Chapter 6: Nevertheless

358 87 9
                                        

Cklek...

Anna mengenggam knop pintu utama dan membukanya perlahan. Suasana rumah seperti biasa, sepi dan gelap.

Huft, pasti ayah bunda belum pulang, batin Anna sambil berjalan menuju kamarnya

"Ayah dengar kamu mewakili sekolah lagi?"

Tanpa memutar kepalanya, dirinya sudah tau siapa yang tengah berbicara padanya. Anna terdiam sambil menunggu kata yang diucapkan ayahnya. Mulutnya mendadak kelu, tubuhnya menolak untuk bergerak sedikitpun, walaupun ayahnya berdiri tepat dibelakangnya.

"Jangan mengecewakan ayah lagi, cukup sekali kamu membuat kesalahan"

" Sudah saya duga jika ayah akan berucap begitu." Jawab Anna pelan dengan tubuh yang tetap membelakangi lawan bicaranya

"Saya akan berusaha sekuat saya. Supaya tidak mempermalukan kalian" ucap Anna dengan nada dinginnya sambari mulai berjalan kembali menuju kamarnya.

Anna sudah sangat hapal dengan respon yang akan diberikan ayahnya ketika dia menjadi perwakilan sekolah. Sedari kecil dirinya dipaksa untuk menjadi wanita sempurnya. Terlahir cantik, Pintar, dapat menempati peringkat tertinggi, menang berbagai perlombaan, kemudian berpendidikan tinggi, menjadi wanita karir, selanjutnya menikah dan punya anak. Sesempurna itu untuk menjadi seorang wanita, sangat sulit pikirnya.

Bahkan saya tidak tahu apa yang saya lakukan, batin Anna

Flashback On

Riuh penonton dengan teriakan ribuan atau bahkan ratusan orang yang saling bersautan di gedung itu tidak berhasil mendapatkan sedikitpun perhatian Anna. Anna tetap terdiam menunggu selesainya acara kali ini.

"Sudah cukup kita menunggu bapak/ibu sekalian, akan saya umumkan pemenang Olimpiade Kimia tingkat SMP/sederajat tahun ini."ucap seorang wanita dengan microfon ditangannya dan berdiri ditengah panggung lebar dalam Gedung Olimpiade Nasional saat ini.

"Dan pemenangnya adalah...... Keanna Amanda dari SMP Budaya Bakti Jakarta. Untuk Keanna dipersilahkan menaiki panggung utama" lanjut wanita itu

Anna mendengar namanya menjadi juara lantas berjalan santai dengan tatapan dinginnya menuju panggung yang dimaksud. Anna berdiri didepan ribuan orang yang tersorot kearahnya. Setidaknya dengan piala besar yang sekarang berada di genggamannya, berhasil menyenangkan ayahnya.

"Pasti kamu bahagia atas pencapaianmu Keanna?" tanya sang MC wanita  sambil menyodorkan microfon ke Anna. Anna memelihat itu hanya tersenyum mengangguk kepala singkat dan berjalan menuruni panggung tanpa menyambut uluran microfon MC tadi.

Anna berjalan menuju tempat duduk kedua orang tuanya. Anna berhenti dan melihat senyum hangat tergambar oleh kedua orangtuanya didepannya.

"Ini buat ayah, semoga saya tidak menjadi anak yang mengecewakan lagi" ucap Anna sambil menyodorkan piala tadi pada ayahnya. Ayah Anna mengedarkan pandangan dan ternyata banyak orang melihat kearah mereka. Lantas pria itu tersenyum hangat mengambil piala dan bergerak memeluk anak perempuannya.

"Ini hanya awalan yang baik, bulan depan ada olimpiade serupa. Jangan mengecewakan ayah disana" ucap ayahnya tepat di telinga Anna ketika memeluk anaknya tadi.

"Jangan mengecewakan ayah, jadilah wanita sempurnya" tambah pria itu sambil perlahan melepas pelukan pada putrinya.

Ekspresi dingin tetap digambarkan di wajah Anna. Bahkan tubuhnya tetap malas bereaksi setelah menyerahkan piala tadi.

Toh.. tugasku hanya mendapatkan hadiah menyerahkanya, batin Anna

Flashback Off

Feign [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang