Chapter 25 : Who is the real monster ? [05]

42 13 0
                                        

Happy Reading guys !

◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉‿◉

"Kenapa kau harus berbohong?" tanya Farrel, menyipitkan mata ke arahku. "Semua orang di sekolah tahu jika CCTV itu sudah lama rusak sejak kita masih kelas sepuluh."

"Sayangnya itu tidak berlaku untuk anak baru seperti mereka." Aku mengangkat bahu ringan. "lagipula salah mereka sendiri mudah percaya dengan perkataanku."

"Dasar," jawab anak itu berusaha acuh tah acuh, sebelum ikut melihat ke arah Clarissa. "Lalu sekarang, apa yang akan kita lakukan kepadanya ?"

Aku mengabaikan pertanyaan Farrel dan melihat keadaan Clarissa yang masih terkapar di sana. Anak ini terlihat cukup berantakan, rambutnya yang berantakan dan basah dengan air, entah air apa itu, kedua mata sayu dan beberapa memar dan sayatan terlihat di kulit sawo matangnya. "Hei Clarissa, apa ada yang keseleo, kau bisa bangun?"

"Jangan sentuh aku!" bentak anak itu tiba-tiba sembari mendorongku menjauh. Clarissa terlihat begitu berusaha untuk bangkit dari tempatnya, seakan enggan untuk meminta bantuan kami.

Aku tetap diam, membiarkan Clarissa berjuang sendiri untuk berdiri. Jika dia ingin menolak bantuan, aku tidak akan memaksanya. Namun, aku juga tidak bisa membiarkannya berjalan sempoyongan terus seperti itu.

Farrel mendengus pelan di sebelahku. "Sikap keras kepala seperti itu tidak akan membuatmu terlihat lebih kuat," gumamnya, menatap Clarissa yang masih menahan sakit di kaki kirinya.

"Aku tidak butuh bantuan kalian. Aku bisa sendiri," sahutnya dingin, mencoba melangkah, tapi baru beberapa detik kemudian lututnya goyah.

Refleks, Raffael yang sejak tadi diam langsung bergerak, menangkap lengan Clarissa sebelum tubuhnya mencium tanah. "Kau bisa sendiri, ya?" gumamnya dengan nada malas.

Clarissa menepis tangannya dengan kasar, tapi kali ini Raffael tidak membiarkan gadis itu jatuh. "Lepaskan," desisnya tajam. "Aku bilang, lepas—"

"Diam." Suara Raffael tenang, tapi tegas. Dia menarik Clarissa lebih dekat, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan sesaat. "Aku tidak peduli kalau kau mau merangkak sampai ke UKS, tapi kalau kau pingsan di sini, kami juga yang akan kena repot."

Clarissa menggertakkan giginya, jelas tak terima, tapi akhirnya ia membuang napas dan membiarkan Raffael membantunya berdiri.

Aku mengangkat alis, sedikit terkejut dengan pemandangan ini. Sejak kapan si anak durjana ini peduli dengan orang lain?

"Sudah, ayo kita bawa dia ke UKS sebelum anak-anak osis tadi sadar kalau mereka tertipu mentah-mentah." Aku berbalik, siap berjalan lebih dulu, tapi suara Clarissa menghentikanku.

"Kau..." suaranya pelan, sedikit gemetar, tapi tatapan matanya menancap lurus ke arahku. "Apa kau tidak merasa bersalah?"

Aku mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

Clarissa mengepal jemarinya, sorot matanya penuh kemarahan yang tertahan. "Karena kau, aku jadi begini. Karena kakakku berteman denganmu, dia jadi sering bertengkar dengan ayahku dan aku juga jadi sasaran di sekolah."

Aku menatapnya beberapa detik, lalu terkekeh pendek. "Kau menyalahkanku?"

Clarissa diam.

Aku menepuk bahunya pelan, membuat gadis itu sedikit tersentak. "Dengar, aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk berada di dekatku. Kalau kakakmu memilih berteman denganku, itu keputusan dia, bukan aku."

Clarissa menunduk, wajahnya gelap.

"Kalau kau tidak suka, kenapa tidak bilang saja langsung ke kakakmu? Kenapa malah menyalahkanku?" lanjutku, lalu memasukkan tangan ke saku celana. "Jangan berharap aku akan meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahku."

PIPRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang