Catatan 2

96 8 2
                                        

Hari-H keberangkatan datang juga. Kami ke Purwakarta pakai tiga kendaraan. Ada yang pakai motor, kereta, dan bus. Aku masuk tim naik bus, karena satu, gak bisa bawa motor, terus gak ada yang mau boncengin. Dua, jarak kosan ke stasiun kereta juga lumayan jauh, jadi lebih aman naik bus aja.

Di bus suasananya masih canggung. Mereka lebih milih diam ketimbang ngobrol. Yah, beda-beda jurusan disatukan, butuh waktu lah buat mengakrabkan diri, kebanyakan malah ngobrol sama teman yang sudah mereka kenal. Nasib aku yang dibuang sendiri ke kelompok ini, nggak ada temen yang dikenal. Si Rahma di Gunung Halu, ujung banget, parah! Kalo aku rindu cuman bisa video call, kalo ada signal itu juga. Mikirinnya aja jadi sedih sendiri.

“Dan, aku nggak ada temen sekelas di sini, terus yang nyambung aku ajak ngobrol cuman kamu deh, kayaknya,” bisik Kay padaku.

Kaylila nama panjangnya, orang yang ngasih lihat buku pembekalan KKN ke aku waktu itu, masih inget?

“Sama, Kay! Aku juga nggak ada yang sekelas. Saling menjaga yah nanti di sana.”

“Kayak mau apa aja kita di sana, Dan!”

“Merantau di tanah orang, ih! Aku kan belum tahu situasi di sana, gimana kalo ada zombie atau dedemit atau…”

“Gila! Parah amat pikiran kamu! Nggak ikut survey, yah?”

Dalam hati aku menggerutu, ya gimana aku mau ikut, mikirin perjalanan waktunya aja ogah banget, mending rebahan di kasur. Kalo udah kayak gini kan mana bisa rebahan mulu.

“Tenang aja, Dan. Rumahnya nyaman kok, warganya juga ramah-ramah,” aku suka senyumnya Kay. Kayak senyum mamih aku, menenangkan.

Perjalanan menuju lokasi memakan waktu dua jam. Sebelum ke posko, kita ada penyambutan di balai desa, lalu izin ke Rt dan Rw, bahwa kita ‘ada’ dan akan melakukan ‘kegiatan’ di desa mereka. Semacam izin ‘nge-berisik-in’ gitu lah. Kan? Nggak ada waktu buat rebahan kata aku juga.

Posko tempat kita bernaung selama tiga bulan ke depan adalah sebuah rumah dengan dua kamar, dapur, ruang makan, ruang tv, dan ruang tamu. Cuaca Purwakarta nggak bersahabat dengan aku yang biasa hidup dengan cuaca sejuk. Ada satu kipas angin di ruang tv, pertama kali masuk rumah langsung aku nyalain dan kuasain sendiri. Gak tahan, gerah banget!

Orang lain sibuk nempatin kamar, apalagi perempuan, aku juga perempuan sih, tapi kipas angin lebih menyita perhatian. Soal tempat tidur aku nggak mempermasalahkan, aku bawa sleeping bag yang bikin was-was kalo malem nanti masih panas juga nggak, ya?

“Dan, kamu sekamar sama aku, ya! Barang-barang kamu mana? Aku masukin ke kamar,” lagi asyik-asyiknya ngangin si Kay tiba-tiba dateng ngomong kayak gitu.

“Itu masih di luar, yang koper merah.”

“Ih, ini anak nyantai banget sih, orang lain pada rusuh tahu nempatin kamar.”

“Maafin Dani ya bunda….” Aku nyengir dan nerusin ngangin setelah si Kay ngacir ke luar.

“Dan, bawaan kamu cuman sekoper???!!” Kay nanya sambil teriak dari luar.

“Iya, cuman koper itu aja sama ransel ini yang aku gendong, nggak bawa apa-apa lagi.”

“Kok bisa cukup? Tiga bulan loh kita di sini,” cerocos dia lagi padaku pas mau masuk kamar dengan wajah heran.

“Ya Allah Kay… justru kita cuman tiga bulan, bukan tiga tahun!”

Dia menepuk jidat, “Cuman kamu deh kayaknya cewek di posko ini yang bawaannya simple dan nggak ngabisin tempat.”

“Keren kan aku?”

“Ih, dasar!”

Aku cuman nyengir kuda melihat tingkah Kay yang mirip Rahma, suka ngomel kayak ibu-ibu. Jadi aku merasa bersyukur dipertemukan lagi dengan orang yang seperti itu, alarm berjalan.

REMEANT: DanikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang