Chapter 14: Mimpi buruk yang terlupakan [01]

35 24 2
                                        

Happy reading

*******************************************

Arabelle's POV

"Kau yakin bisa sendiri, Arabelle ?" Liam bertanya dengan menahan tanganku untuk pergi.

Aku melepaskan genggaman tangannya dari lenganku dan berkata, "Ya, aku baik-baik saja."

Entah sudah berapa kali aku mengatakan hal ini padanya, tapi Liam tidak juga pergi meninggalkanku. Kelas terakhir hari ini selesai lebih awal, dan saat aku berniat untuk bergegas pulang, Liam sudah mencegatku di lorong dekat kelasku.

"Kau benar-benar keras kepala, Arabelle," katanya pelan, tapi nadanya tidak menyembunyikan rasa frustrasi. "Kau sudah menolak kuantar ke UKS tadi, setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang kali ini."

Aku menggigit bibir, berusaha menahan komentar tajam yang ingin keluar. "Aku tidak ingin merepotkanmu, jadi biarkan aku lewat, okay-."

"Tapi aku ingin membantu !" potongnya cepat, nada suaranya sedikit meninggi. "Apa itu salah ? Aku hanya ingin memastikan kau sampai di rumah dengan selamat."

Aku terdiam sejenak, terpaku pada nada tegas di suaranya. Ada kejujuran dalam sorot matanya yang membuatku kehilangan kata-kata.

"Hai, Arabelle !" panggilan itu sedikit mengejutkanku. Aku melihat Aretha sudah berada di sampingku dengan tangannya yang melingkar di punggungku karena perbedaan tinggi badan kami. "Oh, siapa ini ? Pacarmu, Ara ?"

Aku hampir tersedak udara ketika mendengar pertanyaan Aretha. "Apa? Tidak! Bukan!" seruku cepat, hampir bersamaan dengan Liam yang juga mengatakan, "Kami hanya teman!"

Aretha terkikik, tampak menikmati reaksi kami yang serentak membantah. "Santai saja, aku hanya bercanda," katanya, matanya berbinar jahil saat menatap Liam. "Tapi kalau benar pun, kalian kelihatan cocok, lho."

Aku memutar bola mataku malas, mencoba melepaskan diri dari lengannya. "Ah, ngomong-ngomong bukannya tadi kau janji akan pulang bersama, iya kan ?" ujarku, berharap Aretha menangkap sinyal dariku agar bisa menarikku menjauh dari Liam.

Aretha menatapku sebentar, lalu mengangkat bahu dengan senyum lebar yang membuatku sedikit lega. "Oh, benar juga! Aku lupa soal itu. Yuk, Ara, kita pulang."

Dia langsung menarik tanganku, membawaku menjauh dari Liam tanpa menunggu balasannya. Aku sempat melirik ke arahnya, merasa sedikit bersalah karena meninggalkannya begitu saja. Tapi, jujur saja, aku tidak sanggup terus berdebat dengannya.

"Jadi, bagaimana kau bisa berhubungan dengan kakak OSIS itu, siapa sebenarnya dia itu ?" Aretha bertanya dengan nada menggoda setelah kami cukup jauh. "Dia benar-benar peduli padamu, lho. Kalau aku jadi kau, mungkin aku sudah menerima tawarannya tanpa pikir panjang."

Aku menghela napas, merasa ini bukan topik yang ingin kubahas sekarang. "Dia kakak Noura, namanya Liam."

"Tunggu, apa ?" Aretha berhenti tiba-tiba, seakan terkejut dengan pernyataanku yang sebenarnya tidak ada yang aneh menurutku. "Kakak Noura seorang OSIS ? Bukankah itu aneh ?"

"Apa maksudmu aneh ?" Aku ikut berhenti menatapnya, yang sekarang sedang berpikir dengan membuat kerutan dalam di keningnya.

"Aneh saja. Maksudku, jika kakaknya adalah OSIS, kenapa Noura masih bisa dibully oleh Stella?" Aretha menatapku serius, seakan mencoba membaca reaksiku.

Aku mengerutkan dahi. "Dari mana kau tahu Noura dibully Stella?"

Aretha mengangkat bahu, lalu tersenyum kecil. "Kenalanku."

PIPRACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang