Setelah Gukie meminjam ponsel Jihye untuk melihat acara anak-anak yang tengah memakan banyak ayam goreng krispi, Gukie langsung merengek ingin dimasakkan dan ikut membantu di dapur.
Sayangnya, di dapur tidak menyimpan daging ayam dan mengharuskan kini ketiga manusia itu berada di dalam supermarket.
Gukie sempat merajuk karena sang ayah belum juga pulang dari kantor, dan Jihye terus menegaskan bahwa Jungkook tidak pernah memberi izin keluar tanpa dirinya.
Beruntung karena Jungkook tidak ada rapat dan bisa pulang secepatnya untuk menemani sang istri dan buntalan kecilnya.
“Dad cokelat selainya sudah habis.” Gukie yang berada di gendongan sang ayah menunjuk rak bagian selai.
Mengerti maksud sang anak, Jungkook segera menghampiri rak tersebut dan mengambil dua selai cokelat dan tiga sela kacang untuknya.
Jungkook sempat membaca kandungan pada selai kacang yang ia ambil sebab selai kacang yang biasa ia beli tidak ada di rak tersebut.
“Di mana mom, Hyung?” Gukie mengedikkan bahu dan menelusupkan kepalanya pada ceruk leher sang ayah karena bosan.
Gukie itu berat. Baru berusia lima tahun saja berat badannya sudah mencapai 20 kilo. Sang ayah mulai lelah, juga tubuh Gukie yang terus saja melorot dari gendongannya.
Sembari mendorong troli, Jungkook memanggil, “Hyung ...?” Gukie hanya merespons dengan gumaman kecil. Lalu Jungkook membuang napas pelan—yakin bahwa anaknya kini tengah tertidur. “Duduk di troli saja, ya? Goo kan berat. Daddy sudah tidak kuat lagi.”
Gukie menggeleng, sontak mengeratkan lengannya pada leher sang ayah—membuat Jungkook lagi-lagi membuang napas kesal.
Baru mendorong troli sejauh tiga meter, Jihye muncul dari belakang sambil mengusap punggung suaminya lembut. “Sejak kapan tidurnya?” tanyanya kemudian hendak mengambil alih Gukie, tetapi Jungkook lebih dulu menahan.
“Baru saja,” jawabnya. “Kau bawa troli saja, biar aku yang gendong Goo.”
Menyusuri rak demi rak bersama, kepala Jihye dan Jungkook tak henti menhadap kiri dan kanan untuk melihat produk yang berjajar rapi.
“Susu proteinnya masih?” Jihye mendongak untuk menatap sang suami, dibalas anggukan, lalu berjalan lagi. “Oatmeal?”
“Ambil saja.” Jihye kini gantian mengangguk dan berjongkok sejenak untuk mengambil oatmeal. Hendak berdiri, Jungkook bersuara lagi, “Ambilkan juga untuk Gukie. Pasti nanti merengek kalau tidak dibelikan.”
Mereka berjalan lagi berdampingan, kemudian Jihye memeluk lengan kiri sang suami. “Tidak mau gantian? Atau bawa pulang Goo dulu?”
“Tidak perlu. Nanti kalau masuk mobil pasti bangun,” jawabnya. “Sudah ambil ayam?”
“Tidak ada bagian dada. Cari di supermarket lain saja.”
Jungkook mendengus. “Kenapa tidak bilang sejak tadi, sih? Tahu begitu kita pindah supermarket.”
Keluarga kecil ini memang mengutamakan hidup sehat. Apalagi Jungkook yang mengharuskan sayur dan serat dalam menu sarapan hingga makan malam sehari-hari. Wajar saja jika Jihye memilih untuk tidak mengambil daging ayam selain dada.
“Lupa. Tadi aku bertemu dengan Taehyung dan Seolbi. Berbincang sebentar, makanya lupa,” jelas Jihye lantas melempar cengiran kecil.
Berdecak, Jungkook lekas menanggapi, “Kau selalu begitu kalau bertemu mantan.” Spontan Jihye memukul lengan suaminya—membuat Jungkook terkekeh kecil. “Sudah punya Gukie masih saja jelalatan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
EUPHORIA
Fiksi PenggemarPunya suami macam Jeon Jungkook saja sudah membuat Park Jihye geleng kepala manakala mengingat pria jangkung itu merengek minta dipeluk. Lalu, apa jadinya jika si Jeon kecil ikut-ikut merengek dan membuatnya pening tujuh keliling? "Mommy ... Goo men...
