Kanaya Cintami gadis yatim piatu yang harus pasrah untuk menjadi Asisten Pribadi dari seorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
"terserah anda... kalau anda tidak mau jadi asisten pribadi saya, brati anda harus membayar ganti rugi atas kerusakan mo...
"Ok... lebih baik gue pergi dari sini secepatnya,,," gumam Anggita dalam hati. Tak lupa juga dia menaruh uang 500ribu itu di atas meja. Mumpung dia nggak liat gue...
Jalannya mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh pemilik rumah ini. Sampai di pintu ternyata, ceklek ceklek...
"Aduh... kok pintunya dikunci sih...?? Sejak kapan...???" Katanya lirih hampir tidak terdengar oleh siapapun jika saat ini ada banyak orang disekitar Anggita.
"Jangan harap anda bisa kabur dari saya."
Mampus,,!! Itu suara si tuan muda. Anggita bingung saat ini, buntu sekali otaknya. Ia harus memikirkan cara untuk bisa bebas dari sini. Ayok berfikir Gittaaa .. beefikiiirrr..
Aha....!!!
"Gue punya ide..." lirihnya
"Hmmm... saya nggak kabur kok, cuma saya mau ketoilet sebentar, kebelet" katanya sambil memasang ekspresi saat orang menahan sesuatu didalam perutnya.
Pasti berhasil. Tidak mungkin kan kalau diruangan ini ada toiletnya. Pasti ia akan membuka pintu ini... akhirnya... bisa kabur juga... Anggita bersorak sorai memuji otaknya yang tanggap juga menemukan ide cemerlang ini.
"Silahkan... disana toiletnya." Kata si pria itu lagi sambil menunjuk ke arah belakang rak-rak buku disini. Anggita sendiri tidak terlalu fokus ternyata pria itu sudah berada di depannya..
Aduh mati..!! Mati...!!!
Gue salah strategi lagi. Bego bego bego... rutuknya sambil memukul jidatnya lirih.
"Kenapa...??? (Pria itu semakin mendekat membuat Anggita mundur dengan waspada) anda mau kabur dari saya...??" Katanya dengan senyum yang menyeramkan. Dia semakin mengukung Anggita.
Anggita sudah tidak bisa bergerak kemana mana lagi. Punggungnya mentok menabrak pintu dan kedua tangan pria itu sudah mengunci tubuh Anggita..
Mama... papa... Naya... tolongin gue...
Ia merutuki kebodohannya yang memilih kesini hanya untuk membayar hutangnya. Tahu gitu tadi Anggita titipkan saja uang itu pada satpam tadi.
Waaaaahhhh.... siapapun... tolongin gue...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Ini hanya sekedar gambaran adegannya ya)
Anggita memalingkan wajahnya. Dia tidak suka pria itu melihatnya secara intens seperti ini. Dia berusaha menormalkan jantungnya. Anggita tidak pernah sekalipun merasa seperti ini pada pria manapun walaupun itu Raka, pria yang dicintainya saat ini. Jantungnya benar-benar terasa ingin copot dan melompat ke bawah.
"Gue kenapa ini...???" Batinnya
"App... appa yang anda lakukan..??? Menjauhlah sedikit, saya tidak bisa bernafas ini..." akhirnya bisa juga Anggita mengeluarkan kata-kata itu setelah dia berusaha menahan rasa gugupnya.
"Memangnya anda pikir saya mau ngapain..??" Jawabnya sedikit serak dan tersenyum miring kearah Anggita.
Gue benci sama jantung gueeee.....
Batin Anggita masih saja berkecamuk merutuki kebodohannya. Apa yang harus dilakukannya, apakah dia harus menerima 3 permintaan itu saja agar masalah cepat selesai dan dia bisa keluar dari sini. Masalah 3 permintaan itu bisa Anggita pikirkan nanti saat jantungnya sudah tenang dan fikirannya sudah fresh kembali. Ok baiklah... Ayok Anggita... lo pasti bisa... Soraknya sambil menyemangati diri sendiri.
"Ok... ok... saya terima 3 permintaan itu. Sebutkan saja..." Anggita sedikit bergetar saat mengatakan itu.
Perlahan pria itu mulai mundur dan menjauhkan badannya sedikit dari Anggita.
"Nanti saya kabari lagi 3 permintaan itu. Mana HP anda...??? Jawabnya sambil meminta HP Anggita. Ragu-ragu Anggita memberikan HPnya pada pria itu.
Entah apa yang dilakukannya pada HP milik Anggita. Yang ada difikirannya sekarang adalah pergi dari rumah ini secepatnya.
Haah... lega...
Akhirnya setelah si pria memberikan HP dan uang milik Anggita, Anggita bisa lepas dari rumah ini.