Chapter 22 : Who is the real monster ? [02]

58 23 0
                                        

Happy reading 😊

^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^_^


Arabelle's POV

Aku bersandar di pilar di koridor sekolah yang mulai sepi, karena hampir seluruh penghuni sekolah ini sedang menonton pertandingan bela diri antar sekolah yang diadakan di gedung olahraga sekolah.

Tadinya aku pun salah satu dari mereka yang menonton bersama Aretha di sana, hanya untuk melihat bagaimana Farrel bertanding. Tapi karena semakin banyak orang yang datang menonton, membuatku kesulitan bernapas bebas di sana.

Jadi aku tak punya pilihan lain meninggalkan Aretha di sana sendirian, agar bisa menghirup udara segar di sini. Walau bau kapur dan keringat para atlet taekwondo dari gedung olahraga masih tersisa di ujung hidungku, diiringi dengan sorak-sorai samar yang membuat pelipisku berdenyut.

Apa aku pinda ke perpus saja ya ? suara mereka mungkin tidak akan sampai ke sana.

"Kak Ara!" Suara itu menusuk dari belakang. Stella berlari mendekat, pita rambut merahnya berkibar seperti bendera perang. Matanya berbinar—binar yang sama persis saat dia mempermalukanku di kantin beberapa bulan lalu. "Apa yang kau lakukan di sini? Kak Farrel kan sedang bertanding di final! Ayo kita tonton bersama!"

Aku hanya melirik Stella sekilas sebelum membuang pandang ke ujung koridor. "Aku tidak tertarik," ucapku datar.

"Kenapa ? Apa Kak Ara masih membenciku karena kejadian itu ?" Aku dapat melihat sorot mata Stella berubah dari ujung mataku, binar cerianya memudar digantikan kerutan di alisnya.

Aku mendorong diri dari sandaran pilar dan berhadapan langsung pada Stella yang melangkah lebih dekat ke arahku. "Seharusnya Kakak tidak pantas merasa begitu. Tindakanku itu masih belum cukup untuk membalas apa yang sudah Kakak lakukan padaku," bisiknya seraya menyeringai tipis padaku.

"Memangnya siapa kau, berani mengaturku seenaknnya. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan selama ini," ujarku tajam, menatap langsung ke matanya. Aku merendahkan tubuhku sedikit agar bibirku bisa sejajar dengannya, sebelum berbisik. "Pindahnya Noura yang tiba-tiba bukanlah suatu kebetulan, adik kecilku."

Senyum Stella perlahan memudar, tapi sebelum dia sempat merespons, suara-suara lain mulai bermunculan dari arah simpang koridor.

Aku dapat melihat beberapa anak perempuan berjalan mendekati kami dari belakang Stella dengan salah satunya berkata, "Eh, itu kan Arabelle? Apa lagi yang dia lakukan pada Stella kali ini?" Pada kalimat yang mereka lontarkan aku dapat melihat langkah Stella menjauh dariku secara tiba-tiba sebelum dia dengan sengaja menjatuhkan diri, seolah-olah aku sudah mendorongnnya.

Gemetar bibir Stella saat dia meringkuk di lantai, kedua tangannya menopang tubuhnya seakan baru saja terhempas keras. Mata hanzelnya yang sebelumnya penuh kelicikan kini berubah bening, seolah-olah digenangi air mata yang siap jatuh kapan saja. Dan itulah yang terjadi—setetes, dua tetes, hingga akhirnya tangisnya pecah.

"K-Kak Ara... kenapa Kakak selalu seperti ini padaku? Aku hanya ingin menonton pertandingan bersama Kakak..." Suaranya parau, penuh luka yang dibuat-buat.

Aku membeku di tempatku, tangan masih terkepal di sisi tubuh, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku bahkan tidak menyentuhnya.

"Arabelle, kau keterlaluan!" salah satu dari mereka berseru.

"Kenapa kau selalu menyakiti Stella? Apa dia masih belum cukup menderita gara-garamu?"

Langkah kaki mereka semakin dekat, mengepungku dengan tatapan menyelidik. Seorang gadis berambut sebahu bergegas membantu Stella berdiri, menepuk-nepuk roknya yang seolah-olah berdebu. Yang lain menatapku dengan sorot mata penuh penilaian, seperti hakim yang sudah memutuskan vonis bahkan sebelum sidang dimulai.

PIPRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang