit tiba-tiba itu. "Hm... Ya, tentu."

* * *

General's POV

Raffael berjalan cepat menyelusuri lorong rumah sakit. Langkah yang dibuatnya terasa berat seakan sedang menumpahkan semua amarah yang tertahan sejak dia mendengar kabar bahwa ibunya memperpanjang hukuman pengasingan Arabelle.

Rumah sakit yang selalu terkesan dingin dan sibuk, entah mengapa hari ini terasa lebih menyesakkan. Dia mengabaikan semua sapa ramah para perawat yang dilewatinya. Pikirannya kali ini hanya terfokus pada protes apa yang akan dikatakannya untuk menentang keputusan tidak masuk akal yang dibuat ibunya.

Setibanya dia di ruang kerja ibunya, lelaki itu langsung membuka pintu tanpa mengetuk, menatap tepat ke arah sang ibu yang sedang duduk di balik meja kerjanya. "Berapa kali ibu harus mengingatkanmu untuk mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk, Farrel." Nada suara yang tenang dan tegas secara bersamaan adalah salah satu nada bicara yang sering digunakan ibunya saat sedang kesal maupun marah.

PIPRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang