Penghuni Baru : Narendra

1.7K 227 1
                                        

       Laki laki berkulit putih itu memandangi papan didepan sebuah rumah yang bertuliskan "Kost Babeh Guntur". Ia menghela napas lalu berjalan memasuki rumah dua lantai tersebut.

       "Permisi." Ucapnya, Tak lama kemudian seorang remaja muncul dengan wajahnya yang nampak dingin.

       "Mau ngekost disini? Langsung ke rumah depan aja, Rumah babeh." Remaja bertubuh mungil itu nampak enggan berbicara dan berjalan melewati Narendra begitu saja.

       Narendra menelan ludah, Awal yang membuatnya sedikit takut. Seorang tunarungu yang mencoba tinggal serumah dengan orang asing memang terdengar mustahil. Ia tak tahu apa yang laki laki tadi karena cara berbicaranya lebih pantas dikatakan sebagai gumaman.

       "Eh penghuni baru ya? Udah ke rumah Babeh Guntur belum?" Senyum Narendra merekah saat melihat dua orang menyambutnya hangat. Salah satu dari mereka berjalan dengan alat bantu berupa tongkat.

       Narendra tak melepas pandangannya dari kaki seseorang yang terlihat berbeda dengan kaki orang pada umumnya.

       "Kaki gue kaki palsu." Ucap si pemilik kaki itu, Nada bicaranya terdengar sedikit tersinggung.

       "Ini kaki palsu ya?" Narendra bertanya dengan penuh rasa penasaran. Mendengar itu dua orang didepannya hanya saling tatap dengan ekspresi bingung.

       "LO BUDEG APA GIMANA?GUE UDAH BILANG KALO KAKI GUE KAKI PALSU!!" Pemilik kaki itu berteriak kesal karena merasa pertanyaan Narendra adalah pertanyaan yang mengandung ejekan.

       Narendra jelas terkejut melihat reaksi lawan bicaranya, Kali ini ia berhasil membaca bibir si pemilik kaki palsu itu. Seketika Narendra merasa bersalah. Ia menyesali pertanyaannya beberapa waktu lalu.

       "Anu, Maaf gue tunarungu. Maaf kalo pertanyaan gue menyinggung perasaan lo,Maaf."

       Mereka berdua terdiam, Sama sama merasa bersalah karena telah bersikap kurang sopan terhadap satu sama lain.

       "Oh hai, Nama gue Satria. Ini temen gue namanya Theo. Kita minta maaf karena nggak tau kalo lo tuli. Udah ke rumah Babeh Guntur belum? Kalo belum ayo kita anter, Kita juga mau kesana."

       Narendra terkesan dengan kemampuan Satria yang begitu mahir menggunakan bahasa isyarat. Gerakan bibirnya juga terbaca jelas oleh dirinya yang sering kesulitan membaca gerak bibir orang.

       Ketiganya pergi ke rumah yang berhadapan dengan kost tadi. Mereka melihat seorang gadis yang sedang berbincang dengan seekor kucing anggora.

      "Cinta, Babeh lo ada ngga? Ada yang mau ngekost nih."
       "Ada, Masuk aja paling Babeh lagi main sama burungnya."
       "Gede apa kecil Cin burungnya?" Pertanyaan Satria dihadiahi sebuah pukulan dari Theo.
       "Yaelah pake nanya, Kan lo semua udah sering liat burung gue." Seseorang menyeletuk dari arah dalam.

       Tak lama, Terlihat pria berusia 40 tahunan keluar dari rumah sembari menenteng sangkar burung. Badannya tinggi besar, Terlintas kesan sangar bagi siapapun yang baru pertama kali melihatnya.

       "Babeh, Ini ada yang mau ngekost jadi kita anterin ke sini. Oh iya Beh kita juga mau numpang mandi, Kamar mandi kost dipake Kenan sama Panji." Tutur Satria. Tangannya menjinjing gayung yang didalamnya berisi odol dan teman temannya.

       "Gih, Jangan lama lama lo berdua mandinya. Oh iya sini masuk tong. Cinta, Siapin minum jangan main kucing aja kerjaan lo."

        "Maaf Babeh, Saya seorang tunarungu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya berharap Babeh bisa memperjelas gerak bibir biar bisa saya baca."

       Babeh Guntur mengangguk lalu tersenyum ramah. Tangannya meraih pergelangan Narendra dan mengajaknya masuk.

       "Kita ngga diajak beh?" Ucap Theo. Mereka berdua masih berdiri di teras ditemani dengan kucing Cinta dan burung dalam sangkar.
       "Lo bedua kan biasanya juga keluar masuk rumah gue kaya maling. Apa perlu rumah gue dipakein kata sandi? Jangan berlagak orang baru deh, Gue getok pala lo pake tongkat sihir Harry Potter nanti."

       "Cailah gaya bat Harry Potter, Biasa juga nontonnya pertarungan Nenek Lampir dan Nyi Blorong." Gumam  Theo.

●●●

       "Naren, Sekarang lo udah jadi penghuni kost Babeh, Otomatis lo jadi anak Babeh juga. Kalo ada masalah jangan sungkan cerita, Gini gini Babeh kaga kudet. Lo mau cerita soal apa? Update gosip di twitter? Jual beli burung? Semuanya babeh ngerti."

       Narendra hanya tersenyum. Pantas saja penghuni kost disini terlihat begitu dekat dengan pemiliknya. Ternyata Babeh Guntur begitu menyenangkan. Terlihat beberapa orang berlalu lalang memasuki rumah Babeh Guntur untuk sekedar makan atau meminjam barang selama sesi wawancara berlangsung. Mereka adalah penghuni kost yang kelihatannya hangat.

       "Babeh, Bryan pulang malem. Ada yang rental sampe malem, Lumayan dapet uang tip."
       "Iya, Bawa aja kunci cadangan dibawah taplak deket kulkas."

       Narendra merasa ia akan betah berada disini. Semua orang memperlakukan dan diperlakukan dengan baik. Rasa takutnya diawal tadi seketika lenyap. Dirinya tak sabar untuk berkenalan dengan penghuni kost yang lain.

Jangan lupa vote sebelum lanjut membaca, Happy reading guys!!!!

      

      
  

DIBAWAH ATAP KOST (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang