09

1.8K 150 58
                                        

Happy Reading ...

Nb: Cerita ini dibuat ketika saya belum tau PEUBI yang baik dan benar.

Vote dan komen cerita ini
Terimakasih.

Pleas jangan jadi pembaca silent, tolong tinggalkan jejak walaupun cuma satu komen!!!
.
.
.
.
.

Jam pelajaran kedua sudah berlangsung sejak setengah jam yang lalu. Siswa dengan rambut hitam lekat beserta baju yang dikeluarkan itu berjalan santai melewati koridor kelas menuju rooftof gedung sekolah, siswa tersebut tidak takut jika nanti akan ketahuan guru bahwa ia membolos pelajaran.

Sampainya di rooftof, ia melihat seorang siswa yang selalu menjadi andalan sekolah, siswa teladan dan serta rajin. Tapi, lihatlah sekarang siswa tersebut sedang duduk di kursi panjang ditemani sebatang rokok yang hampir habis itu.

Arga tersenyum tipis melihat Skala yang begitu berbeda. Lihatlah siswa ambis ini sekarang berubah menjadi brandalan dalam waktu sekejap.

"Gue suka gaya lo yang sekarang," ucap Arga.

Skala langsung menatap Arga yang tiba-tiba muncul.

"Bukan urusan lo," sela Skala sinis.

"Ck ... Kira-kira gimana ya ekspresi bokap dan nenek lo kalau tau seorang Skala yang selama ini selalu dibanggakan kini menjelma menjadi brandalan?" cibir Arga.

"Nenek gue? Nenek lo juga goblok ...."

Arga tertawa mendengar ucapan Skala. "Haaa ... ha ... ha ... Sejak kapan gue dianggap cucu?" Nafas Arga naik turun, ia benci pada orang-orang yang selalu memuji Skala, terutama keluarganya.

"Gue bosen tiap hari harus denger nama lo yang selalu diucapkan nenek."

"Makannya lo jangan goblok," sambung Skala santai.

Arga semakin menatap Skala tajam. Skala merupakan sepupu Arga, tapi Arga tidak pernah mau mengakui itu.

"Lo sama Aleta–"

"Kenapa lo nanya Aleta?" potong Arga cepat.

"Nanya aja sih? jawab Skala sambil menyesap rokoknya itu.

"Gue tau lo jadian sama Aina bukan karena lo cinta kan sama dia?"

Skala rasanya ingin menghancurkan Arga sekarang juga. "Maksud lo?" geram Skala.

"Ya gue rasa lo jadian sama Aina cuma buat pelampiasan aja."

"Pelampiasan? Gue jadian sama Aina karena gue cinta sama dia," ucap Skala emosi.

"Gak usah banyak omong lo! Sebenarnya lo suka kan sama Aleta cuma lo aja yang gengsi karena lo ngerasa Aleta itu gak pinter kek lo, jadi lo malu kalau punya pacar kek Aleta," jelas Arga.

"Skala lo yang nyuruh gue buat deketin Aleta, jadi gue harap lo jangan ganggu gue mau apain Aleta," ucap Arga serius.

Skala mengepalkan tangannya, nafasnya memburu. Semuanya serba salah menurutnya. Skala benci dengan situasi ini.

***

"Ada yang tau Skala gak?" tanya Cici, sekretaris kelas IPA 1 saat sedang mengecek daftar hadir hari ini.

Semua orang yang di dalam kelas menggelengkan kepalanya. Kecuali Aleta, ia menatap kursi Skala. Tidak seperti biasanya Skala tidak masuk tanpa memberi kabar.

"Jio, lo beneran gak tau?"

Jio menggelengkan kepalanya. "Masa sih? Skala gak ada izin ke lo?" tanya Aleta memastikan.

SKALETA (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang