Anak sakit, Jungkook pasti akan sangat pusing dan khawatir. Akan tetapi, jika sang istri yang sakit, maka rasa pusing Jungkook akan berkali lipat lebih banyak. Dan tentu saja, ada sedikit kekhawatiran meskipun tidak sebesar saat anaknya sakit.
Maka dari itu, saat ini Jungkook hanya melakukan sarapan bersama Gukie sebab Gail masih tertidur di sebelah Jihye.
Gail mendadak masuk ke dalam kamar pukul 2 pagi. Anak itu naik ke atas kasur dan tidur di tengah-tengah Jihye serta Jungkook. Sementara Gukie harus bangun pagi lantaran Gukie pergi ke sekolah.
Yang memasak sarapan hari ini tetaplah Jihye. Meskipun hanya memasak satu menu masakan, tapi Jungkook sangat menghargai itu. Bahkan sekali pun Jihye tidak masak, sangat tidak masalah untuk Jungkook karena pria itu tahu Jihye sedang sakit.
Ah, Jihye benar-benar istri terbaik yang pernah ada. Tak berhenti Jungkook berucap syukur karena Jihye selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya dan anak-anak kendati Jungkook tidak memaksakan hal itu.
Pagi ini sebelum membangunkan Jungkook, Jihye lebih dulu memasak. Kemudian wanita Park itu berkata pada Jungkook bahwa ia sedang sakit dan tak bisa mendampingi sarapan hari ini.
Dalam keadaan sakit pun, Jihye tetap melakukan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri.
“Enak, Hyungie?” tanya Jungkook seraya menatap Gukie yang tengah melahap sarapannya dalam diam. Gukie hanya mengangguk seraya mengacungkan satu ibu jarinya, membuat Jungkook mengulas senyum manis dan mengusap puncak kepala sang putra. “Sebelum berangkat ke sekolah, peluk dan cium mommy lebih dulu, oke? Bilang terima kasih ke mommy karena sudah memasak sarapan yang enak untuk Goo dan Daddy.”
Gukie kemudian mendongak. Dengan mulutnya yang penuh, Gukie melempar pertanyaan, “Why?”
“Mommy sedang sakit, tapi mommy masih bisa memasak makanan lezat untuk Goo dan Daddy,” sahut Jungkook menjelaskan.
Gukie pun mengangguk paham. “I love mommy sooo much!” seru anak itu. Akan tetapi, Gukie mengerucutkan bibir bawahnya dengan kedua bahu merosot turun sebelum isak tangisnya terdengar.
“Hei, kenapa menangis? Pedas ya?” tanya Jungkook sedikit panik. Pria itu menepuk punggung putranya untuk menenangkan, kemudian menatap Gukie yang tetap menangis. “Kenapa, Hyungie?”
“Kasihan mommy—hiks. Mommy pasti lelah karena mengurus baby Gyeom dan Iyel,” sahut Gukie. “Kemarin Goo juga nakal karena tidak mau membantu mommy merapikan ruang bermain.”
Tangisan Gukie semakin pecah, membuat Jungkook lekas memindahkan sang putra ke atas pangkuannya dan segera dipeluk. Pria itu sejenak terkekeh karena gemas. Rupanya Gukie sangat khawatir akan keadaan sang ibu.
“Mommy baik-baik saja, Hyungie. Mommy hanya sedang demam. Tidak apa-apa. Mommy pasti akan sembuh nanti.”
“Tapi karena Goo, mommy jadi sakit—huwaaa ...”
Jungkook terkekeh lagi. Gukie jarang sekali menangis. Terlebih setelah Gukie sudah memasuki bangku sekolah dasar seperti ini. Gemas. Jungkook benar-benar bersyukur memiliki anak yang pintar dan sangat menyayangi orang tuanya seperti Gukie. Jungkook tahu, Gail dan Gyeom pun pasti akan menjadi seperti Gukie jika mereka sudah mengerti kondisi dan keadaan sekitar.
“Tidak. Bukan karena Goo Hyung,” sahut Jungkook menenangkan. “Mommy sakit karena Mommy tidak menjaga kesehatan, Goo. Nanti setelah pulang sekolah, kita bawa mommy ke dokter, ya?” Gukie mengangguk dengan bibir masih mengerucut. “Kalau begitu, sekarang Goo harus kembali menghabiskan makanannya. Sebentar lagi, Goo akan berangkat ke sekolah. Don’t cry. Harus selalu tersenyum saat pagi hari.”
KAMU SEDANG MEMBACA
EUPHORIA
FanfictionPunya suami macam Jeon Jungkook saja sudah membuat Park Jihye geleng kepala manakala mengingat pria jangkung itu merengek minta dipeluk. Lalu, apa jadinya jika si Jeon kecil ikut-ikut merengek dan membuatnya pening tujuh keliling? "Mommy ... Goo men...
