Happy reading guys !
◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉◉‿◉
Panas matahari siang itu terasa menusuk meski bayangan koridor sekolah Crocurs HSA sedikit membantu meredam sengatannya. Aku memperhatikan Aretha yang berjalan di sampingku dengan langkah ringan, berbanding terbalik dengan sikapnya yang penuh tekanan saat ujian tadi.
Sementara aku, aku tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan pikiran yang terus berputar di kepalaku ini. Selama ujian pikiranku hanya terfokus pada siapa dan bagaimana aku harus mencari pelaku yang menyadap ponselku.
"Ah, akhirnya selesai juga ujian hari ini," ujar Aretha tiba-tiba memecah hening seraya menghela napas lega, suaranya santai meski ada nada kelelahan yang tak bisa disembunyikan. "Bagaimana hasil ujianmu tadi?"
"Entahlah, aku sama sekali tidak bisa fokus dari tadi." Aku mengangkat bahu sambil tertawa kecil, berusaha mengusir kekhawatiran yang menggantung. "Eh, ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya, Clarissa? Rasanya udah lama banget sejak terakhir aku ketemu dia di arkade."
Aretha melirikku dan tersenyum kecil. "Dia baik-baik saja. Lagi sibuk belajar juga, katanya ingin masuk ke sini."
Aku mengerutkan kening. "Dia mau masuk Crocurs HSA juga?"
Aretha mengangguk, matanya sedikit menyipit seolah mengamati reaksiku. "Iya. Nggak ngerti, deh, kenapa dia sama Queenza sampai segitunya pengen masuk sini. Padahal, udah jelas sekolah ini nggak seindah yang mereka bayangkan."
Aku menghela napas panjang, menahan tawa sarkastik. "Mungkin karena reputasinya? Orang-orang selalu bilang Crocurs HSA itu sekolah terbaik di Nexiaterica."
Aretha mendengus pelan. "Reputasi itu kadang cuma kedok, Ra. Aku sudah lihat sendiri bagimana sistem di sini. Orang yang tak punya koneksi atau uang ya cuma jadi korban. Itu tak adil."
Aku menatap Aretha, mencoba membaca ekspresi wajahnya. Ada sedikit rasa kesal yang tersembunyi di balik nada suaranya, tapi aku tahu itu bukan sepenuhnya karena Clarissa atau Queenza.
Tiba-tiba terdengar suara percakapan sekelompok gadis di depan kami membuat langkah kami terhenti.
"Apa kalian sudah dengar?" salah satu gadis bertanya, suaranya menggantung menarik rasa ingin tahu. "Katanya Noura Adele Franklin sudah pindah sekolah."
"Apa? Siapa dia?" jawab salah satu gadis lain, masih bingung.
"Bukannya dia anak kelas sebelah?"
"Kira-kira apa alasannya?"
"Entahlah, aku dengar dari anak-anak di kelas. Karena pekerjaan ayahnya."
"Hei, bukannya anak itu memiliki hubungan buruk dengan Arabelle?"
"Aku denger mereka adalah teman baik sebelumnya."
"Apa, benarkah?"
"Apakah ini ada hubungannya dengan anak monster itu?" suara seseorang melontarkan kata-kata itu tanpa ragu.
Percakapan mereka terhenti begitu saja saat mereka menyadari keberadaan kami. Pandangan mereka langsung beralih ke kami, dengan tatapan tajam yang seakan menghakimi.
"Sepertinya memang benar dia pelakunya," terdengar suara sinis dari salah satu gadis.
"Jika melihat tatapan matanya yang seakan tertangkap basah, aku juga jadi berpikir begitu," tambah gadis lainnya dengan nada menggigit.
"Menakutkan, membuatku merinding saja,"
"Dia sungguh monster menjijikkan,"
"Memang siapa yang bilang dia bukan monster,"
KAMU SEDANG MEMBACA
PIPRA
Mystery / Thriller* * * * * Arabelle adalah seorang gadis yang telah disembunyikan oleh ibunya dari dunia luar selama lima belas tahun. Ibunya selalu menjelaskan bahwa kondisi tubuh Arabelle yang rentan membuatnya mudah jatuh sakit jika bertemu dengan orang baru. Sel...
