Chapter 20 : Kecurigaan Arabelle [05]

72 31 2
                                        

Happy reading !

*******************************************

Terlihat Aretha tengah memasuki toilet wanita dengan terburu-buru, seakan sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Beruntung toilet yang dia masuki saat ini sedang sepi, jadi dia masih bisa selamat dari merembasnya cairan yang mungkin akan keluar dari bawah roknya.

"Hei, apa kau lihat anak monster tadi berlagak?" suara itu terdengar bersamaan dengan beberapa derap langkah kaki yang masuk. "Aku sungguh tak percaya, dia masih bisa mengatakan hal seperti itu di depan Stella."

"Benar sekali." Salah satu temannya menambahkan saat langkah mereka terasa berhenti tepat di depan bilik yang Aretha masuki. "Apa kau lihat anak yang disebelahnya itu. Aku sempat melihatnya tertawa mendengar perkataan anak monster itu."

"Benarkah?" Suara gadis lainnya mulai membalas seakan itu menarik. "Apa dia juga sama seperti anak monster itu?"

Setelah kalimat itu keluar, Aretha tak dapat lagi mendengar suara anak-anak perempuan itu di balik pintu depannya. Dia menghela nafas berat, tampak lelah walau hanya mendengar beberapa kalimat yang diucapkan mereka. "Bagaimana dia bisa bertahan selama ini?" gumamnya kepada diri sendiri.

Tiba-tiba tubuh Aretha membeku, terdiam sesaat, ketika air dingin itu disiram dari celah atas biliknya, membasahi seluruh tubuhnya tanpa terlewat satu bagian pun. Aretha dapat mendengar suara gelak tawa mereka dari balik pintu detik berikutnya.

"Hei, cepat halangi pintunya!"

Mata Aretha terbelalak mendengarnya. Dengan tergesa-gesa ia menarik pintu di depannya. Namun tindakannya tetap sia-sia, mereka sudah berhasil memblokir satu-satunya jalan keluar gadis itu. "Sial." Aretha mendengar suara tepukan tangan yang diadu, sebelum langkah kaki mereka menjauh.

Ini bukanlah kali pertamanya Aretha mengalami hal ini. Namun bukan berarti dia sudah terbiasa dengan situasi yang menimpanya. Semenjak gadis itu mulai berteman dengan Arabelle, entah mengapa anak-anak yang tadinya tak mempermasalahkan stasusnya sebagai siswi bantuan, kini jadi sering mengganggunya dan menyudutkannya, hanya karena dia berteman dengan Arabelle.

Para pengecut itu pergi begitu saja, setelah berhasil membuatnya berantakan. Aretha melihat ke sekeliling, melihat bagian depan dan samping tembok yang tidak menyentuh langit-langit, membuatnya berpikir untuk memanjat. "Sepertinya tidak ada pilihan lain."

Di saat gadis itu sudah menaiki kloset untuk meraih tembok bilik sisi kanannya, pintu bilik tiba-tiba terbuka. Matanya terbelalak, konsentrasinya pecah, keseimbangannya pun ikut melemah membuat gadis itu terjatuh cukup keras.

Gadis di depan Aretha berujar dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kau baik-baik saja?"

Noura Adele Franklin, anak pertama yang mengganggu Arabelle di hari pertama dia masuk, itulah yang dipikirkan Aretha saat menatap Noura dengan tajam. "Apa mau mu?"

Noura tersenyum sinis sebelum membuka suaranya. "Begitukah caramu berterima kasih kepada penolong mu?" Gadis itu menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. "Jika saat itu kau mendengarkan perkataanku, ini semua tak akan terjadi padamu."

"Haha, itu benar." Aretha bangkit dari tempatnya, sedikit membersihkan kotoran yang menempel di seragamnya. "Memang seharusnya aku mendengarkanmu sedari awal..."

Aretha melangkah mendekati Noura. "Tapi jika seperti itu... aku akan menjadi sampah menjijikkan seperti mu." suaranya sedikit berbisik saat hinaan itu diarahkan pada lawan bicara di depannya. Noura hanya terdiam menanggapi kata-kata Aretha. "Terima kasih sudah membantuku, walau aku sama sekali tidak membutuhkannya."

PIPRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang