"Sabarlah sedikit Jin hyung, biarkan Taehyung lebih terbuka padamu, dia pasti bisa melewati semua ini."
.
.
.
"Hyung, jangan tinggalkan aku juga ya?" kata Taehyung di antara isakannya.
"Tidak, hyung akan selalu bersamamu,"
.
.
.
"Hyung, ini aku Hose...
"Habis ini kita kemana hyung?" tanya Jimin di kursi depan. Dia mengecek jam di ponselnya.
"Sekolah Jungkook," jawab Hoseok di kursi supir, mengencangkan sabuk pengamannya.
"Ah, kita harus ke sekolah Jungkook, bukan janjian saja di bandara?" tanya Taehyung di kursi belakang. Taehyung jadi ikut mengerling jam tangannya.
"Tidak, kalau kita janjian di bandara nanti Jungkook akan sampai lama," jawabnya, fokus menyetir.
"Bukannya kita akan semakin berputar-putar ya?" saut Taehyung gelisah.
Jung Hoseok tampak frustasi, dia sudah menambah kecepatan mobilnya penuh, tapi adik-adiknya malah semakin ngoceh di kanan kirinya. Tadi dia juga sempat terkena macet saat mobilnya keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja menuju kampus Taehyung dan Jimin.
Tak lama mereka sampai ke sekolah Jungkook dan menjemput anak itu.
"Belum terlambat kan?" tanya Jungkook buru-buru masuk mobil masih mengenakan baju sekolahnya. Tas ransel besar sudah di bahunya.
"Ntahlah," Jimin yang menjawab, sementara Taehyung fokus menatap jalan.
"Hoseok hyung keren sekali membawa mobilnya," ujar Jungkook di jalan, mengacungkan jempolnya.
Hoseok yang menyetir hanya nyengir di puji Jungkook. Menyelip-nyelip di antara mobil-mobil yang lain.
Sampailah mereka di bandara Incheon,
"Ayo..." makne line yang tampak sangat antusias keluar dari mobil.
"Tunggu," cegah Hoseok, dia mengangkat telfon yang berdering, "Dari Yoongi hyung," jawabnya.
"Ah ya bagaimana? Di mana kalian? Oh, baiklah kami akan menunggu," saut Hoseok.
Yang lain hanya saling pandang lalu kembali masuk ke dalam mobil.
"Ada apa hyung?" tanya Taehyung khawatir.
"Kita harus menunggu, pesawatnya sampai satu jam yang lalu dan hyung sekarang di kantornya,"
Nampak kekecewaan di wajah ke tiga anak itu,
"Kau sih kelamaan di WC," sulut Jungkook kepada Jimin,
"Kan aku sudah tidak tahan," jawab Jimin, mengingat tadi mereka sempat berhenti di POM bensin karena tiba-tiba Jimin mendapat panggilan alam.
"Kita akan tunggu di mana?" tanya Taehyung, mengabaikan Jungkook dan Jimin yang ribut sendiri.
"Kita cari tempat makan dulu, kalian belum makan siang kan?" tanya Hoseok,
Semua mengeleng, karena lapar mereka semua jadi sedikit sensitif.
"Nanti Yoongi hyung akan kirim alamat hotel," lanjut Hoseok, kembali melajukan mobilnya.
"Kok di hotel, tidak pulang ke rumah saja?" tanya Jungkook,
"Kurasa jarak bandara ke rumah terlalu jauh untuk hyung, lagian kantornya kan memang tidak jauh dari bandara."
Jungkook dan Taehyung saling pandang,
"Kita akan cari makan dekat sini saja, biar tidak terlalu jauh,"
"Hyung, kenapa aku merasa khawatir," bisik Jungkook,
Taehyung mengeleng, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Dia meraih ponselnya, ingin menelfon orang yang di maksud tapi perasaannya campur aduk tak tenang.
Sampailah mereka di salah satu restoran siap saji. Mereka berempat mengitari meja, dan memesan makan siang mereka.
"Tae makanlah, ini kan burger kesukaanmu," bujuk Hoseok, memperhatikan Taehyung yang sedari tadi lebih diam, berbeda dengan Jimin dan Jungkook yang masih saja ribut. Berebut makanan.
"Iya hyung," jawab Taehyung, tanpa bisa menyembunyikan perasaannya.
"Kenapa?" tanya Hoseok pelan, dia melihat gerak-gerik Taehyung tidak seperti biasanya.
"Apa hyung baik-baik saja?" tanya Taehyung, wajahnya cemas. Bahkan dia sepertinya tidak berselera menyentuh makanan sedikitpun. Mata Taehyung masih saja fokus ke ponselnya.
Hoseok akhirnya mengerti,
"Dia baik, kau jangan khawatir," kata Hoseok, dia menepuk bahu Taehyung lembut.
"Ah, kita kan jadi gagal memberi kejutan padanya," saut Jungkook, di sebelah. Mengiling makanan sebanyak mungkin.
"Kejutannya belum gagal, dia belum tahu kalau kalian di sini. Dia hanya tahu Yoongi hyung yang akan menjemputnya," kata Hoseok semangat.
Ketiga anak itu malah tambah murung,
"Oh ayolah, kenapa kalian sedih begini sih? Kalian lupa akan bertemu siapa?"
**
Kim Seokjin membuka pintu kamar hotelnya, belum sempat dia mengucapkan satu patah katapun seseorang sudah menerjangnya. Anak besar dengan lengan berotot.
"Hyung!!!" serunya, tanpa basa basi menubruknya,
"Ya ampun Jungkook," Seokjin tersenggal karena pelukan tiba-tiba dari kelinci besar itu.
"Aku kangen sekali," kata Jungkook semakin erat memeluk Seokjin.
"Hahaha, iya hyung juga, tapi hyung sesak," jawab Seokjin tersenggal. Namun senyum lebar tidak bisa dia sembunyikan.
"Hyung.....!!!!" teriakan panjang memekakan telinga berasal dari Jimin, juga ikut menerjangnya, memeluk pinggang Seokjin tanpa ragu setelah Jungkook menyingkir.
"Ya Jimin-ah, kau masih saja kecil mungil begini,"
"Ah hyunnggg, kau menyebalkan sekali," terdengar protesan Jimin menyusul, tapi wajah ceria dan cerahnya membuat Seokjin gemas. Seokjin mengusak surai Jimin yang menunjukan senyuman dengan mata sipitnya.
"Hyung, kau sehat?" Hoseok memeluk bahu Seokjin singkat, tampak sangat bahagia melihat kakak tertuanya itu. Akhirnya mereka bertemu lagi setelah sekian lama.
"Aku sehat," jawab Seokjin tersenyum tak kalah bahagia.
"Hyung," dan orang yang terakhir di lihatnya adalah Taehyung, berdiri paling belakang di antara mereka menunggu gilirannya.
"Taehyung," Seokjin langsung memeluk adik sepupunya itu erat-erat, melepas rasa kangennya.
"Kau baik?" tanya Seokjin, dia menepuk pipi adiknya yang semakin berisi dan tampan tentunya.
Taehyung mengangguk mantap,
Seokjin mengelus kepala Taehyung sayang,
"Aku merindukan kalian semua," kata Seokjin, menunjukan binar dari manik matanya yang luar biasa bahagia,
"Di mana Yoongi hyung?" tanya Hoseok kepada Seokjin.
"Dia pulang setelah mengantarku,"
"Kau benar tadi ke perusahaan?"
Seokjin tampak bingung,
"Ah sialan, orang itu mengerjai kita!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.