28

63 1 0
                                        

Setelah jam istirahat berlalu, suasana kelas kembali serius. Bu Sarah mulai menjelaskan materi di papan tulis, sementara sebagian besar murid mencatat dengan tekun-kecuali Fiki, yang hanya menopang dagu sambil memainkan pulpennya. Sesekali, dia melirik ke arah Aurel, yang duduk di bangkunya dengan fokus penuh pada buku catatannya.

Zweitson yang duduk di sebelah Fiki menyenggol lengannya pelan. "Lo ngeliatin Aurel terus, beneran naksir ya?" bisiknya.

Fiki mendelik sekilas. "Apaan sih, Son?"

"Ngaku aja lah, tadi lo juga ngajak dia pulang bareng," sambung Fajri, ikut menyenggol bahu Fiki dari belakang.

Fiki menghela napas malas. "Cuma kasian aja, anak cewek kan mendingan pulang bareng daripada sendirian," kilahnya.

Fenly yang mendengar itu langsung cekikikan. "Alasan klasik si anak denial. Padahal mah hatinya udah meleleh tuh!"

Fiki hanya menghela napas panjang dan berusaha mengabaikan mereka. Tapi, dalam hatinya, dia sendiri bingung dengan perasaannya terhadap Aurel. Mereka memang sering cekcok, tapi tadi di taman, Aurel terlihat begitu berbeda-lebih lembut, lebih perhatian, dan yang jelas, senyumannya tadi sukses bikin jantungnya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.

Jam pelajaran pun berlanjut hingga akhirnya bel pulang berbunyi.

Satu per satu siswa mulai berkemas dan meninggalkan kelas. Fiki berdiri dan merapikan tasnya, lalu menghampiri Aurel yang baru saja menyimpan bukunya ke dalam tas.

"Rel, yuk pulang," ajaknya.

Aurel menoleh, sedikit ragu. "Serius nih lo mau anterin gue?"

Fiki mengangkat alis. "Lah, tadi kan udah gue bilang, gak ada penolakan."

Aurel tersenyum tipis. "Oke deh, kalau lo maksa."

Fenly, Fajri, dan Zweitson yang masih ada di kelas langsung bersiul menggoda. "Woi, hati-hati di jalan, pasangan baru!" seru Fenly.

"Jangan lupa kabarin kalau udah sampe, takutnya malah mampir dulu ke tempat romantis," timpal Fajri sambil terkikik.

"Lo berdua tuh emang ada-ada aja," gerutu Aurel, sementara pipinya mulai merona.

Fiki hanya mengangkat bahu santai. "Udah ah, kita cabut duluan."

Mereka pun meninggalkan kelas bersama, sementara di belakang, ketiga sahabat Fiki masih terus menggoda mereka dengan tawa-tawa kecil.

Di perjalanan pulang, Fiki melirik ke arah Aurel yang berjalan di sampingnya. "Rel, lo serius gak keberatan cerita soal nyokap lo tadi?" tanyanya, kali ini dengan nada lebih pelan.

Aurel menatapnya sebentar, lalu tersenyum lembut. "Gue gak apa-apa. Justru gue seneng bisa cerita ke seseorang yang bisa gue percaya."

Fiki mengangguk pelan. "Kalau gitu, kapan-kapan giliran gue yang cerita," ucapnya, kali ini tanpa ada nada bercanda.

Aurel tersenyum lebih lebar. "Gue tunggu."

Dan tanpa mereka sadari, percakapan ringan itu membuat jarak di antara mereka semakin dekat-sedikit demi sedikit.

Setelah beberapa menit berjalan, Fiki dan Aurel sampai di depan gerbang sekolah. Fiki memasukkan tangannya ke dalam saku celana, sementara Aurel meliriknya sekilas.

"Lo bawa motor kan?" tanya Aurel.

Fiki mengangguk. "Iya, parkir di depan warung."

Tanpa banyak bicara, mereka pun berjalan menuju tempat parkir. Saat Fiki mengambil helm cadangan dari jok motor, Aurel menghela napas pelan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 31, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ABOUT FIKITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang