Dua Puluh Enam

832 52 1
                                        

HP Kanaya berbunyi kembali, kini ia sedang mengecek bahan-bahan makanan dikulkas, mencatat yang perlu dibeli besok.

"Nomor ini lagi..??? Nomor siapa sih..??" Gumam Kanaya sambil meletakkan buku catatan di atas meja kemudian dia menekan tombol panel warna hijau.

"Halo... siapa sih ini...???" Kata Kanaya judes.

"Dimana kamu...??"

Suara itu..?? Kanaya mengenalnya, pria yang akhir-akhir ini membuat hidupnya jadi berantakan.

"Kenapa...??" Hanya itu suara yang keluar dari mulut Kanaya.

"Saya jemput kamu sekarang, dimana kamu...??"

"Saya lagi sibuk..!!" Jawab Kanaya ketus

"Kamu itu masih asisten saya kalau kamu lupa...??"

Ok dech... kalo bukan karna ganti rugi... Kanaya tidak akan mau menjadi asistennya.

"Ok... ok... terserah anda. Saya di Restaurant Sweet Nice." Jawab Kanaya tidak ikhlas.

"Tunggu saya, 15 menit lagi saya sampai kesitu."

Tut... panggilan berakhir sebelum Naya sempat menjawabnya.

Dasar songong..!

15 menit kemudian Arsha benar-benar menjemput Kanaya dan membawa Kanaya menuju "salon twiligh" entah untuk apa.

"Dandani dia dan pilihkan gaun yang pas untuknya." Kata Arsha pada salah satu pegawai salon disana.

"Tuan... ini untuk apa..??" Tanya Kanaya bingung.

"Nanti saya jelaskan. Kamu ikuti mereka." Katanya sedikit lembut. Kanaya pun menurut dan berjalan mengikuti salah satu pegawai salon ini.

Hampir 1 jam Kanaya didandani karna dia selalu menolak make up yang terlalu glamor, al hasil banyak make up yang dihapus dan dirubah kembali. Untung saja Kanaya tidak diusir dari salon karna terlalu  merepotkan, memakan waktu yang banyak juga.

"Nyonya sudah selesai tuan.." kata salah satu pegawai yang mendandani Kanaya. Keluarlah Kanaya dengan menggunakan gaun warna biru keabuan.

Senyum Kanaya pudar sejak ia didandani tadi, dan lagi banyak sekali proses make up yang mereka lakukan pada wajah Kanaya, biasanya kalau Anggita yang make up in Kanaya itu simple  nggak glamor dan nggak terlalu lama selesainya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Senyum Kanaya pudar sejak ia didandani tadi, dan lagi banyak sekali proses make up yang mereka lakukan pada wajah Kanaya, biasanya kalau Anggita yang make up in Kanaya itu simple  nggak glamor dan nggak terlalu lama selesainya.

Waktu menunjukkan 19.00 WIB. untung saja Kanaya sedang berhalangan, jadi dia tidak terlalu was was karna belum menunaikan sholat maghrib.

Arsha masih memperhatikan Kanaya, senyum dibibirnya tampak sedikit mencuri perhatian Kanaya, dan itu berhasil membuat jantung Kanaya Lari pagi lagi.

Ya Allah... jantung gue sebenernya kenapa..? Gue lupa ke dokter spesialis buat tanya soal ini... akhir-akhir ini  jantung gue mendadak disko kalau lagi diliatin sama tuan muda ini. Heran gue...

Batin Kanaya berkecamuk, ia tidak menyadari seseorang terus memanggilnya.

"Kanaya..." akhirnya, sekian kali memanggil nama Kanaya, suara Arsha berhasil juga menyadarkan Kanaya dari lamunannya.

" akhirnya, sekian kali memanggil nama Kanaya, suara Arsha berhasil juga menyadarkan Kanaya dari lamunannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ayok..." ajak Arsha pada Kanaya sambil menarik tangan Kanaya untuk merangkul tangan kanan Arsha.

Kanaya tersentak kaget dan berusaha untuk melepaskan tangannya.

"Tu.. tuan... ini tolong lep..lepasin tangan saya..." pinta Kanaya lirih.

"Temani saya ke pesta pernikahan teman saya.."

"Tapi kenapa harus saya..?? Kenapa nggak kekasih tuan saja..??"

"Saya masih singgle.."

Kanaya tersenyum remeh. Padahal ganteng, dan juga tubuhnya bagus... ups... maaf keceplosan. Tapi kenapa masih jomblo aja, pasti nggak ada yang mau karna dia songong...

"Makanya.. jadi orang itu jangan songong tuan.." tanpa sadar Kanaya mengatakannya dengan suara yang bisa didengar oleh Arsha. Arsha hanya tersenyum menanggapi celotehan Kanaya tanpa berniat menjawabnya.

Kanaya memberengut sebal karena Arsha tidak menanggapinya. Padahalkan dia bilang seperti itu untuk memancingnya agar marah. Tapi usahanya ternyata sia sia.

Sebenarnya Kanaya sedikit penasaran dengan Arsha. Dia itu pria yang tampan juga mapan. Dia teringat baju baju wanita yang ada di kamar ganti Arsha. Tapi urung ia tanyakan kepada Arsha.

"Bukan urusan gue juga sih..." gumamnya lirih. Hampir terdengar oleh Arsha.

"Kenapa...??" Suara Arsha membuyarkan fikiran Kanaya tentang Arsha.

"Oh... tidak... tidak apa apa tuan." Jawab Kanaya sambil menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, ayok jalan..."
Ajak Arsha sambil menarik tangan Kanaya agar mengamit tangannya.

Mereka berjalan bak pasangan kekasih yang sangat serasi. Hampir semua wanita yang ada di salon melihat kearahnya, terutama melihat kearah pria yang bersama Kanaya.

first love ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang