Chapter 15 : Mimpi buruk yang terlupakan [02]

39 23 1
                                        

Happy Reading

*********************************************

General's POV

Di bawah langit senja yang perlahan memudar menjadi gelap, Arabelle dan Aretha duduk bersebelahan, tetapi tak ada kata yang keluar di antara mereka. Lampu jalan yang mulai menyala membuat bayangan mereka jatuh di trotoar, sementara suara kendaraan yang lewat menjadi satu-satunya latar belakang di tengah keheningan canggung.

Mereka baru saja berpisah dengan Clarissa dan Queenza, yang memilih untuk pulang sendiri dengan alasan mereka ingin mengerjakan tugas kelompok di rumah Queenza. Karena rumah Queenza berlawanan arah dengan tujuan mereka, maka hanya Aretha yang bisa pulang bersama Arabelle, meski suasana canggung masih terasa sejak insiden di restoran cepat saji tadi.

Aretha menggoyang-goyangkan kakinya, sesekali melirik Arabelle yang sibuk memperhatikan jalan. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Aretha membuka suara. "Aku minta maaf soal Enza tadi. Dia sering bicara tanpa berpikir."

Arabelle melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. "Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa."

Namun, nada dingin itu membuat Aretha merasa semakin bersalah. Dia menggigit bibirnya, berusaha mencari topik pembicaraan lain. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan nada pelan, "Kadang, aku iri padamu, tahu."

"Iri?" Arabelle mengerutkan dahi, tidak menyangka dengan pernyataan itu. "Iri karena apa?"

Aretha mengangkat bahu, tersenyum tipis. "Kau terlihat seperti orang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Sementara aku..." Dia menggantungkan kalimatnya, ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Aku bahkan kesulitan untuk fokus di kelas, padahal sebentar lagi akan ujian. Aku selalu takut jika nilaiku turun nanti, ayahku pasti akan memarahiku."

Arabelle terdiam, memproses kata-kata Aretha. Dia dapat merasakan kecemasan yang tersirat dalam nada suara gadis itu. "Kau kesulitan di pelajaran apa?"

"Semua," jawab Aretha sambil menunduk, menggigit bibir bawahnya. "Tapi terutama matematika. Aku benar-benar tidak bisa memahaminya."

Arabelle berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada tenang, "Kalau kau mau, aku bisa membantumu belajar. Kita bisa melakukannya bersama setelah sekolah."

Aretha menatap Arabelle, sedikit terkejut. "Kau... sungguh mau membantuku?"

"Tentu," jawab Arabelle dengan anggukan kecil. "Hari Sabtu. Sepulang sekolah, aku akan datang ke rumahmu. Bagaimana ?"

Mata Aretha berbinar, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian di restoran, senyumnya muncul dengan tulus. "Benarkah? Terima kasih, Ara. Aku sangat menghargainya."

"Tidak perlu sampai seperti itu. Anggap saja ini caraku untuk membalas traktiranmu hari ini," ujar Arabelle sambil tersenyum tipis.

Sebelum percakapan mereka bisa berlanjut, suara bus yang mendekat memecah keheningan. Keduanya berdiri, bersiap untuk naik. Meskipun masih ada jarak yang belum sepenuhnya terjembatani, percakapan sederhana tadi memberi harapan bahwa hubungan mereka mungkin bisa menjadi lebih baik.

* * *

Langit malam mulai menyelimuti kota, menggantikan senja yang memudar di kejauhan. Arabelle berjalan menyusuri trotoar yang diterangi oleh lampu jalan, dengan langkah pelan dan pikiran yang melayang.

Suara langkah kakinya terdengar samar di trotoar yang mulai lengang. Angin malam berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering yang berguguran di sepanjang jalan.

Namun, langkahnya terhenti ketika dia merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Dia menunduk dan melihat seekor kucing berbulu putih dengan corak kuning di tubuhnya sedang menggosokkan badan ke kakinya. Mata hijau kucing itu menatapnya dengan penuh harap, seakan meminta perhatian.

PIPRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang