Happy reading !
*******************************************************************************
General's POV
Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, menyisakan langit yang kelabu ketika Arabelle dan Ezra berdiri di pintu masuk stasiun menunggu Deon datang menjemput gadis itu.
"Apa teman anda memang tipe yang suka terlambat seperti ini, Nona," tanya Ezra memperhatikan sekeliling, sorot matanya terasa lebih tajam dari biasanya.
"Tidak juga," balas Arabelle dengan mengangkat bahu santai. "Sebenarnya aku yang ingin datang lebih awal dari waktu janjian kami."
Ezra hanya bisa mendesah lelah pada pernyataan acuh tak acuh Arabelle. "Untung saja nyonya tidak akan datang sampai sore ini."
Ezra menatap pintu kaca otomatis stasiun dengan alis berkerut saat seorang pria muda mendekat.
"Itu dia," ujar Arabelle serayamenunjuk ke arah pria itu.
Ekspresi Ezra berubah seketika. Wajah yang tadinya penuh kesabaran kini dihiasi keterkejutan. "Jadi teman yang anda maksud adalah anak itu ?" tanyanya, suaranya tertahan.
Arabelle mengangguk perlahan. "Iya, apa Paman mengenalnya ?"
"Tentu saja, orang tua mana yang tidak mengenali anaknya bahkan jika dia menggunakan penyamaran sekalipun." Ezra menghela napas berat, jelas berusaha menenangkan pikirannya yang kalut, sementara Deon mendekati mereka dengan langkah tenang.
Deon berhenti tepat di samping Arabelle. Dengan senyum simpul dan sikap santai, dia menyapa, "Maaf, apakah aku membuatmu menunggu lama, Bella ?" Sorot matanya beradu tajam dengan milik Ezra, sebelum pemuda itu kembali berujar. "Oh, lama tak jumpa, Pak tua."
Ezra memperhatikan Deon dengan tatapan tajam, sementara Arabelle berdiri santai di sisinya. Pria paruh baya itu berujar dengan nada datar tapi tegas, "Nona, saya rasa anda perlu tahu bahwa teman anda ini bukanlah orang yang sepenuhnya dapat dipercaya."
"Jangan percaya perkataannya, Bella. Kau tahu aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu," ujar Deon dengan tubuh sedikit mencondong ke arah Arabelle, seraya berbisik di telinga gadis itu.
"Nona Arabelle, saya tidak tahu seberapa banyak yang dia ceritakan pada anda, tapi izinkan saya memberi peringatan. Anak ini tidak seperti yang anda kira. Dia pernah—" Ezra berhenti, menatap Deon yang juga menatapnya dengan senyum arogan, sebelum melanjutkan, "Dia pernah menculik seorang gadis kecil saat dia marah pada saya. Gadis itu menjadi tawanan selama tiga hari!"
Deon tertawa kecil, meski jelas sekali tawanya dipaksakan. "Omong kosong apa itu, Pak tua ? Anda benar-benar tahu bagaimana cara membangun cerita drama."
Arabelle, yang tampak tak peduli dengan ketegangan di antara keduanya, menjawab ringan, "Aku benar-benar tidak punya waktu untuk ini." Dia menarik lengan Deon tiba-tiba, dan meninggalkan Ezra yang masih terdiam ditempatnya. "Ayo pergi."
* * *
Angin siang yang hangat berhembus menerpa wajah mereka saat Deon membawa motornya menembus jalanan kota, sementara Arabelle duduk dengan tenang di belakangnya.
"Kau yakin, tidak apa-apa meninggalkan mereka di penginapan ?" tanya Arabelle, memecah keheningan yang hanya diisi oleh deru kendaraan.
"Apa masalahnya, mereka bukan anak bayi lagi yang harus diawasi setiap saat," balas Deon dengan melirik ke arah spion motor.
"Iya benar juga, sepertinya aku terlalu berpikir yang tidak-tidak," gumam Arabelle sebelum kembali diam menikmati pemandangan di sekitarnya.
"Jadi..." kali ini Deon yang memecah keheningan mereka. "Kenapa kau begitu ingin menemui wanita itu ? Apa kau punya semacam hubungan khusus dengannya ?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystery / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
