Catatan 12

49 3 6
                                        

Tepat tengah hari, aku pulang dari kantor Desa setelah mengurus beberapa hal terkait acara 17 Agustus nanti. Fadli berjalan di sampingku, memijat pelipisnya pelan seraya membaca kembali catatan yang diketik dalam gawainya.

"Kebanyakan dari kita bakal upacara ke kecamatan ngikut dari sekolah masing-masing, ya? Bener gak sih aku tadi bilangnya gitu?"

"Iya. Tinggal masalah mereka minta anggota kita buat bantu acara tabligh akbar. Pisah itu mah, gak bisa ikut jadwal kita."

Aku menghela napas, kepala rasanya mau pecah. Pingin banget tadi teriak di depan kadesnya, "YANG BENER AJA WOY! UDAH KURANG ORANG NIH BUAT ACARA KITA SENDIRI! MALAH DIMINTAIN!"

Kronologis kepeningan ini dimulai ketika Irham meminta Fadli untuk menghadiri rapat desa yang akan membahas tentang Agustusan. Dan aku ditunjuk Naren untuk mewakili dia dari tim acara. Urusan rapat desa biasanya Irham dan Naren yang menghadiri, tapi mereka berdalih bahwa rapat kali ini ada hubungannya dengan acara kita. Jadi dengan berat hati aku menyutujui.

Mau nolak juga gak nemu ide bagus. Aku free sedangkan jadwal mereka sibuk. Itung-itung ganti hutang aja deh karena kemarin aku sering melipir. Eh, tapi ternyata rapat desa hari ini menguras emosi. Pingin banget ngegampar orang-orang desa, sumpah! Kebayang Irham-Naren kalo rapat kayak gimana, ini kita baru sekali aja udah pingin baku hantam.

Berkali-kali aku melihat Fadli mengepalkan tangan, meredam marah, ketika keberatan yang ia ajukan tak digubris. Acara tabligh akbar yang digelar dari pihak desa katanya sudah masuk acara tahunan, nggak bisa diganggu gugat. Jadi kita sebagai mahasiswa yang 'numpang' di tempat mereka setidaknya harus mengalah dan bantu-bantu juga. Padahal sudah dijelaskan kalau beberapa hari ke depan kita memiliki acara khusus untuk anak-anak dan masyarakat. Tapi nggak didenger, sialan!

"Kira-kira siapa yang mau bantu ke desa, ya?" Fadli menyugar rambut asal, dan memasukkan gawainya ke saku celana.

Aku mengangkat bahu, acuh. Yakin deh pada nggak mau dan keberatan. Jobdesk kita aja sepadat dosa. Alamat rapat posko nanti malem bakal panjang, nih!

"Eh, itu si Irham kan, ya? Makin lengket aja sama Hana."

Aku melihat arah pandang Fadli, dan tepat beberapa langkah di depan, sepasang anak manusia tengah terlibat perbincangan seru sampai tertawa sumringah.

"Lengket? Maksudnya?" Entah kenapa aku merasa kesal mendengar kata itu. Lalu melihat interaksi Irham dan Hana yang begitu akrab di sana membuatku ingin mendorong mereka masuk got.

"Mereka pacaran kali. Tuh, jalannya aja mepet. Gue pisahin aaaah."

Mendengar ucapan Fadli barusan, mataku membulat sempura, mengeratkan gigi, dan menahan diri untuk tidak mewujudkan keinginan tadi.

Gila lu, Ham! Tiap hari chat sama aku, sampe nyimpen makanan di tas itu maksudnya apa? Tapi sekarang sama Hana kayak gitu?

Tingkah tengil Fadli muncul, seolah energi yang terkuras di desa tadi full kembali. Fadli kayaknya selalu punya cadangan energi untuk menggila.

Dia berjalan perlahan, mengejutkan mereka berdua, dan langsung menggaet Hana. Kekehan Hana terdengar, sedang Fadli melirik ke arahku, matanya mengisyaratkan agar aku melakukan hal yang sama pada Irham.

"Najis banget digandeng biawak got!"

Fadli hanya memutar pandangan sebagai respon ucapanku yang ketus. Aneh, kenapa nada suara aku kayak gitu? Padahal tadi di desa masih bisa kalem. Hana akhirnya berjalan beriringan dengan Fadli setelah menyapaku sekilas, dan aku beriringan dengan Irham.

Irham menjadi Irham yang seperti biasa di sampingku. Bertanya, bercanda, bahkan menawariku topinya untuk menghalau panas.

Jangan bikin salah paham dong, Ham! Nanti aku baper sama kamu gimana?

REMEANT: DanikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang