Chapter 17 : Kecurigaan Arabelle [02]

30 22 0
                                        

Happy reading

*******************************************

Arabelle's POV

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, menyesuaikan pandangan sekitar. Aku tak tahu apa ada yang salah dengan kepalaku, hingga membuatku menjadi buta warna saat ini.

Hitam, putih, serta abu-abu di mana mataku menangkap sekelilingku. Sunyi, tak ada suara, walau aku lihat beberapa kali orang-orang membuka mulut mereka untuk bicara satu sama lain di sekitarku. Bagaikan melihat film bisu hitam putih di tahun seribu sembilan ratus dua puluh lima.

Dan yang lebih anehnya aku masih memahami apa yang mereka bicarakan, seakan kata-kata mereka masuk langsung di kepalaku.

Aku menelusuri jalan mengikuti arus pejalan kaki di sekitarku. Tempat ini terasa tak asing untukku, seakan aku sering melewatinya. Apakah ini jalan menuju stasiun Astralis ?

Langkahku berhenti saat aku melihat seorang pria paruh baya sedang berjalan dengan gadis kecil berusia sekitar delapan tahun di seberang jalan. Tunggu, apa itu... aku dan... ayah ?

Aku mengikuti arah jalan mereka dari seberang sini, sementara pandanganku tak lepas dari sosok mereka. Senyum manis dan ceria dari gadis kecil yang melompat-lompat di gandengan pria paruh baya itu terasa asing buatku. Aku tak tahu, aku pernah membuat ekspresi seperti itu.

"Apa kau sudah puas sekarang, Nona kecil ?" Aku dapat merasakan kalimat itu menyusup masuk di kepalaku.

"Tentu saja. Kadang aku kesal setiap kali merayakan ulang tahun, Farrel tidak pernah mau menyentuh kuenya."

"Oh... jadi itu kenapa kau mengambil banyak buah-buah asam yang tidak kau sukai, Ella ?"

"Hm... seorang kakak harus mengalah pada adiknya sesekali, kan yah."

Aku memejamkan mataku sebentar, mencoba mengusir bayangan itu. Apa yang aku lihat tadi? Aku tidak ingat pernah ada momen seperti itu dengan Ayah—atau mungkin, aku hanya lupa. Namun, ketika aku membuka mata kembali, pemandangan hitam-putih itu masih sama. Tubuhku bergerak sendiri, mengikuti langkah pria paruh baya dan gadis kecil di seberang jalan, menuju stasiun.

"Ayah..." lirihku tanpa sadar.

Pemandangan itu berubah, seperti adegan film yang berganti ke bagian berikutnya. Kini aku berada di sisi pria itu—ayahku—dan aku menyadari ini adalah momen yang terasa nyata. Ayah menggandeng tanganku erat, sambil membawa tas belanja kecil.

Kami berjalan melewati trotoar menuju stasiun. Jalanan tampak sibuk, meski semuanya terasa bisu dalam hitam-putih ini. Langkahku terhenti ketika aku melihat seekor kucing kecil berbulu putih dengan corak kuning di pinggir jalan.

"Ayah, tunggu sebentar!" seruku sambil melepas genggaman tangannya. Apa yang kau lakukan ?! Jangan lepaskan tangan ayah ! Aku ingin berteriak seperti itu, tapi tubuh ini tak bisa kugerakkan sesuai keinginanku.

"Ella, jangan pergi jauh-jauh!" Ayah memanggilku, tapi aku sudah berlari kecil menuju kucing itu. Dia tampak ketakutan dan hampir melangkah ke jalan besar.

"Hai, sobat kecil..." gumamku sambil jongkok, mencoba mengambilnya menjauh dari jalan raya. Namun, kucing itu malah berlari ke arah berlawanan—tepat ke tengah jalan. Tubuh kecil yang kurasuki ini langsung mengejarnya tanpa pikir panjang. Bodoh ! Anak gila, apa yang kau lakukan ?!

"Arabelle!" Ayah memanggil namaku dengan panik.

Aku menangkap kucing itu tepat saat sebuah klakson mobil memekik. Ayah segera menarikku ke pelukannya. Tapi mobil yang melaju itu tak sempat mengerem, membuat pengemudi wanita di dalamnya membanting setir, dan berakhir tergelincir ke rel kereta. Dalam sekejap, suara tabrakan keras menggema, diikuti kereta yang menghantam mobil itu dengan dahsyat.

PIPRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang