Chapter 18 : Kecurigaan Arabelle [03]

86 31 5
                                        

Happy reading !

*******************************************

General's POV

Pagi itu Arabelle menuruni tangga, sudah siap dengan seragam sekolah dan ransel di tangannya. Dia melihat Ezra sedang menyiapkan sarapan di dapur dengan bersenandung ringan.

"Paman, di mana Ibu ?" tanya gadis itu saat matanya melirik kursi yang biasa digunakan ibunya untuk bersantai setiap kunjungan singkatnya di sana.

Ezra sedikit tertegun karena baru menyadari keberadaan Arabelle di meja makan. Dia menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Ada panggilan tiba-tiba di rumah sakit, jadi nyonya sudah pergi sejak pagi buta."

Kesunyian memenuhi udara, suara kicauan burung yang di bawa angin hutan yang mengelilingi rumah, sedikit mengurangi ketegangan udara. Arabelle memperhatikan Ezra berjalan mendekat dengan membawa sarapan mereka. "Paman butuh bantuan ?" tanya Arabelle berniat bangkit.

"Tidak, Nona bisa kembali duduk. Atau saya tidak akan mengantar anda ke sekolah hari ini," balas Ezra sembari meletakkan piring di depan Arabelle.

Arabelle kembali duduk, menatap piring sarapannya dengan raut wajah yang sulit ditebak. "Em... Paman, apa kunjungan ibu kemarin itu ada hubungannya dengan aku pulang terlambat karena bermain tanpa izin ?" tanya gadis itu akhirnya setelah hanya diam mengaduk-aduk sarapannya.

Ezra mendesah pelan sambil menuangkan teh ke cangkir Arabelle. "Bukan itu alasannya, Nona," jawabnya sambil mengambil tempat duduk di depan Arabelle. "Nyonya hanya khawatir setelah mendapat kabar dari sekolah. Tentang-keributan kecil yang Anda dan Nona Stella buat lagi, ditambah ponsel Anda yang, entah kenapa, sulit dihubungi."

Arabelle mendesah pelan, merasa tidak terlalu terkejut dengan alasan itu, tapi tetap saja sedikit kecewa. Dia memikirkan sepertinya ibu benar-benar datang bukan hanya karena peduli padanya, tapi juga untuk memastikan bahwa dia tidak memperburuk citra keluarga ayah tirinya lagi.

"Tapi jangan khawatir, Nona." Ezra melanjutkan, dengan nada lebih tenang, "Saya tidak memberitahu apa pun soal Anda pergi bersenang-senang dengan teman baru Anda." Dia tersenyum tipis, sambil menyeruput tehnya.

Arabelle mendongak, matanya sedikit berbinar. "Paman benar-benar tidak bilang apa-apa?"

"Tentu tidak," jawab Ezra ringan. "Bagaimana saya tega melakukan hal itu pada anda yang dalan kondisi seperti itu semalam ?"

Mereka berdua saling pandang sejenak, sebelum akhirnya Arabelle tersenyum kecil.

* * *

Sore itu, Arabelle dan Aretha tengah duduk di ruang tamu rumah Aretha, buku-buku pelajaran terbuka di depan mereka. Aretha sedang sibuk mengerjakan beberapa materi yang sudah dijelaskan Arabelle sebelumnya, sementara gadis itu melamun dengan pikiran melayang.

Mata gadis itu tertuju pada sebuah foto keluarga yang terpajang di atas meja kecil di sudut ruangan. Foto itu menampilkan Aretha dan Clarissa bersama kedua orang tuanya. Pria paruh baya di foto itu entah mengapa terasa familier untuk Arabelle, tapi setiap kali dia mengingat-ingat siapa atau kapan mereka pernah berinteraksi, gadis itu tak menemukan apa-apa, hanya kabut abu-abu yang didapatnya.

Pintu depan tiba-tiba terbuka, suara langkah berat terdengar memasuki rumah. Keduanya mendongak, menatap pria paruh baya di ambang pintu yang masih mengenakan seragam dinasnya.

Pria itu berhenti di ruang tamu sejenak saat matanya menangkap tajam ke arah Arabelle. "Temanmu, Etha ?" tanya pria itu, suaranya dalam namun terkendali.

PIPRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang