ENAM PULUH LIMA - GYEOM MASIH SAKIT

7.3K 947 63
                                        

Jeon Gyeom masih menangis. Bahkan anak itu berulang kali menangis hingga membuat Jihye hanya mendapatkan tidur sebanyak 3 jam setiap harinya.

Jika Gyeom menangis tengah malam, biasanya Jihye akan membawa sang putra ke balkon atau ke lantai dasar untuk ditenangkan.

Sedikit kesulitan karena Gyeom selalu menolak segala macam obat yang masuk ke dalam mulutnya.

Namun, hal itu tidak membuat Jihye menyerah begitu saja. Meskipun Gyeom memuntahkan obat-obatan yang diberikan, tapi Jihye sangat sabar menenangkan sang putra yang menangis.

Jihye akan terus mencoba untuk memasukkan obat hingga Gyeom menelannya. Tapi usahanya memang selalu gagal selama tiga hari terakhir ini.

Gukie dan Gail pun dilarang untuk mendekat serta masuk ke dalam kamar sebab Jihye tidak mau kedua anaknya yang lain tertular penyakit Gyeom.

Tentu saja hal itu akan merepotkan Jihye. Mengingat bagaimana sulitnya Jihye mengurus anak-anak sendirian.

Gyeom sudah sangat menguras tenaga Jihye selama empat hari ini. Bayangkan saja jika Gukie dan Gail tertular. Jihye pasti akan sangat kewalahan.

Mengandalkan sang suami? Bukannya merasa dibantu, Jihye justru merasa Jungkook hanya akan membuatnya semakin kesulitan. Terlebih lagi, sang suami adalah orang yang tidak sabaran sementara anak-anak Jihye akan selalu menangis saat merasakan sakit.

Sebagai pencegahan, Jihye pun membagi tugas dengan Jungkook.

Wanita itu mengurus Gyeom, sedangkan Jungkook mengurus Gukie dan Gail yang sehat. Ini sedikit memudahkan Jihye karena ia tidak perlu mengurus anak-anak sambil menggendong Gyeom yang tidak bisa ditinggal olehnya.

Jihye tidak benar-benar melepaskan anak-anaknya seratus persen. Jihye masih memasak untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.

Ia pun masih menyiapkan seragam dan bekal sekolah untuk kedua anaknya. Apa yang bisa Jihye tangani, maka Jihye akan melakukannya sendiri tanpa bantuan Jungkook.

Apalagi ia dan Jungkook masih juga belum saling bicara.

Jungkook tetap tidak mau memulai pembicaraan. Tiap kali Jihye melempar tanya atau mengajak Jungkook untuk mengobrol, Jungkook hanya membalas singkat dan seadanya.

Jihye memakluminya.

Sang suami memang seperti itu. Watak keras kepala Jungkook tidak bisa diubah oleh siapa pun selain dirinya sendiri.

Maka dari itu, ibu mertua Jihye pernah mengatakan bahwa hanya Jihye yang bisa menaklukkan Jungkook. Dan hanya Jihye pula yang selalu sabar menghadapi sikap keras kepala pria Jeon tersebut.

Jika Jungkook menikahi wanita lain, mungkin saja rumah tangga pria itu tidak akan berjalan selama ini. Apalagi beberapa tahun terakhir di mana banyak sekali kasus perceraian karena ketidakcocokan dan lain sebagainya.

Jihye hanya berdoa agar anak-anaknya tidak memiliki sifat keras kepala seperti yang ayahnya punya.

Gyeom baru saja menangis. Sementara jam sudah menunjuk angka 3 pagi.

Awalnya Jihye pikir ia bisa istirahat lebih lama karena Gyeom sudah mulai mau makan dan minum dengan baik. Tapi perkiraan Jihye salah.

Badan Gyeom kembali panas—mungkin Jihye akan kembali ke dokter siang ini.

Tangisan nyaring itu agaknya mampu membuat Jungkook terbangun. Padahal Jihye sudah membawa Gyeom ke lantai dasar dan berada di ruang tengah agar Jungkook serta kedua anaknya tidak terganggu dengan tangisan Gyeom.

Jungkook keluar dari dalam kamar. Melangkah turun tanpa kaosnya, kemudian segera melangkah mendekati Jihye.

Pria itu menyentuh kening Gyeom untuk mengecek suhu tubuh sang putra. Lantas Jungkook mengusap punggung Gyeom sebelum duduk di sebelah Jihye.

EUPHORIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang