|SELAMAT DATANG DI CERITA WAFISKA|
|GAK BERAT. RINGAN AJA|
*DONT COPY MY STORY*
Pertama, Wafiska Zaferion. Hasil peranakan Cina-Indo. Cucu tunggal kesayangan pengusaha berlian dan batu bara yang sangat terkenal. Kehidupan cowok bernama Wafi selalu d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
HAI
SIMPEL AJA
JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT
LOPE YOU
SEMOGA SUKA
AAMIIN
***
9. PURA-PURA KUAT
Sepulangnya dari sekolah, Wafi langsung pulang tanpa nongkrong terlebih dahulu. Saat sampai di ruang tamu, dia berpapasan dengan Teratai dan Baron yang sedang membicarakam sesuatu.
Tanpa banyak kata, ia melemparkan amplop berisi surat panggilan orang tua dari sekolahan, tepat didepan Teratai dan Baron.
Setelah itu dia berjalan tergesa-gesa kedalam kamar nya, bunyi debuman terdengar saat Wafi membanting semua yang ada dikamar nya. Dia merasa kesal karena perkelahian nya dengan Garda belum tuntas, Wafi tidak puas jika belum membuat orang yang berani melawan nya koma atau patah tulang.
"Bangsat! Liat aja nanti lo Garda. Abis lo sama gue!" kesal Wafi.
Belum lagi dia mendapatkan hukuman panggilan orang tua. Entah sudah keberapa kali nya, Teratai bolak-balik datang memenuhi panggilan sekolah atas ulah Wafi diluar batas.
Namun, disela kemarahan nya. Suara merdu bunda nya terdengar. "Wafi, Bunda boleh masuk?" ijin Teratai.
"Hmm."
Perlahan Teratai membuka knop pintu kamar Wafi. Dia menampilkan senyum, meskipun dalam hati ia sedikit terkejut akan tatanan kamar Wafi yang sudah tak beraturan.
Teratai membawa segelas susu rasa coklat kesukaan Wafi waktu kecil. "Kamu kenapa? Ini minum dulu."
"Susu coklat?" tanya Wafi heran.
"Iya, duduk sini. Bunda mau bicara sama kamu." Teratai menuntun Wafi duduk ditepi ranjang. Tangan nya membelai rambut kepala Wafi, memberikan ketenangan pada anak nya.
"Dapet panggilan sekolah lagi. Kali ini kenapa lagi. Bikin koma? Atau patahin tulang?" tutur Teratai lembut.
Ada tipe orang, jika sedang marah jangan di marahi balik. Yaitulah Wafi.
"Belum selesai bikin koma. Guru datang." rajuk Wafi seperti anak kecil.
Teratai terkekeh sambil menyeka sudut air di mata nya. "Kamu tahu, waktu kecil kamu takut banget buat nyakitin hati orang. Bahkan kamu bakalan nangis hanya karena gak sengaja buat Kakek dan Papa mu marah."
"Tapi sekarang kamu sudah besar. Wafi kecil Bunda yang baik dulu udah gaada, ada nya kini Wafi nya Bunda yang suka menyakiti orang."
Seketika Wafi merasa bersalah, dia memeluk pinggang Teratai dengan erat. "Maafkan Wafi, Bun."