Happy reading guys !
-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
Arabelle's POV
Langit sore di Astralis mulai kehilangan sinarnya saat taksi yang kutunggangi berhenti. Aku dapat melihat pagar besar yang menutupi jalan masuk ke kediaman Gvin dari sudut sini.
Sepuluh hari berlalu sejak aku kembali menempati mansion itu, karena masa hukumanku yang sudah berakhir. Dan kini aku malah terlambat kembali ke mansion Gvin, di mana malam hampir tiba.
Ugh, jika bukan karena sopir taksi yang membuang waktuku lebih lama dan banyak bertanya apa aku penghuni tempat ini atau penguntit. Aku pasti sudah sampai tepat waktu.
"Kenapa kau mau turun di sini? Tempat ini terlalu jauh dari rumah besar itu," katanya tiba-tiba dengan nada mencurigakan, saat aku hendak membuka pintu.
Aku memutar bola mataku mulai malas menanggapi perkataannya, tapi saat pintu taksi tidak bisa dibuka aku mengerutkan kening dan menatap tajam pada pria di depanku. "Ada apa, Paman ? Aku kan sudah membayarnya melalui aplikasi."
"Ya, kau memang sudah membayar melalui aplikasi, tapi itu ada yang kurang." Dari kaca spion tengah aku dapat melihat matanya yang memandangku, seolah sedang menilaiku dengan rendah. "Uang ganti rugi karena sepatumu sudah membuat kotor mobilku."
Aku menahan desahan kesal, jemariku mengepal erat di pangkuan. Udara pengap dalam taksi terasa semakin menusuk. Ini cuma pengemis berkedok sopir taksi, pikirku, tapi lidahku menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata yang akan memperkeruh situasi. Aku menatap pantulan matanya di kaca spion—sorot licik yang mengira gadis belia seperti aku mudah ditakuti.
"Kotor?" Aku menyapu jari telunjukku di permukaan karpet mobil yang sudah usang, lalu mengangkatnya ke cahaya sore yang redup. "Debu di sini lebih tua dari usia mobil ini, Paman. Kalau mau memeras, cari alasan yang lebih kreatif."
Sopir itu memutar badan, wajah keriputnya memerah. "Kau pikir bisa seenaknya menghina—"
Klik. Aku mengangkat ponselku, kamera depan menyorot wajahnya yang mulai berkeringat. "Senyum, ya. Foto ini akan kukirim ke pihak taksi online beserta rekaman suara tuntutan 'uang ganti rugi'-mu. Gratis iklan untuk reputasimu."
Mata pria itu berkedip cepat. "N-Nanti, tunggu! Ini cuma salah paham!" Tangannya gemetar mencoba membuka kunci pintu. "Kau bisa turun di sini...!"
Aku melangkah keluar, angin sore menusuk kulit. Sebelum menutup pintu, kucondongkan badan ke jendela. "Lain kali, pilih korban yang tidak hafal pasal pemerasan KUHP, Paman."
Taksi itu melesat pergi seperti dikejar hantu, sementara aku berjalan menyelusuri jalan berkerikil menuju pagar mansion.
Angin sore yang menggigit menerbangkan helaian rambutku, sementara kakiku melangkah pelan di jalan berkerikil, suara gesekan batu kecil seperti bisikan tajam yang mengiringi setiap langkah. Pagar tinggi mansion Gvin semakin dekat, bayangannya memanjang seperti tangan gelap yang siap menelanku kembali. Tanpa sadar aku menyeringai, merasakan rasa tidak nyaman yang menggelitik tengkuk.
Suara klik terdengar bersamaan dengan hawa panas dari kendaraan di belakangku yang mulai mendekat. Aku melihat sebuah mobil hitam mengkilap melambat berhenti tepat di sampingku, mesinnya mendengkur rendah seperti binatang yang menahan diri. Aku menelan ludah, menatap bayanganku yang terpantul di jendela yang gelap. Perlahan, kaca itu turun, mengungkapkan profil tajam Mr. Gvin, atau harus kukatakan ayah tiriku ? Matanya—warna hanzel gelap yang sama seperti milik Stella—menyapu tubuhku dari ujung rambut yang berantakan hingga sepatu yang masih berdebu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystery / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
