14. Change

755 83 0
                                        

"Makanlah Taehyung," bujuk Jimin. Dia dan Jackson mengunjunginya di rumah sakit esoknya.

Taehyung mengeleng, dia masih saja terduduk dengan lesu di ranjangnya. Jimin tampak sedih melihat keadaan Taehyung yang masih saja menolak makan. Tadi pagi dia bertemu dengan ayah Taehyung, dan dia meminta Jimin membujuknya makan.

"Pergilah, kau harus menjaga ayahmu," kata Taehyung, dia sudah tahu kalau ayah Jimin kecelakaan dan di rawat di rumah sakit yang sama dengan dirinya.

"Ayah Jimin akan pulang hari ini Tae, dia sudah tidak apa-apa," Jackson yang menjawab.

Jimin mengangguk menyetujui,

"Kau harus sehat, kita akan ada pesta kelulusan kan, kau harus sembuh," ujar Jackson.

Taehyung mengerjap. Kelulusan? Dia tidak mau memikirkan apapun. Dia akan lulus, tapi dihari bahagia itu, tidak akan ada dia kan? Hatinya tiba-tiba menjadi sangat sakit dan hampa.

"Aku tidak akan datang," jawabnya pendek, memalingkan wajahnya ke jendela kamar.

Dia tidak perlu melakukan apapun sekarang. Dia akan hidup seperti itu mulai sekarang. Tidak mau mendengar dan tidak mau berharap lagi. Tidak akan ada kebahagiaan setelah ini. Dia benar-benar hancur.

**

Jungkook setengah berlari memasuki gerbang rumah Seokjin. Dia membuka pintu dengan kasar. Dia mendapati Seokjin sudah rapih dengan setelan jas kerjanya.

"Hyung! Apa benar kau mengusir Taehyung hyung?" tanyanya langsung, to the point. Wajahnya kemerahan karena marah. Dia baru bangun dan Jimin memberitahu itu melalui chat dan meminta Jungkook memastikan itu kepada Seokjin.

"Aku tidak mengusirnya, aku hanya mengembalikannya kepada orang tuanya," kata Seokjin, tidak menatap Jungkook. Dia mengancingkan jasnya dan meraih tas kerjanya. Menghindari Jungkook.

"Kau gila? Kau tau apa yang kau lakukan bisa menyakiti hatinya," kata Jungkook semakin marah. Dia tidak mengerti apa yang kakaknya ini lakukan sekarang.

Seokjin tidak menanggapinya dan Jungkook memblokir jalan Seokjin.

"Aku harus ke kantor sekarang," Seokjin mendorong Jungkook agar minggir darinya.

"Jangan menghindar, aku hanya ingin tau apa alasanya kau melakukannya hyung?"

Seokjin memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam.

"Tidak ada alasan, dia toh harus kembali ke keluarganya, dia tanggung jawab ayahnya tentu saja,"

"HYUNG!!!" Jungkook membentak Seokjin, "Kau pikir alasan itu masuk akal? Kau tidak tahu betapa sedih dan sakitnya sekarang Taehyung hyung karena kau,"

"Kau juga harus pergi, kembalilah ke rumahmu atau ke rumah salah satu orang tuamu,"

Jungkook mendorong Seokjin ke tembok dengan mencengkeram kerah Seokjin. Dia tidak peduli, baju milik Seokjin berantakan, dia juga tidak peduli Seokjin tampak terkejut dengan tindakan Jungkook yang tiba-tiba.

"Kau mau mati??!!" kata Jungkook, matanya merah karena berang.

Tas kerja Seokjin jatuh ke lantai.

Seokjin kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Di tatapnya mata Jungkook dengan tajam.

"Kau mau membunuhku hanya karena memintamu pulang ke rumahmu yang sebenarnya?" Seokjin terkekeh.

"Kau pikir rumahku tempat penampungan," lanjut Seokjin sinis.

Darah Jungkook semakin mendidih mendengar kata-kata itu yang entah kenapa bisa keluar dari mulut seorang Kim Seokjin. Jungkook merepas satu tangannya dan akan mengarahkannya ke wajah Seokjin. Dia marah, dan ingin memukul wajah laki-laki yang sudah dia anggap kakaknya sendiri itu. Insiprasinya selama ini dan alasan dia bertahan dengan keadaanya yang menyedihkan karena hidup sendiri dengan kondisi ayah dan ibunya yang berpisah dan tidak rukun. Jungkook ingin sekali memukul laki-laki itu karena mulut pedasnya yang baru pertama kali dia mendengarnya dari dia.

"Pukul saja, kenapa berhenti?" tantang Seokjin, karena dia bisa melihat Jungkook tampak ragu.

Mata Jungkook memerah, mengantung kepalan tangannya di udara. Dia menunggu kalau saja, Seokjin hanya sedang becanda. Berharap Seokjin tidak sungguh-sungguh dan tidak mengatakannya dengan serius. Seokjin sering melakukan hal konyol dan tidak masuk akal, meledeknya, mengerjainya dan berakhir dengan wajah isengnya yang terkekeh puas saat Jungkook benar-benar dikerjai.

Tapi wajah Seokjin mengatakan hal lain. Jungkook tahu orang ini benar-benar menginginkan dia pergi dari hidupnya. Masih dengan posisi yang sama, Jungkook mencengkeram krah baju Seokjin lebih keras, hampir mencekik leher Seokjin. Seokjin kelihatan sudah kehabisan nafas. Namun kemudian seseorang masuk. Menyaksikan kejadian itu.

"Jungkook, apa yang kau lakukan!!!"

Min Yoongi muncul dan segera menarik tangan Jungkook, melepaskan cengkraman tangannya. Jungkook terlempar ke lantai saat Yoongi mendorongnya.

Seokjin terbatuk saat cengkraman Jungkook terlepas,

"Hyung kau tak apa?" tanya Yoongi cemas,

Seokjin mengeleng, dia bisa melihat Jungkook menatapnya. Tidak dengan tatapan marah lagi seperti sebelumnya. Seokjin bisa melihat ke dua mata Jungkook yang lebar menatapnya dengan pandangan pedih dan terluka.

"Kau sudah pesankan pesawat untukku kan Yoongi?" tanya Seokjin ke Yoongi, memalingkan wajahnya dari Jungkook.

Yoongi mengangguk, "Kau harus ke kantor dulu kan mengurus semua?"

Seokjin mengambil tas kerjanya di lantai, dan setelah merapihkan bajunya. Dia berbalik ke arah Jungkook.

"Aku kasih waktu hari ini untuk packing, barangmu tidak banyak kan," katanya, lalu pergi bersama Yoongi.

Jungkook meremas tangannya geram.

"Kau kenapa sih!!!!"

"Kau kenapa sih!!!!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_AlitaGladys_

My HeroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang