Mobil terparkir di parkiran bawah tanah, bergabung dengan mobil-mobil yang lain. Eren dan Levi keluar. Levi menarik kopernya dan mengikuti Eren ke lift. Mereka memasuki lift dan naik ke lantai paling atas.
Levi melepas genggamannya pada koper. Seketika Eren menariknya ke dalam pelukan. Bibir Levi menjadi sasaran bibir Eren. Levi melingkarkan kedua tangannya pada leher Eren lalu memiringkan kepalanya. Eren menekan bibirnya saat memasukkan lidah ke mulut Levi. Lidah mereka beradu dengan mulut Levi sedikit terbuka. Liur mengalir membasahi dagu Levi. Ciuman mereka semakin menuntut. Dalam hati Eren berharap lift tidak berhenti sebelum sampai ke lantai unit apartemennya.
Eren merendahkan tubuh. Tangannya menyelinap ke balik lutut Levi dan menarik keduanya bersamaan. Reflek Levi melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Eren. Rambut Eren diremas saat Eren menggelitik langit-langit mulutnya. Ini geli dan nikmat. Levi sangat menikmatinya.
Pintu lift terbuka. Eren melepas ciuman dan menatap Levi lekat. "Kau bisa menggenggam kopernya?" Levi menurunkan tangan kanan dan menyentuh gagang kopernya. Ia mengangguk. "Bagus." Eren kembali meraup bibir Levi dan berjalan keluar. Mereka melewati dua unit apartemen dan berhenti di ujung. Eren merogoh celananya dan mengeluarkan kartu kunci. Mereka masuk setelah terdengar pintu berbunyi. Pintu ditutup, Levi langsung membiarkan kopernya di depan pintu sementara Eren membawanya ke sofa ruang tamu. Tubuh Levi direbahkan di sana.
Ciuman terlepas. Levi langsung mengatur nafasnya. Saku jaket Eren bergetar. Eren mengambil ponselnya dan mematap datar panggilan masuk yang berasal dari Historia. Panggilan dijawab.
"Halo?"
"Eren, apa kau masih lama?" Terdengar nada khawatir dari sana.
"Sebenarnya masih agak lama." Eren menunduk dan menatap Levi. Ia mengusap lelehan saliva yang berasal dari mulut Levi dengan jempolnya. "Ada apa?"
"Ini sudah malam. Aku khawatir terjadi sesuatu karena kau tidak cepat sampai."
"Yah, sedikit macet tadi. Aku hampir memasuki Trost."
"Ya, sudah. Hati-hati!"
Panggilan diputus. Eren meletakkan ponselnya di atas meja kopi. Ia mengurung tubuh Levi di bawahnya.
"Tadi itu istrimu?"
"Yah, begitulah."
"Dia terdengar khawatir." Levi mengerutkan keningnya.
"Dia memang seperti itu." Eren menunduk. Ia mengecup rahang Levi.
Levi mendongak. "Kau baru saja berbohong kepadanya."
"Memang." Eren menurunkan kecupannya pada leher Levi.
"Eren, dia khawatir padamu. Lebih baik kau pulang."
"Ini apartemenku. Aku sudah di rumah."
"Maksudku ke rumah yang ada Historia."
"Nanti saja."
"Eren!"
Eren mendongak. Levi menggigit bibirnya. Ia memalingkan wajah. Eren menghela nafas pelan. "Baiklah. Aku pulang dulu."
"Terima kasih."
Eren beranjak. Ia berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, Eren keluar dan menghampiri Levi. "Jaga dirimu. Aku akan menjemputmu besok pukul 7 pagi. Kita akan berangkat bersama pukul 8 tepat."
Levi mengangguk. Omega tersebut mengantar alphanya ke pintu apartemen. Levi memperhatikan Eren yang berjalan masuk ke lift. Mereka melambaikan tangan.
Setelah lift membawa Eren turun, Levi menutup pintu apartemen. Hatinya terasa sangat berat. Levi sangat mencintai Eren, Eren juga masih mencintainya. Tapi keadaan Eren yang sudah beristri menjadi penghalang besar untuk mereka —tidak. Kehadiran Levi menjadi awal kehancuran hubungan rumah tangga Eren dan Historia yang dari awal sudah retak. Posisi Levi sangat beresiko di sini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Separated Hearts
FanfictionEren berusaha menolak perjodohan paksa yang dilakukan ayahnya demi Levi. Rupanya Levi juga sudah dijodohkan dan dia tidak mampu menolak keinginan orang tuanya. Bagaimana jadinya nasib keduanya di kemudian hari?