DUA PULUH SATU - DADDY YANG POSESIF

20.2K 1.6K 98
                                        

Bangun pukul sembilan pagi, manik Jungkook lekas menemukan sang istri yang berada di balkon kamar masih mengenakan gaun tidur yang kemarin malam dikenakan—berbeda dengan Gail yang telah mengganti pakaian sebab Jihye memandikannya sejak tiga jam lalu.

Hatinya berdenyut nyeri. Merasa bersalah dan menyesal setelah membentak Jihye kemarin malam dan mengabaikan sang istri begitu saja.

Jungkook meraup wajah berminyaknya. Turun dari ranjang, kemudian menghampiri Jihye yang tengah berusaha menidurkan Gail.

Mencoba mengintip dari balik punggung Jihye dan menemukan bahwa Gail sebentar lagi terlelap dalam gendongan sang ibu, Jungkook langsung memeluk dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu sang istri—membuat wanita itu terkejut dan hendak menyingkir dari lantai balkon.

Namun, Jungkook mencegahnya. “Belum tidur?” tanya Jungkook dengan suara khas bangun tidur. Jihye hanya menggeleng sebagai jawaban. Wanita Park itu masih teramat kesal dengan suaminya.

“Itu Iyel sudah tidur.” Jungkook melirik ke arah Jihye yang enggan menatapnya.

Jihye kemudian menyingkir, membuat pelukan nyaman itu terlepas. “Mandi sana,” katanya menyuruh Jungkook untuk cepat-cepat mandi. “Dua jam lagi lomba mewarnai di sekolah Gukie. Bangunkan Goo dan ajak mandi sekalian.”

Jungkook hanya dapat mengangguk tanpa bantahan sambil menatap istrinya yang berlalu meninggalkannya—ia juga sadar akan kesalahannya. Tidak semestinya ia berbicara kasar tanpa kepala dingin seperti kemarin malam.

Sementara Jungkook keluar kamar untuk membangunkan Gukie, Jihye kini perlahan memasukkan Gail ke dalam baby box.

Membasuh wajahnya sejenak dan menggosok gigi, Jihye lalu berjalan menuju dapur untuk masak menu sarapan Minggu ini.

Mengeluarkan dada ayam, wortel, brokoli, bayam, dan telur dari dalam lemari pendingin. Kemudian mulai memotong sayuran serta daging, juga bawang putih.

Di tengah Jihye memasak, fokusnya mendadak diganggu manakala sesuatu memeluk erat perutnya.

Jungkook dan Gukie. Keduanya sama-sama memeluk dari arah belakang dan depan; memenjarakan Jihye seakan wanita itu tak boleh pergi.

Gukie susah payah mendongak sebab wajahnya hanya dapat mencapai perut rata sang ibu.

Mommy ...” Jihye menunduk dan tak menghiraukan kepala Jungkook di ceruk lehernya. “Goo mau minta maaf,” ujarnya pelan.

Jihye melepas sejenak lengan kekar sang suami dan mengangkat Gukie ke dalam gendongan dengan susah payah akibat berat badan anak sulungnya itu yang bertambah tiap bulannya.

Menyeka air mata buntalan kecilnya sebelum lengan Gukie memeluk erat leher Jihye dan menggeser keberadaan Jungkook yang sedang menikmati aroma feromon sang istri, Jihye kemudian tersenyum.

Mom kan sudah bilang ... jangan sentuh-sentuh Iyel kalau baby sedang tidur. Kalau sudah bangun, Gukie bisa cium sepuasnya.” Jihye mengaduk supnya. “Cup ... cup ... Jagoan Mommy tidak boleh menangis,” ujarnya menenangkan.

Karena tidak sanggup menggendong Gukie lebih lama, Jihye menurunkan Gukie ke atas pantri.

Daddy juga minta maaf, ya, Mommy?” timpal Jungkook tiba-tiba. Pria Jeon itu sontak memeluk istrinya lagi dari belakang. Melirik Gukie yang tengah mengeringkan wajah dengan punggung tangan.

Hm,” Jihye hanya berdeham sebagai respons.

Hyung, mommy tidak mau memaafkan Daddy. Harus diapakan, Hyung?”

EUPHORIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang