DUA PULUH TUJUH - LIBUR KARENA VIRUS

15.3K 1.5K 95
                                        

 Pukul tujuh pagi Jihye terbangun saat alarm pada ponsel yang ia letakkan di atas nakas mulai berdering dan mengganggu tidur lelapnya.

Wanita itu terdiam sejenak di atas ranjangnya untuk mengumpulkan tenaga yang sempat hilang saat ia tengah tertidur. Di sampingnya, Jungkook tengah memeluknya sampai membuat Jihye tak dapat bergerak bebas.

Jihye menoleh ke arah kiri; tepat di mana Jungkook tertidur begitu nyenyak. Bibir pria itu terbuka, mendorong Jihye untuk berlaku usil dengan menarik dagu pria itu sehingga bibir Jungkook terbuka kian lebar.

Jungkook menggeliat kecil dan berdecak. Lalu Jihye menyusul dengan kekehan ringan. "Lepas dulu ... aku harus menyiapkan sarapan," bisiknya kemudian dituruti oleh Jungkook.

Jangan tanya kenapa Jihye baru terbangun pukul tujuh pagi. Padahal biasanya wanita itu akan terbangun pukul lima pagi dan mulai bersiap-siap untuk memasak.

Sekolah Gukie diliburkan sementara Jungkook mengarantina dirinya sendiri selama Korea Selatan masih diselimuti kepanikan oleh virus yang sedang menyebar. Bibi Han pun ikut diliburkan atas keputusan Jungkook dan Jihye sebab untuk kebaikan keluarganya juga Bibi Han sendiri.

Menuruni ranjang, Jihye kemudian membasuh wajahnya dan buru-buru pergi ke dapur untuk memasak.

Seperti biasanya. Sayur-sayuran tidak akan pernah tertinggal dalam masakannya selama menikah dengan Jungkook. Pun pria itu juga sangat amat menilai tampilan dan isi pada menu makanan yang selalu Jihye siapkan.

Di tengah-tengah dirinya sibuk memasukkan beberapa sayuran hijau ke dalam panci berisi kaldu ayam yang sudah mendidih, gaun tidurnya mendadak ditarik oleh buntalan kecilnya yang fokus mengucek sebelah mata yang masih berat.

Gukie memanyunkan bibir seraya menatap sang ibu memohon—seolah meminta untuk digendong dan ditidurkan lagi. Mengacak surai anaknya, Jihye lekas merunduk dan mengecup kening Gukie.

"Tidur dengan daddy sana, Goo. Mommy sedang memasak," katanya lembut. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap lembut pipi bulat Gukie. "Ayo, cepat ... nanti siang tidur dengan Mommy."

Gukie menggeleng dan mengudarakan kedua lengannya seakan meminta untuk buru-buru digendong. Jihye kemudian menghela napas dalam sebelum membawa tubuh berat anaknya ke dalam gendongan.

"Tidak kasihan pada Mommy, ya?" tanyanya saat Gukie meletakkan kepala di bahu sang ibu, sementara kedua lengannya kini memeluk leher Jihye erat sambil memejamkan mata. Gukie menggeleng tanpa merasa bersalah setelahnya.

Pada akhirnya, Jihye terpaksa memasak sambil menggendong anaknya. Setidaknya, usai masakan pertamanya selesai, ia bisa memindahkan Gukie ke dalam kamar untuk ikut bergabung tidur bersama Jungkook.

"Mommy, tadi Goo mimpi dapat mainan mobil," tutur anak itu tiba-tiba.

Jihye mengangguk dan bertanya seakan-akan tengah terkejut, "Benarkah?"

Gukie menjawab dengan anggukan, tapi kedua mata bulatnya tetap setia mengatup rapat. "Goo jadi mau beli mainan mobil yang banyak," lanjut Jeon kecil tersebut.

Jihye memutar bola mata sebelum terkekeh gemas. "Goo 'kan sudah banyak mainan. Sudah penuh, tidak punya tempat lagi."

Gukie mendadak menyingkap mata kendatipun hanya beberapa detik. "Daddy 'kan bisa beli tempat lagi yang besar."

"Iya, besok beli kalau sudah boleh keluar rumah. Sekarang pintu rumahnya tidak bisa dibuka," alibinya kemudian.

"Tapi kemarin Goo bisa buka," jawab anaknya mengingat kejadian kemarin sore saat ia menyaksikan hujan deras di teras rumah bersama sang ayah.

EUPHORIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang