Happy reading guys !
^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^^_^
General's POV
Di tengah keriuhan kelas yang dipenuhi suara gesekan pensil dan bisik-bisik pelajar, Aretha duduk tenang di bangkunya. Ia begitu fokus pada materi pelajaran yang diberikan oleh guru di depan, hingga tiba-tiba sebuah gumpalan kertas keras terbang ke arahnya dan mengganggu konsentrasinya. Matanya menyapu sekeliling ruangan, mencari siapa pelaku yang melempar benda itu.
Ketika tak menemukan sosok mencurigakan, gadis itu membuka gumpalan kertas itu dan menemukan tulisan di dalamnya:
Pergi ke rooftop sekolah setelah kelas, dan pastikan kau sendirian atau kau akan menyesal.
Dia menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba kencang. Siapa yang berani mengancam seperti ini? pikirnya, matanya menyapu ruangan penuh siswa yang asyik mengobrol. Stella? Atau seseorang yang bahkan tak pernah dia duga?
"Apa itu?"
Suara Arabelle dari sebelahnya membuat Aretha tersentak. Dengan refleks, dia menyembunyikan kertas itu di balik buku catatan. "Bukan apa-apa, hanya sampah dari orang iseng," jawabnya sambil memaksakan senyum.
Arabelle mengerutkan alis, matanya menelusuri raut wajah Aretha yang tegang. "Kau yakin? Wajahmu kayak habis lihat hantu." Aretha dengan cepat mengangguk masih memasang senyuman yang dipaksakan. "Kalau begitu maju sana, guru memanggilmu dari tadi."
"Eh? Ah, iya," jawabnya sambil berdiri, berusaha menyembunyikan getar di suaranya.
Arabelle menatapnya curiga, tapi memilih diam. Aretha tahu, sahabatnya itu tak mudah dibohongi. Tapi dia juga tidak ingin melibatkannya.
* * *
Kelas baru saja usai, dan Aretha sudah berada di rooftop sekolah. Di depannya terlihat Stella tengah membelakanginya, memperhatikan pemandangan di bawah gedung sekolah dari pinggir pembatas gedung.
"Pemandangan di sini cukup indah, bukan?" gumam gadis itu tanpa berbalik melihat Aretha. Dia membiarkan gadis itu mendekatinya.
"Langsung saja katakan apa yang kau inginkan," ujar Aretha menatapnya dingin. "Apa maksudmu memberikan surat semacam itu?"
Stella tersenyum sinis meremehkan, dan menghadap pada Aretha. "Apa kau benar-benar tidak ada niatan menjauhi Arabelle?"
"Aku tidak mengerti, sebenarnya kenapa kau begitu terobsesi dengan gadis itu," ujar Aretha memijat kening-nya sejenak, menggantungkan kalimat. "Apa masalahmu dengan Arabelle, Stella ?"
"Kau tak perlu tahu itu," jawabnya santai. "Aku hanya butuh kau bekerja sama tanpa ada perlawanan, maka aku juga tidak akan mengganggumu lagi."
"Kau baru saja mengancamku?"
Stella diam sejenak. "Kau pikir aku tidak mampu melakukan itu?" nadanya terasa santai, tapi sorot matanya yang tajam tak menunjukan sikap main-main di dalamnya."Kalau begitu semoga beruntung, dan aku harap kau membuat pilihan yang tepat kali ini."
Sebelum pergi, Stella melemparkan senyum sinis yang membuat Aretha membeku. Perkataan itu menyisakan rasa menggigil yang merambat perlahan di sekujur tubuhnya. Apa ini? Apa aku sampai takut hanya karena omong kosongnya? pikirnya dalam kebingungan. Ia mendongak ke langit biru, lalu menghela napas berat. "Apa yang harus kulakukan, Tuhan?" gumamnya lirih.
Saat hendak pergi, pandangannya tertuju pada sekelompok gadis di bawah yang sedang mengerubungi seseorang. Matanya tiba-tiba membulat saat mengenali wajah korban yang mereka bully.
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Misterio / Suspenso* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
