Kanaya Cintami gadis yatim piatu yang harus pasrah untuk menjadi Asisten Pribadi dari seorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"terserah anda... kalau anda tidak mau jadi asisten pribadi saya, brati anda harus membayar ganti rugi atas kerusakan mo...
Anggita dan Reihan sampai dirumah mewah milik Reihan. Setelah insiden tadi. Anggita tidak mau lagi masuk ke mini market itu. Ia hanya menunggu Reihan di mobil, Reihan kembali dengan membawa belanjaan yang tadi sempat dipilih. Setelahnya Reihan mengajak Anggita untuk pulang kerumahnya dahulu sebelum nanti mengantar Anggita pulang kerumah Anggita.
"Soal yang tadi..." suara Reihan terdengar lirih saat mereka memutuskan untuk duduk di sofa kamar Reihan. "Saya serius.. apa boleh saya menjadikan kamu milik saya seutuhnya..??"
Sumpah, jantung Anggita sekarang sedang bersiap untuk terjun payung, ia sangat deg degan mendengar kata keramat yang diucapkan oleh Reihan. Mungkin juga pipinya kini sudah terlihat semburat kemerahan. Karna Ia merasakan pipinya memanas. Entah kenapa.
"Apa kamu mau menerima saya menjadi suami kamu untuk sekarang dan selamanya..?" Kini Reihan sudah memegang kedua telapak tangan Anggita. Anggita menatap Reihan. Ia menelisik lewat mata Reihan, mencari keseriusan dari matanya.
"Saya... saya tidak tahu..." jawab Anggita ragu. Ia kan baru kenal Reihan belum lama, tidak mungkin ia mudah mempercayai orang yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.
"Kamu cukup diam saja. Biarkan saya yang berjuang untuk kamu, saya sendiri yang akan menanamkan rasa cinta dihati kamu untuk saya. Berikan saya waktu dan biarkan saya yang menjalankannya. Saya hanya minta satu. Tolong jaga hati kamu hanya untuk saya saja.." Reihan sedikit bergetar suaranya. Mungkin ia gugup.
Anggita tidak tahu harus menjawab apa...?? Ia masih bingung dengan perasaannya. Bukankah selama ini yang ia sukai adalah Raka...???
Reihan mendekatkan wajahnya pada Anggita. Dan sekali lagi. Bibirnya menempel dibibir Anggita lembut, Anggita diam saja tanpa membalas ciuman Reihan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah puas menikmati bibir ranum Anggita, Reihan memeluk erat tubuh Anggita. Ia benar benar telah teramat mencintai gadisnya ini.
"Bermalamlah disini, saya masih ingin bersama kamu..." pinta Reihan pada Anggita.
"Maaf... Tapi saya tidak membawa baju ganti..??" Tolak Anggita.
"Kamu bisa pakai baju saya. Kamu mandi dulu setelah itu beristirahatlah, kamu pasti lelah." Kata Reihan lembut dengan masih tetap memeluk Anggita.
Anggita ragu, tapi kemudian sesuatu membuyarkan adegan pelukan mereka.
Kruyuk kruyuk...
Itu suara perut Anggita. Ia ingat sekali bahwa ia belum makan sejak siang tadi, dan saat dipesta pernikahan mereka tidak makan apa apa, Reihan hanya menyalami pengantin dan setelah itu ia bertemu Kanaya kemudian ke mini market dan.. ah... Anggita tidak mau mengingatnya lagi.
Ia masih sakit hati karna ucapan sahabatnya itu.
"Kamu lapar...?? Sebentar saya minta bi Minah mengambilkan makanan untuk kita, kamu mandi dulu dan ganti baju kamu dulu." Perintah Reihan dengan nada lembut. Anggita mengangguk dan segera menghambur ke kamar mandi.
"Kanaya udah pulang belum yah..?? Gue mau titip izin aja sama dia ke mama, nanti dech habis mandi gue telpon Kanaya." Katanya, kemudian ia memulai ritual mandinya.
Setelah memilih salah satu baju milik Reihan, Anggita berjalan kearah balkon dan mencoba menelpon Kanaya.
"Hallo Nay... lo dimana sekarang.. lo udah pulang kan..??" Berondong Anggita saat telponnya tersambung.
"Maaf, tapi Kanaya sudah tidur, dia belum pulang, masih dirumah saya, saya tidak tega untuk membangunkannya." Itu bukan suara Kanaya. Itu mungkin suara pria yang tadi bersama Kanaya. Sudah sejauh mana mereka berteman,,?? Kenapa Kanaya bisa bisanya tidur dirumah seorang pria, besok Anggita akan menanyakannya langsung.
"Oh... ya sudah kalau begitu, besok pagi pagi sekali Kanaya suruh menelpon saya, saya mau bicara sama dia. Makasih sebelumnya sudah mau menjaga Kanaya, dan, tolong jaga batasan anda pada Kanaya." Kata Anggita sok bijak.
"Baik.. ada lagi..??"
"Cukup. Itu saja. Jangan lupa sampaikan pada Kanaya kalau Kakaknya menelpon. Terima kasih. Selamat malam." Akhiri Anggita.
Bisa bisanya Kanaya tidur dirumah seorang pria, semoga saja pria itu tidak berbuat yang lebih pada Kanaya. Anggita sedikit tidak tenang memikirkan Kanaya. Namun angin malam membuatnya sedikit nyaman. Kemudian ia membuka HP nya dan mengabadikan momen indah ini dalam kamera HP nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Reihan mencari cari Anggita dan menemukan gadisnya itu sedang berada di balkon menikmati angin malam yang sepoy sepoy. Entah kenapa ia melihat Anggita begitu seksi dengan kemeja kedodoran miliknya. Dipeluknya tubuh Anggita dari belakang.
"Kamu bisa masuk angin kalau malam malam begini diluar dan hanya memakai baju seperti ini." Suara lembut Reihan selalu menyejukkan hati Anggita. Entahlah, apa Anggita mulai membuka hatinya untuk Reihan..??
"Masuklah, kita makan dulu, dan habis itu kamu istirahat." Lanjutnya lagi.
"Sebentar, saya telpon mama dulu." Jawab Anggita.
Terpaksa kali ini harus membohongi mamanya, kalau ia dan Kanaya nginep dirumah orang tua asuh Kanaya, kebetulan rumah itu masih kosong.