Happy Reading
*******************************************
Hujan mengguyur semakin deras, membuat pohon rindang di belakangku tak bisa melindungiku sepenuhnya dari air hujan.
Aku tidak ingat bagaimana aku berakhir di sini. Hanya karena ingin segera melarikan diri dari semua tatapan dan bisikan tajam yang di arahkan anak-anak di kantin, aku pun membiarkan kakiku berlari, membawaku entah ke mana. Dan begitu sadar, aku sudah berada di bawah pohon taman belakang sekolah, dengan posisi berjongkok aku menenggelamkan wajahku di antara lenganku.
"Tidak apa-apa, Arabelle."
"Tapi bagaimana jika ibu tahu ?"
"Tapi tetap saja, tidak ada yang terluka, semuanya pasti akan baik-baik saja."
"Aku tetap saja takut. Apa yang akan terjadi padaku nantinya ?"
"Tenanglah, Arabelle. Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja." Aku berusaha menenangkan diriku dengan terus menggumamkan kalimat itu di tengah isak tangisku yang nyaris tak terdengar di antara riuhnya hujan.
Aku mendongak, menatap dedaunan yang bergetar terkena hujan. Angin membawa aroma tanah basah, menciptakan harmoni yang kontras dengan kekacauan di dalam pikiranku.
Rambut dan seragamku basah kuyup akibat hujan yang mengguyur deras, seolah memelukku dengan dinginnya, dan menyembunyikan air mata yang tidak mampu kutahan lagi.
Sebuah bayangan muncul di hadapanku, dan pandanganku terhalang oleh payung hitam besar yang sudah melindungi tubuhku dari hujan.
"Arabelle, Kau bisa sakit nanti," panggil Liam lembut, suaranya hampir terkalahkan oleh hujan.
"Aku tidak peduli. Tinggalkan aku sendiri." Aku memalingkan wajahku untuk menghindari tatapannya, dan menarik lututku lebih erat ke dada.
"Aku tidak bisa membiarkanmu di sini. Tidak, sampai kau bangun dan mengganti seragammu," ujarnya lembut, nada suaranya seolah membawa kehangatan di tengah dinginnya hujan. "lukamu mungkin saja akan membekas."
"Itu tidak akan terjadi, selama aku masih di bawah hujan," bantahku berusaha menepis kekhawatirannya.
"Kau benar-benar keras kepala. Apa kau akan terus di sini sampai terkena hipotermia ?"
"Kau berlebihan, Liam." Aku terkekeh geli. "Aku tak mungkin terkena hipotermia hanya karena kehujanan-."
"Katakan itu saat tubuhmu tidak bergetar menggigil." Mata kami bertemu membuat tubuhku membeku, aku lagi-lagi tak menyadari Liam sudah berada dekat, tepat di depan wajahku dengan tangan lebarnya menggenggam kedua tanganku dengan hangat.
"Apa yang kau lakukan ? menjauh dariku." Aku menepis tangannya dan menarik tubuhku sedikit menjauh darinya.
"Kenapa ? Aku hanya berusaha menghangatkan tanganmu." Nada bicaranya acuh tak acuh, sementara sorot matanya tajam, seakan tak suka dengan respon yang kuberikan sebelumnya.
"Huh, kau bercanda denganku ?" tanyaku dengan suara bergetar. "Dengar, Liam. kebaikanmu dan tempat ini tidak cocok dengan orang sepertiku."
"Aku seharusnya tidak memohon untuk bersekolah formal hanya karena permintaan bodoh Stella, Atau alasan semacam mencari teman baru." Diam Liam semakin membuat kalimat yang hanya bersarang di kepalaku meluncur bebas. "Aku seharusnya menuruti saja semua yang ibu katakan, dengan begitu tak akan ada yang dirugikan lagi."
"Sepertinya keadaanmu semakin parah karena mulai melantur tidak jelas." Liam tiba-tiba mengangkat tubuhku dengan mudah, seakan tubuhku ini hanya sekarung kapas yang ringan. Dia menggendongku bagaikan putri dengan menyandarkan kepalaku di dada bidangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystère / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
