"Kenan, Papa minta kita putus. Papa pengen aku ngejalanin hubungan dengan laki laki yang sama sama islam."
Kenan menatap Nayara lekat lekat. Sudah tiba saatnya bagi ia dan gadis itu berpisah. Mereka berdua sama sama tahu akhir ceritanya namun tetap nekat berjalan beriringan.
"Iya, Ikutin kata papa mu aja Nay. Toh aku juga ngga akan pernah bisa jadi imam sholat buat kamu. Maaf ya, Sampe sini aja." Ucap Kenan, Sebisa mungkin ia mencoba agar suaranya terdengar tegar didepan Nayara yang tangisnya pecah.
Hari ini, Kenan dan Nayara resmi berpisah setelah menjalin hubungan sejak SMA. Semesta merestui mereka, Tapi tidak dengan Tuhan. Kenan yang tak akan menggenggam tasbih, Terpaksa dipukul mundur oleh kenyataan. Hal ini menyakiti mereka berdua, Namun apa daya Istiqlal dan Katedral hanya ditakdirkan beriringan tanpa pernah bersatu.
●●●
Setelah pertemuan terakhirnya dengan Nayara, Kenan memutuskan untuk pulang ke kost. Ia butuh teman temannya untuk bercerita dan meluapkan kesedihannya.
"Kata papa, Kita masih boleh temenan. Kenan jangan lupa main ke rumah ya, Papa butuh temen main catur."
Ucapan Nayara masih terngiang di kepala Kenan bahkan setelah dirinya tiba di kost. Ucapan yang jelas jelas hanya sebuah basa basi untuk menenangkan dirinya.
"Ken, Lemes amat lo kaya abis diputusin." Theo menyapa Kenan yang berjalan melewatinya.
"Emang abis putus." Jawab Kenan singkat. Semua mata tertuju padanya, Terkejut mendengar pengakuan Kenan.
"Serius lo bang? Putus sama si Nayara Nayara itu? Wah gila sih." Panji menggeleng tak percaya.
Seisi kost lantas berkumpul dan membentuk lingkaran untuk mendengar cerita Kenan.
"Bokapnya nyuruh kita putus." Ucap Kenan.
"Gue tau Nayara mau dijodohin sama orang lain. Rasanya sakit banget guys padahal gue tau ini bakal terjadi. Gue udah sayang banget sama dia, Masa disuruh putus cuma gara gara beda agama." Sambungnya.
Nando yang biasanya mengejek Kenan, Kini hanya bisa terdiam dan menepuk punggung laki laki itu untuk menenangkannya.
"Bang Kenan, Beda agama itu ngga bisa didahului dengan kata cuma. Sangkut pautnya sama Tuhan. Kalian berdua sama sama religius, Ngga ada yang mau ngalah." Panji menimpali. Dari awal ia menempati kost Babeh Guntur, Pasangan pertama yang ia kenal adalah Kenan dan Nayara.
●●●
Matahari memancarkan cahaya pagi nya yang hangat, Mengintip dari sela sela jendela dan memaksa Kenan untuk membuka matanya. Laki laki itu terbangun dengan mata yang sedikit bengkak, Rupanya ia menangis semalam suntuk.
"Kenan." Seseorang memanggilnya, Orang itu adalah Gibran yang tersenyum membawa roti panggang.
"Kak Theo yang bikin, Buat lo katanya." Ucap Gibran sembari menyerahkan sepiring roti panggang.
Sementara Kenan hanya tersenyum dan menerimanya. Ia terlihat kehilangan nafsu makan.
"Lo ada kelas pagi kan? Jangan lupa dimakan." Tak seperti biasanya, Kali ini Gibran lebih ramah dan peduli.
Kenan berjalan gontai menuju ruang tengah dan mendapati anak anak lain sedang menikmati sarapan buatan Theo.
"Theo jago juga masaknya, Kenapa ngga jadi chef aja?" Ujar Julio.
"Gue masih mau jadi atlet renang."
Seketika itu seisi ruangan menjadi sunyi. Ada mimpi yang tak tergapai namun masih didambakan. Kenan pun agak tersentil. Ia tak seharusnya merasa paling terpuruk. Didekatnya ada orang yang bukan hanya patah kaki, Namun patah hati, Harapan dan Cita cita.
Suasana menjadi haru saat Kenan menghampiri Theo dan mendekapnya. Ia merasa bersalah telah bertingkah paling jatuh padahal ada yang jauh lebih jatuh darinya.
"Lo pasti bisa jadi orang sukses sekalipun lo ngga jadi atlet, Kita ada buat lo The." Bisiknya pada Theo. Mendengar itu Theo yang masih bingung hanya tersenyum dan mengangguk.
"Lo juga, Lo pasti bisa bersatu dengan seseorang yang jauh lebih baik." Kenan tersenyum, Paginya menjadi lebih baik berkat orang orang disekitarnya.
Haiiii jangan lupa vote sebelum lanjut membaca ya, Happy reading<33
KAMU SEDANG MEMBACA
DIBAWAH ATAP KOST (END)
FanfictionBercerita tentang sekelompok pemuda yang memutuskan untuk menempati rumah kost milik Babeh Guntur. Kost Babeh Guntur bukan hanya tempat menginap, Disini masing masing penghuninya mendapat pelajaran yang tak akan pernah terlupakan.
