Haechan mengambil pisaunya, mengarahkannya pada pria berbadan besar dihadapannya. Kini mereka berada di dalam kamar, mereka terkepung dengan orang-orang bersenjata yang kehadirannya sama sekali tak pernah diprediksi.
"Tidak, kau tidak akan bisa menyentuh anak-anakku." ucap Haechan, dia menyodorkan pisau di tangannya, meskipun dia kini harus melindungi Jaena dan Jaewoo. Sedangkan suaminya sendiri masih ada diluar kamar untuk menghabisi penjahat yang ada diluar,
Hingga pertahanan terakhir Haechan hanyalah menyuruh Jaena dan Jaewoo pergi, namun belum sempat Haechan berucap demikian untuk memberi petuah itu, suara tembaan terdengar dan cairan merah mulai merembes membasahi piyama yang Haechan pakai sekarang.
"Papa!" Jaena langsung berlari menuju ke Papa-nya, sedangkan Jaewoo yang baru berusia satu tahun itu nampak kebingungan, hingga seseorang akhirnya mampu melupuhkan orang yang menembak Haechan itu.
"Daddy! tolong Papa!" ucap Jaena. Akhirnya setelah kericuhan itu, Haechan hanya bisa terbaring diatas ranjang.
"Papa papa!" Jaewoo yang duduk disebelah Haechan menepuk-nepuk pipi Haechan,
"Hiks, Papa...jangan tinggalkan kami." ucap Jaena.
Jaehyun tak bereaksi, dia hanya bisa melihat dari samping, ketika tubuh itu tak bergerak diatas ranjang.
"Pa!" Jaewoo semakin gencar memukuli wajah Haechan, namun masih tak ada reaksi hingga lama kelamaan bocah itu menangis dan mencubiti wajah Haechan. Seorang pria yang menggunakan jas dokter datang,
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Tuan Haechan." ucapnya, ia menggendong Jaewoo dan menutup tubuh Haechan dengan kain putih.
"Dokter brengsek! begini saja tidak becus." umpat Jaena sebelum pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah sedih. Jaehyun akhirnya ikut menggendong Jaewoo dan menyusul Jaena yang kini ada diluar ruangan,
"Jaena.." panggilan Jaehyun tidak dihiraukan oleh sang putri,
"Diam." ucap Jaena.
"Jaena...maafkan Daddy kare-"
"Kubilang diam! air mataku belum bisa keluar!" protes Jaena. Ia menoleh dan menatap Jaehyun dengan kesal,
"Aku hanya menahan tawa sedari tadi." ucap Jaena.
"Cut! harusnya kau menangis bocah!" protes Jisung.
"Berani mengataiku bocah?!" Jaena kini berlari ke arah Jisung yang memakai jas ala dokter, membubuhkan banyak pukulan meskipun hanya bercanda.
Haechan keluar dari kamar, "Sudah kuduga akan berakhir seperti ini. Tapi seru juga." ucap Haechan. Melihat suami manisnya itu, Jaehyun lantas mencium kening Haechan dan mengecup bibirnya singkat,
"Pa! pa!" Jaewoo merentangkan tangannya, meminta digendong oleh Haechan.
"Ugh...anak Papa kenapa menangis?" tanya Haechan sembari mengecupi pipi gembil Jaewoo.
"Makan malam sudah siap!" suara Renjun memanggil mereka, by the way Renjun adalah sepupu Kun, datang bersama kemari untuk merayakan ulang tahun Jaewoo yang ke satu tahun dan juga project abal-abal membuat film pertarungan ala-ala. Itulah kenapa tadi ribut sekali,
"Makan!" Jaena sudah berlari menuruni tangga terlebih dahulu dan berlari menuju ke ruang makan, bau masakan Kun dan Renjun sungguh menggoda iman.
"Mam mam!"Jaewoo ikut angkat bicara,
"Anak Daddy lapar hm?" Jaehyun mengambil alih Jaewoo dari gendongan Haechan,
"Aku akan berganti baju dulu." ucap Haechan, piyamanya masih terkena cat merah hasil dari tembak-tembakan tadi.

KAMU SEDANG MEMBACA
SUGAR DADDY (JAEHYUCK) (END)
Fanfiction"Apa yang kau lakukan?" "Ssstt...ada Papa-ku, diam," "Sshh.." -------------------------------------------------------------- Desclaimer: - Cerita ini mengandung unsur bxb - Tidak ada hubungannya dengan Sugar Daddy di lapak sebelah - 18+ - Action...