Wedding

1.6K 243 25
                                    

Keep enjoying guys
Don't forget vote and comment 😉



🥀__🥀






"Duh bundaaa, tangan aku dingin banget" Dona terkekeh lalu memegangi tangan putrinya. Putri satu-satunya yang harus ia lepas hari ini.

"Jangan gugup makanya adek" Chandra cemberut, semenjak Mark punya anak, seluruh keluarganya mulai jarang memanggilnya adek. Bahkan Mark sendiri pun lebih sering memanggilnya dengan nama.

"Jangan di adek-in. Nanti aku nangis" Dina dengan Marcell di pangkuannya menatap lucu interaksi Dona dan Chandra. Dulu saat pertama kali Mark mengenalkan Dina ke keluarganya, hampir semuanya tertawa karna perbedaan namanya dan sang calon mertua hanya antara i dan o.


"Dek, gugupnya gak usah dibawa panik, nanti malah kamu ngelakuin hal bodoh" Chandra mengangguk, Dina benar. Hampir semua kegugupan Chandra yang dibawa panik menghasilkan perbuatan yang mempermalukan dirinya sendiri.


Johnny masuk kedalam ruang makeover. Pernikahan Chandra dan Jeno tidak dilaksanakan di dalam gereja, melainkan di taman yang sudah di sulap sedemikian rupa. Jeno yang meminta pernikahan merela outdoor, lelaki itu sangat suka hal yang berbau menyatu dengan alam.

"Dra, yuk" Johnny mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Chandra.

"Kamu cuma nikah, ayah juga gak lepas tangan 100%. Status kamu cuma nambah, gak ada kurang. Kamu tetap anak ayah bunda, tapi juga istrinya Jeno. Ayah cuma harus mengurangi sedikit ikut campur kehidupan kamu. Tapi Chandra harus janji sama ayah, kalo butuh bantuan jangan sungkan ya sayang?" Chandra merasa matanya berembun.

"Ayah, kalo softlen ku lepas, aku gabisa masangnya lagi" Johnny terkekeh. Sampai kapanpun Chandra dan Mark akan tetap menjadi bayinya.


"Nanti biar bunda yang pasangin, Yuk keluar. Jeno sama pak pendetanya udah nungguin" Chandra mengangguk. Kemudian keduanya berjalan beriringan. Dona dibelakang keduanya memperhatikan.


"Sedihnya ayah keliatan banget ya bun??" Dina terkekeh, sembari menghapus air matanya.

"Malam sebelum pernikahan kamu sama Mark, dia nangis di toilet. Dan tadi malem, Chandra sama ayahmu quality time berdua di pondopo belakang rumah. Gak tau ngomongin apa yang jelas waktu balik ke kamar, ayahmu nangis lagi" Dona masih setia dengan senyum hangatnya.

"Dia cuma belum sanggup buat ngelepas tanggung jawabnya, apalagi setelah semua yang Chandra lewatin" Dina mengangguk, kemudian keduanya berbelok menuju bangku yang disediakan untuk mereka yang akan menonton ucapan janji suci dua pasangan yang akan menikah. Sementara Johnny dan Chandra berjalan perlahan di altar.

"Ayah, jangan nangis. Kayak yang ayah bilang. Status ku sebagai anak ayah itu gak akan pernah berubah. Jadi ayah jangan sedih" Chandra berbisik.

"Ayah gak sedih, ayah cuma terharu. Akhirnya putri ayah bakal punya pasangan yang nemenin dia disetiap saat" Chandra hendak membalas tetapi tidak sempat karna keduanya sudah sampai dihadapan Jeno. Jeno tersenyum hingga matanya menghilang.


"Jeno, selamat datang di keluarga ayah" Johnny mengucapkannya sambil memberikan tangan Chandra untuk di genggam Jeno.

"Halo ayah" Bohong jika jeno tidak senang. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali ia mengucapkan kata itu untuk seseorang. Baginya menikah dengan Chandra bukan hanya untuk Chandra, tapi juga keluarga Chandra. Keluarga yang bisa membuat nya merasakan kehangatan, Ketika Johnny berbalik badan, berniat ingin bergabung dengan Dona, Chandra meneriakinya. Tidak teriak dengan nada ngegas. Hanya ucapan biasa dengan intonasi yang lumayan menghangatkan.

"Ayah, I love you" Tidak ada satupun dari tamu undangan yang tidak terharu. Johnny tidak menoleh karna takut menangis.


Jeno menatap Chandea. Keduanya tersenyum hangat hingga saat sang pendeta berucap barulah keduanya mengalihkan tatapan mereka menjadi focus ke sang pendeta.

Hari itu, Chandra resmi menjadi istri Jeno, sah dihadapan negara dan agama. Tidak ada yang tidak bahagia atas kedua pasangan tersebut.









🥀__🥀











"Selamat ya" Jevan menghampiri Chandra dan Jeno yang sedang menatap tamu dari kursi pelaminan.

"Jevvvv, Thanks bro udah datang" Jeno memberikannya tepukan hangat.

"Istri lo kemana?" Chandra tidak melihat Nata di sekitarnya. Jika tidak salah ingat, Chandra memberikan undangan pernikahannya lewat Shena,

"Anak gue rewel, gak bisa datang dia" Jevan terkekeh lalu menunduk.

"Gue minta maaf dra. Gue seneng liat lo bisa tertawa selepas ini sekarang. Gue seneng ngeliat lo ketemu pasangan lo. Gue minta maaf kalo semua yang gue dan Nata perbuat sempat ngusik ketenangan lo. Maafin gue ya" Chandra mengangguk, ia merasa jika ia sudah tidak terikat dengan perasaannya ke Jevan. Toh sekarang dia punya Jeno.

"Gue pasti bahagia jev, lo juga harus bahagia oke?" Jevan mengangguk lalu mengalihkan tatapanya ke Jeno.

"Bro, Thanks ya. Lo udah baik banget. Tolong jagain Chandra" Jeno tidak membalas, ia hanya menggangguk. Setelahnya Jevan turun dan sepertinya ia langsung menghampiri orang tua Chandra.

"Kok dia bilang kamu baik?" Mendengar pertanyaan Chandea, Jeno mengerutkan keningnya.

"Emang aku gak baik?" Chandra terkekeh.

"Baik kokk. Jenk adalah lelaki terbaikkk di hidup Chandra setelah ayah dan kak Mark"

Jeno mencubit hidung Chandra gemas. Ia jadi ingin memarahi takdir yang tidak mempertemukan keduanya lebih awal. Jika keduanya bertemu lebih awal, mungkin Chandra tidak perlu merasakan sakit yang teramat untuk beberapa bulan lalu. Tapi ia juga lagi-lagi sangat berterima kasih kepada takdir yang telah dengan mudahnya mempertemukannya dengan Chandra.


Jeno, Chandra. Kalian harus bahagia.







🥀__🥀



Sorry kalo flat😭😭😭😭
Aku beneran gaada ide bikin wedding party gitu, gaada ide dan gaada gambaran.
Jadi sekali lagi maaf ya kalo jelek :((

Life✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang